Ketika Kualitas & Mental Berbicara Untuk Italia

Italia mungkin jadi tim yang paling kompak, paling terorganisir, dan paling cerdas secara taktikal di Euro 2016, tapi itu saja ternyata masih belum cukup.

Euro 2016 berlangsung dan Italia tampak tidak menyambutnya dengan nyaman. Meski berstatus runner-up di gelaran musim lalu, La Nazionale begitu terseok di babak kualifikasi, tak brilian di laga uji coba, dan yang lebih menyedihkan adalah mereka yang diperkuat oleh skuat kering kualitas.

Diawali oleh cederanya dua pilar lini tengah yang punya nama mentereng di sepakbola Eropa, Marco Verratti dan Claudio Marchisio, akibat cedera. Pelatih Italia, Antonio Conte, lantas memutuskan untuk tak membawa maestro lawas timnya, Andrea Pirlo. Sang allenatore lebih memilih nama-nama yang punya etos kerja tinggi, mengesampingkan kualitas skill dan nama besar.

“Saya bisa katakan bahwa mungkin ini adalah skuat paling tidak bersinar di timnas Italia. Saya tak menyebutnya yang terburuk, tapi saya selalu melihat yang lebih baik dari ini,” ungkap mantan bomber Italia, Gianluca Vialli, dalam analisisnya di ITV.

Karenanya tak heran jika pada awal kompetisi Italia tenggelam di antara tim-tim seperti Inggris yang begitu diagungkan media, juara bertahan Euro dua edisi terakhir Spanyol, juara dunia Jerman, tuan rumah Prancis, bahkan Belgia dengan generasi emasnya.

Apa yang kemudian ditunjukkan Italia ketika turnamen berlangsung, sungguh di luar prediksi awal. Di bawah komando Conte, Gianluig Buffon cs menjelma jadi tim yang begitu menyatu. Mereka jadi tim yang bisa dibilang paling kompak, paling terorganisir, dan paling cerdas secara taktikal.

Tiga faktor tersebut dirajut begitu sempuruna, sebagai modal yang digunakan untuk menghapus fakta bahwa sang juara dunia empat kali kini tak diperkuat oleh skuat yang berkualitas dan berpengalaman.

Italia berhasil menang di laga perdana melawan generasi emas Belgia, lewat organisasi permainan brilian yang didasari oleh filosofi catenaccio. Mereka lantas memastikan keluar sebagai juara grup di laga kedua kontra Swedia, melalui kekompakan luar biasanya meski bermain dengan menjengkelkan.

Paling luar biasa tentu saja balas dendam sempurna Italia pada juara bertahan Euro dua edisi terakhir, Spanyol, di fase perdelapan-final. Gli Azzurri dengan kesatuan timnya yang luar biasa, mampu menunjukkan sisi lainnya yang rupawan untuk rengkuh tiket ke babak perempat-final, sekaligus membalas dendam kekalahan menyakitkan di final Euro 2012 lalu. Pelan-pelan mereka pun berhasil memenangkan cinta khalayak sepakbola di Euro 2016 ini.

“Italia mampu menunjukkan bahwa dengan kesatuan dan organisasi sempurna, tidak ada hal yang Anda sebut mustahil. Kami bekerja keras, berjuang, dan menang bersama-sama. Kami berlatih dan bermain dengan jiwa,” tutur kapten tim, Gianluigi Buffon, seperti dikutip laman resmi UEFA.

Namun memasuki babak perempat-final, sang juara dunia, Jerman, menunjukkan bahwa sebuah tim harus sempurna untuk jadi juara. Dalam drama yang berlangsung selama 120 menit, Tim Panser menegaskan bahwa mereka adalah tim yang lebih sempurna ketimbang Italia.

Jerman sejatinya serupa dengan Italia. Mereka merupakan tim yang kompak, terorganisasi dengan sangat apik, dan cerdas secara taktikal. Dari masa ke masa Der Panzer tak pernah dikenal sebagai one man team dan mereka melanjutkan tradisi itu hingga detik ini.

Meski begitu, Jerman memilik dua faktor yang saat ini tak hinggap di Italia, yakni kualitas dan mental. Sesuatu yang sudah mereka pupuk dengan begitu tebal sejak kegagalan total di Euro 2004 hingga memuncak di Piala Dunia 2014 lalu. Sesuatu yang mereka bawa utuh di Euro 2016 ini.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Nouveau Stade de Bordeaux itu, Jerman jelas unggul segalanya dibanding Italia. Dengan komposisi pemain bintangnya yang lengkap, mereka menguasai bola secara telak dengan 62 persen, melancarkan 12 usaha serangan, dengan akurasi umpan yang mencapai 87 persen.

Sang pelatih, Joachim Low, bahkan menunjukkan kecerdasan taktikalnya dengan menyalin formasi 3-5-2 andalan Conte, yang membuat Italia selalu kebingungan dan tak berani mengambil risiko seperti biasanya, ketika membangun serangan. Nationalmannschaft mengepung La Nazionale saat menyerang, juga ketika bertahan.

Mental juara kemudian jadi pembeda besar yang membuat Italia tak lagi sanggup mempertahankan kutukannya atas Jerman, tatkala duel harus diakhiri lewat babak adu penalti. Azzurri terlalu percaya diri sebagaimana hal itu terlihat dari eksekusi disertai aksi konyol Simone Zaza dan Graziano Pelle. Mereka akhirnya kalah, seturut fakta bahwa tiga eksekutor Die Mannschaft gagal melaksanakan tugasnya.

“Kami melakukan yang terbaik dan itu nyaris saja cukup. Kami memiliki alasan untuk menangis, karena memberikan begitu banyak hal dan sangat dekat [dengan kemenangan]. Gila berpikir Jerman gagal mengonversi tiga penalti dan ternyata itu masih belum cukup,” ungkap Buffon usai laga, seperti dikutip Rai Sport.

Tangisan pemain sebesar Buffon yang senantiasa melukis senyum di wajahnya adalah tanda bahwa meski naif, Italia sudah berjuang hingga batas terakhirnya. Ya, bagaimanapun mereka sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya, membuat Euro 2016 penuh warna, hingga akhirnya kalah tapi dengan kepala tegak.

Melihat situasi yang terpapar, tak bisa dipungkiri bahwa Italia memang belum layak menggondol trofi Euro untuk kali kedua, namun mereka setidaknya sanggup pulang dengan caranya sendiri. “Saya tegaskan bahwa ini bukanlah selamat tinggal, tapi arrivederci! [selamat tinggal dalam bahasa Italia]” seru Conte, menutup petualangan timnya di Euro 2016.

Masih banyak yang harus dibenahi oleh Italia, utamanya dari segi kualitas dan mental. Dengan modal mengesankan di Euro 2016 ini, segalanya bisa dibentuk secara lebih mudah seiring berjalannya waktu, melalui nakhoda anyarnya Giampiero Ventura.

Tapi sebelum Italia memulai petualangan barunya menuju Piala Dunia 2018, mari kita serukan “arrivederci” untuk apa yang sudah Tim Biru Langit suguhkan di Euro 2016 ini.

Arrivederci Gli Azzurri!

Topics