Ketika Sisi Gelap Juventus Kembali Memakan Korban

Di bawah asuhan Massimiliano Allegri, Juventus makin menegaskan bahwa mereka punya dua identitas berbeda untuk wujudkan hasrat kemenangan.

Untuk kali pertama musim ini, Juventus akhirnya merasakan nikmatnya duduk di singgasana Capolista, pasca memenangi final mini kontra Napoli lewat skor tipis 1-0, dalam lanjutan Serie A Italia giornata 25, Minggu (14/2) dini hari WIB.

Untuk meraihnya, Juve harus melalui laga yang super ketat bahkan baru menentukan kemenangan dua menit jelang kadaluarsanya waktu normal 90 menit. Sang penyerang pengganti, Simone Zaza, jadi pahlawannya lewat gol fantastis yang dibubuhi sedikit keberuntungan karena bola sepakannya terdefleksi Raul Albiol.

Keberuntungan? Ya, sepertinya kata-kata itu yang paling sering muncul dari para pelaku pertandingan ini pasca bentrok.

Zaza memulainya dengan bertutur, "saya beruntung mencetak gol itu." Pelatih Napoli, Maurizio Sarri, juga sepakat dengan menyebut, "pertandingan seimbang dan kami hanya kalah oleh momen yang membuat kami tidak beruntung." Terakhir Lorenzo Insigne berujar, "kami bermain bagus di sini, tapi tak beruntung dan hanya kurang gol."

Dilihat dari cara Zaza mencetak gol, keberuntungan memang tepat menggambarkan kemenangan Juve. Tapi, dari proses pertandingan secara keseluruhan, apa Anda yakin La Vecchia Signora meraih kemenangan ini secara kebetulan?

Mungkin akan lebih adil jika menyebut mereka memasang skenario sedemikian rupa, guna melahirkan keberuntungan di waktu sempurna kematian lawan.

Lantas, mengapa klub adidaya Serie A layaknya Juve butuh cara macam itu untuk raih kemenangan? Jawaban tersebut akan didapatkan, setelah Anda mengenal betul dua identitas yang kini dimiliki I Bianconeri.

Hitam dan putih jadi identitas Juventus

Analogi identitas ganda Juve tepat dihadirkan lewat warna kebesaran klub, yakni hitam dan putih. Identitas yang dimaksud adalah menyoal dua rasa berbeda permainan La Fidanzata d'Italia, sejak dilatih Massimiliano Allegri musim lalu. Musim ini, gradasi warna hitam dan putih ditampilkan secara lebih tegas dan terpisah.

Warna putih mewakilkan identitas permainan Juve ala Antonio Conte dahulu, yang sama-samar masih terasa hingga kini. Ketika itu mereka hanya merasa layak menang, jika bermain ngotot, sanggup menguasai pertandingan, serta bermain super menyerang yang otomatis membuat permainan lebih atraktif.

Gaya permainan macam itu sudah barang tentu menghadirkan sanjungan dari berbagai pihak, karena selain sanggup menghadirkan gelar, tim yang menerapkannya juga berasal dari Italia, yang dikenal dengan sepakbola pragmatis.

Penggantinya, Allegri, mewarisi identitas itu dan melanjutkannya dengan cukup baik. Terlebih di musim perdananya dia memiliki skuat yang 90 persen sama dengan Conte.

Segalanya tampak mudah dan berjalan lancar. Namun ketika cara itu mulai mudah terbaca dan tak lagi menghadirkan hasil positif, inilah titik di mana sang allenatore melahirkan identitas kedua Juve yang lebih gelap.

Juve yang dikenal lewat permainan indah nan menghibur, diubahnya menjadi tim yang jauh lebih bertahan, gemar memperlambat tempo, dan mencetak gol lewat skema serangan balik. Cara pragmatis itu pelan-pelan mulai diterapkan pada penghujung musim lalu, sebagaimana mereka nyaris merengkuh treble winners.

Namun dengan kini komposisi pemain warisan Conte mulai pergi dan harus diakui sedikit menurun secara teknis, sisi gelap atau mewakili identitas hitam Juve makin jelas terlihat.

Apa yang dilakukan Allegri sejatinya merupakan cerminan sejati pelatih khas Italia. Dalam buku karya Gianluca Vialli, The Italian Job, legenda Juve itu memaparkan bahwa mayoritas pelatih di Negeri Pizza diajarkan dan dituntut untuk lebih mengedepankan hasil ketimbang cara bermain.

Itulah mengapa Allegri berani menggandakan identitas Juve menjadi lebih gelap, kendati sebelumnya sudah dibentuk dengan sangat cantik oleh Conte. Ia sadar sepenuhnya bahwa publik Italia dan manajemen klub mematok hasil sebagai harga mati. Jika tidak, sudah jauh-jauh hari pria asal Livorno itu dipecat.

Dengan hukum rimba macam itu, percayalah Allegri tak akan mengalami nasib pemecatan 'hanya' karena tak sesuai filosifi tim, layaknya Derby County yang memecat Paul Clement baru-baru ini, atau yang menghebohkan ketika Real Madrid melengserkan Fabio Capello pada 2007 silam.

GRANDE PARTITA JUVENTUS MUSIM 2015/16 *
No. Tanggal Ajang Lawan Penguasaan bola Jumlah Tembakan Skor akhir
1 8 Agustus 2015 Piala Super Italia 2015 Vs. Lazio (Netral) 41% - 59% 6 - 7 2-0
2 30 Agustus 2015 Serie A Italia Vs. Roma (Tandang) 37% - 63% 10 - 18 1-2
3 16 September 2015 Liga Champions Vs. Manchester City (Tandang) 41% - 59% 10 - 13 2-1
4 27 September 2015 Serie A Italia Vs. Napoli (Tandang) 46% - 54% 12 - 13 1-2
5 19 Oktober 2015 Serie A Italia Vs. FC Internazionale (Tandang) 54% - 46% 15 - 8 0-0
6 22 November 2015 Serie A Italia Vs. AC Milan (Kandang) 55% - 45% 16 - 9 1-0
7 26 November 2015 Liga Champions Vs. Manchester City (Kandang) 41% - 59% 13 - 13 1-0
8 14 Desember 2015 Serie A Italia Vs. Fiorentina (Kandang) 38% - 62% 16 - 6 3-1
9 25 Januari 2016 Serie A Italia Vs. AS Roma (Kandang) 55% - 45% 15 - 5 1-0
10 28 Januari 2016 Coppa Italia Vs. FC Internazionale (Kandang) 43% - 57% 14 - 6 3-0
11 14 Februari 2016 Serie A Italia Vs. Napoli (Kandang) 44% - 56% 13 - 7 1-0

(*): Hingga 15 Februari 2016

Namun bukan berarti Juve lebih kerap menunjukkan identitas hitamnya ketimbang putih. Sisi hitam hanya akan ditampilkan ketika menghadapi partai yang berlabel grande partita (partai besar), baik di level Serie A, Coppa Italia, maupun Liga Champions.

Anda bisa lihat statistiknya dari boks di atas. Utamanya sejak mulai bangkit dan memulai rentetan kemenangan pada Derby della Mole 31 Oktober 2015 lalu, Juve selalu menunjukkan sisi gelapnya ketika menghadapi partai besar. Mereka bermain negatif, nyaris selalu kalah dalam hal pengusaan bola, tapi anehnya mampu menciptakan kans lebih banyak dari musuh dan tentunya berjalan efektif.

Sementara menghadapi tim yang levelnya lebih rendah, La Vecchia Omcidi bakal menunjukkan sisi putihnya di mana mereka akan bermain mendominasi, eksplosif, dan super menyerang. Komparasi paling dasar bisa dilihat dari statistik penguasaan bola di sisi putih yang mencapai 57 persen, berbanding 45 persen untuk sisi hitam.

Hebatnya taktik pragmatis Allegri itu juga bersifat manipulatif. Kebanyakan lawan tak sadar bahwa mereka tengah masuk perangkap hitam Juve bahkan setelah jadi korban.

Tengok bagaimana Yaya Toure terus menyebut Juve beruntung menang dua kali beruntun atas City, Paulo Sousa yang merasa bangga lantaran timnya mampu mendominasi Juve, hingga Roberto Mancini yang heran dengan kekalahan 3-0 timnya di Derby d'Italia lantaran tak sesuai permainan di atas lapangan. Sarri? Anda bisa kembali meluncur ke paragraf dua untuk melihat komentar polosnya.

"Dalam hidup, faktor keberuntungan adalah fundamental. Seorang teman menyuruh saya untuk bergaul dengan orang-orang beruntung untuk dekat dengan keberuntungan. Menghadapi lawan yang berat, untungnya kami punya kekuatan dan kesabaran untuk melihat bola berlalu di depan kami, sembari menanti momen keberuntungan tiba," ujar Allegri merendah menyoal taktiknya, seperti dikutip Sky Sport Italia.

Tanpa kesadaran, deretan tim besar terus berjatuhan menjadi korban terkaman sisi gelap Si Nyonya Tua. Kurang dari dua pekan ke depan, kita kini tentu dibuat penasaran apakah cara serupa juga berlaku untuk tim sekelas Bayern Munich?

Topics