Kolektor Serbu Jersey Klasik Arema Cronus

Manajemen Arema tidak menyangka jersey klasik Singo Edan menjadi buruan para kolektor.

Sejumlah jersey original klasik Arema Cronus menjadi buruan para kolektor yang menyambangi bazar klub kemarin. Manajemen mengaku tidak menyangka jersey klasik Singo Edan mendapat minat dari penggemar sepakbola.

Manajer bisnis Arema Muhammad Yusrinal mengungkapkan, saat ini penjualan jersey original musim 2015 sepi peminat, akibat terhentinya kompetisi Indonesia Super League (ISL). Karena itu, mereka kemudian mencoba menjual jersey musim 2005 hingga 2014.

Sejumlah jersey yang diserbu kolektor itu milik penggawa Arema di musim 2008/09, Ahmad Jufriyanto, Ronny Firmansyah (2007/11), M Bachtiar (2008/09), Dendi Santoso (2009), Rasmoyo (2006), hingga Ponaryo Astaman (2007).

“Jersey yang kita jual adalah asli, dan kita jamin keasliannya, karena memang milik Arema. Kami juga memberikan apresiasi kepada Aremania, karena larisnya jersey ini,” tutur Yusrinal kepada Goal Indonesia.

“Sebenarnya juga di luar dugaan, karena memang banyak yang mencari. Kita tampilkan kejutan setiap hari dengan bergantian mengeluarkan koleksi.”

Pria lulusan Universitas Widyagama Malang ini menambahkan, pembeli jersey kebanyakan masyarakat di luar kota Malang. Bisa jadi para kolektor jersey yang selama ini memang aktif berburu seragam pemain itu.

“Stoknya terbatas, karena memang sisa pemain, atau yang akan dipakai main, sehingga tidak ada stok tambahan lagi apabila nanti jerseynya habis,” kata pria yang akrab disapa Inal.

Dengan kondisi persepakbolaan nasional seperti ini, praktis sponsor kebanyakan menahan pencairan dana, karena tidak ada pertandingan yang bisa memuat branding produk mereka. Cara-cara penjualan ini ditempuh agar manajemen bisa mendapatkan pemasukan di luar sponsor.

“Masih bagus ada sponsor yang tetap bertahan dengan Arema, salah satunya adalah Indosat yang kemarin memperkenalkan produk mereka bersama pemain. Yang jelas apa pun kondisinya, Arema harus tetap eksis,” tutupnya. (gk-48)

Topics