Laga Ke-100 Negeri Sepakbola Brasil Di Piala Dunia

Brasil menjadi negara yang tak pernah absen di Piala Dunia, dan penampilan ke-100 mereka terjadi di publik sendiri.

OLEH FARABI FIRDAUSY Ikuti di twitter

Brasil menjalani laga ke-100 mereka di gelaran turnamen paling prestisius, Piala Dunia, kala tim berjuluk Selecao itu menghadapi Kamerun, Selasa (24/6) dinihari WIB. Jika ada negara yang Anda tak pernah rela untuk absen di Piala Dunia, sudah pasti Brasil akan jadi salah satunya.

Mereka selalu bermain dengan keindahan, memunculkan para pemain fenomenal, gol indah dan kecintaan publik yang luar biasa terhadap sepakbola itu sendiri. Sepakbola jadi bagian penting dari Brasil sebagai negara, kebanggaan, mungkin mendekati agama bagi publik negara anggota CONMEBOL tersebut.

Berbagai rekor dan momen tak terlupakan Piala Dunia lahir dari tim yang berpegang teguh pada Jogo Bonito itu. Dari mulai sebagai pengoleksi gelar terbanyak, gol indah Roberto Carlos di Piala Dunia 1998, kemolekan kaki seorang Garrincha, pemain fenomenal layaknya Pele dan Ronaldo, hingga tragedi Maracanazo.

Brasil jadi negara yang paling banyak berpartisipasi, tepatnya di 20 edisi Piala Dunia, atau seluruh gelaran Piala Dunia. Negara yang memiliki salah satu stadion paling agung di dunia itu (Maracana) juga menjadi pengeoleksi gelar juara terbanyak (5). Belum secara individu, si Fenomena Ronaldo jadi salah satu pencetak gol terbanyak di gelaran Piala Dunia, 15 gol, yang baru saja disamakan oleh striker Jerman Miroslav Klose.

Berikut rekap jejak paling memorial untuk Brasil di Piala Dunia.

Ketika Piala Dunia pertama kali digelar tahun 1930 di Uruguay, Brasil mengirim tim yang bisa dibilang amatir. Sebagian skuat dari Selecao yang merupakan pemain Sao Paulo menolak untuk berpartisipasi. Brasil pun tak lolos dari Grup, menerima kekalahan dari Yugoslavia dan Preguinho mencatatkan namanya sebagai pencetak gol pertama untuk Brasil di Piala Dunia.

Di gelaran Piala Dunia 1934, skuat Brasil tak bisa berbuat banyak, mereka terserang mabuk laut karena harus menjalani perjalanan panjang ke Italia. Hasilnya, Brasil pun hanya bermain satu kali dan tunduk dari Spanyol. Yang unik, Italia sebagai juara di rumah sendiri memiliki satu pemain yang lahir di Brasil, yakni Attilio de Maria.

Gelaran 1938 di Prancis, Italia kembali menjadi kampiun. Di sana, nama Leonidas da Silva mencuat dan dinobatkan sebagai pemain Brasil sepanjang masa. Brasil menempati posisi ketiga dengan Leonidas memiliki andil besar, ia menjadi pencetak gol terbanyak dengan raihan tujuh gol. Kala itu, dari lima laga yang dijalani Brasil, mereka hanya tunduk dari Italia dengan skor 2-1 di semi-final. Dan memperoleh tempat ketiga dengan menekuk Swedia 4-2.

Perang Dunia II menunda gelaran Piala Dunia, dan 1950 hajatan akbar itu baru kembali digelar. Brasil untuk kali pertama menjadi tuan rumah. Kepercayaan diri menjulang tinggi, kekuatan tim (yang kini) dengan warna kuning itu tak terbantahkan hingga laga terakhir.

Namun tahun tersebut malah jadi sejarah kelam pesepakbolaan Brasil, bahkan tragedi layaknya bencana alam. Brasil yang begitu luar biasa harus tunduk dari Uruguay di Maracana, pada partai penentuan juara. Di hadapan lebih dari 200 ribu penonton dan Jules Rimet yang sudah mempersiapkan ungkapan selamat kepada Brasil karena diyakini akan menjadi juara.

Hanya butuh hasil imbang untuk Brasil menjadi juara. Paruh pertama imbang tanpa gol, dan ketika babak kedua baru berjalan dua menit Albino Friaca Cardoso membawa tuan tumah unggul, semua bersorak dengan keyakinan membuncah bahwa gelar dunia pertama akan diraih. Namun semuanya berubah ketika Alberto Schiaffino dan Alcides Edgardo Ghiggia balas memukul membawa Uruguay unggul.

Marcana terdiam, senyap, bahkan beberapa media mengabarkan beberapa penonton mendapat serangan jantung. Jules Rimet tak dapat berkata banyak dan Uruguay pun menjadi juara tanpa seremonial. Tragedi tersebut pun dikenang dengan nama Maracanazo. Penjaga gawang Barbosa yang berkulit hitam jadi kambing hitam. Publik Brasil menuduh bahwa ia sebab terjadinya dua gol tak perlu dari Uruguay. Sejak saat itu paradigma bahwa kiper berkulit hitam akan membawa sial bagi Brasil. Dan warna putih sebagai seragam tim pun dicoret, Brasil mengubah kostum menjadi kuning. Dan yang mendesain perpaduan warna hijau serta kuning sekarang tak lain adalah seorang Uruguay yang menetap di Brasil.

Delapan tahun sejak trauma Maracana, di Swedia, Brasil pun cerah. Nama-nama fenomenal seperti Didi Kohoe, Mario Zagallo, Garrincha, Vava dan tentu Pele. Menghiasi skuat kampiun tersebut.

Pele yang masih berusia 17 tahun menjadi pemain muda terbaik. Didi Kohoe yang berposisi sebagai gelandang tengah juga jadi penyabet gelar individu sebagai pemain terbaik. Brasil lolos sebagai juara fase Grup, mengalahkan Wales di perempat-final, menghantam Prancis 5-2 di mana Pele menciptakan hat-trick dan menekuk Swedia di laga penentuan dengan skor 5-2. Lagi-lagi Pele jadi bintang dengan dwigolnya.

Garrincha jadi bintang. Ia menjadi pencetak gol terbanyak untuk Brasil bersama Vava (4). Tak ada yang begitu sulit untuk Brasil di Cili. Mereka pun mengamankan gelar kedua dengan mengandaskan Cekoslowakia yang kala itu cukup fenomenal dan diperkuat oleh legenda Josef Masopust. Dengan skor 3-1, Brasil juara.

1966 di Inggris, dinilai sebagai penampilan terburuk Brasil di Piala Dunia. Tak lolos dari fase Grup. Inggris sendiri yang kala itu menjadi juara disebut sebagai negara yang memperekenalkan sepakbola ke Brasil. Dan Brasil yang masih dihuni Garrincha, Pele juga Djalma Santos tak berbuat banyak. Menang di laga pembuka dengan menindas Bulgaria 2-0, lantas kalah di dua laga selanjutnya dari Hungaria dan Portugal, dengan skor serupa 3-1.

Brasil meraih titel juara ketiga, namun perjalanan mereka tak lepas dari kontroversi. Pada babak kualifikasi, tim dilatih oleh seorang yang berprofesi sebagai jurnalis, Joao Saldanha. Ia pun lengser pada putaran final karena merupakan sosok yang aktif sebagai komunis. Zagallo yang merupakan mantan striker pun ditunjuk menjadi pelatih. Ia langsung mempersembahkan gelar ketiga di mana Brasil mengalahkan Italia pada laga puncak dengan skor 4-1. Pele kembali menjadi pemain terbaik, dan Jairzinho semakin matang di Piala Dunia kedua baginya, ia mencatatkan tujuh gol di turnamen tersebut.

Spanyol jadi tuan rumah gelaran 1982, dan Brasil pun begitu indah dengan permainannya sebagaimana banyak orang yang memuji permainan Socrates cs. Namun Brasil dinilai terlalu sombong di laga penentuan grup menghadapi Italia. Paolo Rossi memberi pelajaran dengan hat-trick kepada kebuntuan dari Tele Santana, yang kala itu tak melakukan pergantian pemain juga mengubah formasi. Brasil disebut terlalu menikmati permainan dan memang hanya butuh hasil imbang. Paolo Rossi pun membuat Italia menang di menit ke-74 dan Brasil harus angkat kopor karena kalah 3-2.

Carlos Dunga menjadi kapten memimpin rekan-rekan seperti Romario, Bebeto, dan Cafu muda. Lagi-lagi mereka bersua dengan Gli Azzuri di laga puncak. Lewat drama adu penalti Brasil pulang dengan trofi. Franco Baresi, Daniele Massaro dan yang paling teringat, Roberto Baggio. Gagal menyempurnakan tugasnya sebagai eksekutor untuk Italia. Skor 3-2 lewat adu penalti menjadikan Brasil juara.

Ronaldo yang mendapat gelar pemain terbaik di Piala Dunia Prancis 1998 tak bisa membantu timnya menundukkan tuan rumah Les Bleus di babak final. Brasil kalah tiga gol tanpa balas. Fabien Barthez tampil begitu baik, apalagi Zidane dengan dua golnya pada menit ke-27 dan di penghujung paruh pertama. Emmanuel Petit pun menutup tiga gol Ayam Jantan jelang laga usai. Tendangan bebas fenomenal Roberto Carlos ke gawang Barthez di Piala Konfederasi tidak terulang.

Olivier Kahn tampil luar biasa bagi Jerman di ketika Piala Dunia dihelat di Korea Selatan dan Jepang, 2002. Kahn diganjar gelar pemain turbaik turnamen, namun hal tersebut sia-sia. Kahn yang hanya kemasukkan satu gol sebelum laga final harus dihajar oleh kombinasi Ronaldo dan Rivaldo. Ronaldo dengan rambut nyentrik menaklukkan kiper yang dikenal galak itu, ia mengantar Brasil juara dengan skor 2-0. Yang merupakan gelar kelima Brasil di ajang Piala Dunia.

Lupakan Brasil yang gagal di Piala Dunia 2006 dan 2010 di mana Jogo Bonito ditinggalkan oleh Carlos Dunga yang kala itu sebagai pelatih. Berbagai catatan tercipta dari skuat Brasil, dan mereka pun menorehkan laga ke-100 Piala Dunia di Stadion Nasional de Brasilia.

Kini yang menjadi ikon dan bintang adalah seorang Neymar yang memuluskan jalan Brasil ke babak 16 besar dengan dua golnya. Kamerun menjadi korban, mereka harus tersungkur dengan skor 4-1. Brasil pun merajut mimpi mereka untuk gelar keenam di tanah sendiri.

Menjadi tuan rumah penuh perjuangan untuk Brasil, tentu luka Maracanazo tak ingin terulang. 100 penampilan di Piala Dunia bukan hal yang biasa, dan menorehkannya di depan publik sendiri jadi hal yang indah untuk Thiago Silva dann kawan=kawan.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics