Lancine Kone Belum Pikirkan Masa Depan Di Arema Cronus

Kone siap memberikan yang terbaik untuk Arema, tapi belum memikirkan kelanjutannya bersama Singo Edan.

Gelandang serang asal Pantai Gading Lancine Kone menyatakan, saat ini ia fokus membantu Arema Cronus meraih gelar juara turnamen Piala Presiden 2015, dan belum memikirkan kemungkinan di ikat secara permanen.

General manager Ruddy Widodo mengisyaratkan bakal mempermanenkan Kone dan Morimakan Koita bila memperlihatkan performa bagus di Piala Presiden. Namun itu terjadi jika Indonesia Super League (ISL) 2015/16 bergulir.

“Kalau main bagus nanti, mereka akan mendapatkan prioritas perpanjangan kontrak dari Arema. Itupun masih dengan syarat kompetisi ISL akan digelar. Kalau tidak digelar ya tidak ada perpanjangan,” tegas Ruddy.

Menanggapi hal itu, Kone mengatakan, ia belum memikirkan kelanjutan kiprahnya bersama Arema usai Piala Presiden. Saat ini, Kone hanya ingin membantu Arema mengangkat trofi.

“Saya siap mengeluarkan kemampuan terbaik untuk Arema. Saya senang Arema memberikan kepercayaan kepada saya. Targetnya memang tinggi yaitu juara Piala Presiden, dan saya siap untuk bantu juara,” kata pemain berusia 36 tahun ini.

“Saya memang hanya bermain di Piala Presiden. Saya tidak tahu ke depan bakal seperti apa. Yang jelas saya tidak memikirkan itu, dan hanya berpikir di turnamen ini saja. Administrasi tidak masalah, saya pegang surat pemutusan kontrak sebagai syarat untuk dokumen. Jadi saat ini coba fokus untuk Arema.”

Sementara itu, Ruddy mengaku sudah jengah dengan konflik antara PSSI dan kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora). Menurut Ruddy, seharusnya kedua belah pihak bersinergi memajukan persepakbolaan nasional.

“Secara garis besar Arema tidak mau ikut bertikai, kami masih menunggu kebaikan untuk sepakbola Indonesia. Toh, yang diinginkan klub itu sangat sederhana, yaitu sepakbola harus kembali normal,” terang mantan pengusaha travel itu.

“Jika sepakbola tidak ada, tim akan kolaps karena akan kesulitan membayar gaji pemain, sementara ketika pemain tidak mendapatkan bayaran, maka mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi.” (gk-48)