Le Classique, Bentrok Klasik Kaum Borjuis Kontra Kaum Proletar

Le Classique merupakan wujud nyata bentrok klasik kaum borjuis kontra kaum proletar di Prancis, yang diinterpretasikan lewat sepakbola.

Atmosfer sepakbola yang tersaji akhir pekan ini benar-benar mampu membuat para penikmatnya membara. Bagaimana tidak, terdapat begitu banyak pertandingan besar liga-liga top Eropa, yang dilaksanakan nyaris bebarengan.

Tak percaya? Tengok daftar pertandingan ini; La Liga Spanyol menghadirkan Derby Madrid, Bundesliga Jerman menghelat Der Klassiker, Liga Primer Inggris pentaskan Arsenal kontra Manchester United serta Debry Marseyside, Serie A Italia gelar duel AC Milan dan Napoli, hingga Eredivisie Belanda menyuguhkan De Klassieker.

Ups, ada satu partai lagi yang tak boleh dilewatkan dan akan kita ulas dalam artikel ini. Asalnya dari Ligue 1 Prancis, sebuah laga yang mempertaruhkan gengsi, sejarah, dan kaum sosial pendukungnya. Tak lain tak bukan, adalah Le Classique, bentrok antara Paris Saint-Germain kontra Olympique de Marseille.

Kebesarannya memang kalah jika dibandingkan El Clasico di Spanyol, Der Klassiker di Jerman, bahkan De Klassieker di Belanda. Namun dengan latar kondisi sosial Prancis, Le Classique punya alasan khusus untuk disebut sebagai pertandingan terbesar negeri asal Napoleon Bonaparte ini.
 

Paris dan Marseille punya status sosial yang berbeda

Sejatinya terdapat dua klub yang dianggap besar secara prestasi di Prancis, yakni AS Saint-Etienne dan Olympique de Marseille. Di masa lalu keduanya merupakan rival yang saling bergantian jadi kampiun Ligue 1 dan rutin mengharumkan nama domestik di kancah Eropa.

Namun aura yang dihadirkan ketika kedua tim saling bertemu, tidaklah istimewa. Bentrok yang mereka lakoni murni berasaskan semangat sepakbola, tidak ada faktor lain. Salah satu alasan mengapa hal itu terjadi adalah latar belakang kedua tim yang sama-sama berasal dari kota pekerja, yakni tambang (Saint-Étienne) dan pelabuhan (Marseille).

Segalanya kemudian berubah pada 1970, seturut dengan lahirnya klub asal ibu kota Prancis, Paris, Paris Saint-Germain. Didirikan oleh desainer busana tersohor, Daniel Hecter, PSG dirancang untuk jadi klub besar. Secara tegas, mereka juga membawa kebanggaan publik Paris yang merasa jika strata sosialnya selalu berada di atas warga Prancis lainnya. Maklum, Paris dari dulu hingga kini merupakan tempat bermukimnya kaum borjuis (pemilik modal).

Menurunnya prestasi ASSE secara signifikan pada medio 70-an, membuat PSG yang melejit pesat jadi pengganggu utama Marseille. Perlahan namun pasti bentrok kedua tim memanas hingga jadi partai yang paling dinanti di Ligue 1. Orang-orang pun mulai menyebutnya sebagai Le Classique (partai klasik).

Lebih dari duel ASSE dan Marseille, Le Classique tak hanya mempertaruhkan sepakbola, tapi juga gengsi dua publik yang berseberangan. Ketika menghadapi PSG, secara mendadak Marseille akan mendapat dukungan dari seluruh kota di Prancis, tentunya selain Paris. Publik Prancis yang mayoritas kaum proletar (pekerja) menyimpan kebencian yang mendalam terhadap kaum borjuis di Paris, karena selalu ingin unggul dan tak senang dengan kepuasan golongan di bawahnya. Karenanya tak heran jika dari masa ke masa, selalu saja muncul kerusuhan ketika Le Classique dihelat.

Sejak pertama kali bertemu 12 Desember 1971, hingga kini PSG dan Marseille sudah saling berhadapan sebanyak 86 kali. Dari jumlah tersebut, Les Parisiens unggul amat tipis dari sang rival dengan mengukir 34 kemenangan dan 32 kali kalah. Delapan kemenangan dari 11 pertemuan di Coupe de France mengatrol jumlah kemenangan PSG yang inferior jika bertemu di Ligue 1.

Tak jarang pula kemenangan di Le Classique menentukan raihan gelar juara Ligue 1. Dan salah satu laga yang paling dikenang terjadi pada 23 Mei 1993 silam. Marseille secara dramatis mencuri gelar juara Ligue 1 Prancis dari PSG, dengan menang 3-1 di Le Classique yang jadi journee penutup musim.

Publik Paris makin dibuat menderita karena tiga hari setelahnya Marseille sukses jadi klub Prancis pertama dan satu-satunya yang sukses menjuarai Liga Champions, setelah mengalahkan AC Milan 1-0. Penderitaan sedikit mereda, karena gelar juara Ligue 1 Les Phoceens kemudian dicabut akibat terbukti melakukan pengaturan skor. Ironisnya gelar itu tak lantas diberikan pada PSG, yang berstatus runner-up.

Kontroversi itu makin membuat Le Classique semakin panas. Kerusuhan kemudian bagai jadi tradisi wajib di antara pendukung kedua tim, sebelum, selama, atau selepas pertandingan. Mulai dari rekor penangkapan penonton Ligue 1 oleh polisi terhadap 146 orang, hingga tewasnya salah seorang fans PSG, Yann L, akibat kerusuhan pada 28 Februari 2010. Terakhir, empat suporter Marseille ditangkap pasca kerusuhan Le Classique edisi terbaru Apirl lalu.

"Kelangsungan klub-klub sepakbola menjadi taruhannya. Saat ini semangat sepakbola sudah berubah menjadi tak masuk akal hingga nafsu untuk membunuh. Kecintaan pada seragam klub telah berubah menjadi alasan untuk membenci pendukung lainnya," tutur mantan Menteri Olahraga Prancis, Rama Yade, soal Le Classique yang begitu lekat dengan kerusuhan.

Menilik situasi sekarang, harus diakui jika Le Classique sudah timpang secara prestasi. PSG dan Marseille tak lagi bisa dikatakan berada dalam level sepakbola yang sama. Les Rouge-et-Bleu jauh lebih superior ketimbang l'Ohème, setidaknya dalam lima musim terakhir.

Dalam 12 bentrok selama periode tersebut, PSG unggul telak sembilan kali, imbang sekali, dan hanya kalah dua kali. Tujuh kemenangan dari jumlah tersebut, bahkan mereka raih secara beruntun dalam tujuh duel terakhir. Klub yang bermarkas di Parc des Princes itu juga jadi penguasa mutlak Ligue 1 dalam tiga musim terakhir.

Keputusan Qatar Investment Authority untuk mengakuisisi PSG pada 2011 lalu, memang telah mengubah segalanya. PSG makin kaya dengan tak hanya mendatangkan bintang lokal seperti sebelumnya, tapi mampu memboyong bintang dunia dengan bekal transfer tak terbatas. Di sisi lain, pasca jadi kampiun Ligue 1 pada musim 2010/11, prestasi Marseille terus menurun. Sempat bangkit dengan jadi runner-up pada musim 2012/13, dua musim terakhir mereka hanya mampu finish di peringkat enam dan empat.

Marseille juga dilanda krisis finansial, hingga harus menjual para bintangnya dan sulit mendatangkan pemain baru berkualitas pada bursa musim panas lalu. Imbasnya, Tim Kota Pelabuhan pun terseok musim ini dengan terdampar di peringkat 16 klasemen sementara. PSG? Mereka tampak akan jadi kampiun Ligue 1 empat kali beruntun, karena konsisten berada di puncak.

Kini status sosial antara PSG dan Marseille semakin tegas menyerupai kondisi kota, yang diwakili masing-masing klub. Tim borjuis yang terpancar dari status natural PSG melawan tim proletar yang dengan bangga diwakilkan Marseille. Ini adalah perseteruan klasik dalam kehidupan, yang secara indah dikemas dalam permainan sepakbola. Borjuis tentu jadi unggulan, tapi selalu menarik melihat perjuangan kaum proletar dalam membalikkan prediksi. Ah, tak sabar menantikan keseruan Le Classique edisi ke-87 ini, Senin (5/10) dini hari esok!

 

Topics