Le Petit Diable, Sang Pewaris Sah Zinedine Zidane

Topics

Bukan Paul Pogba, bukan juga Dimitri Payet, apalagi Olivier Giroud. Adalah Antoine Griezmann yang paling layak mewarisi takhta Zinedine Zidane.

Di Marseille, 44 tahun yang lalu, lahir seorang bayi bernama Zinedine Zidane dari pasangan imigran Alzajair. Meski sepanjang kariernya tak pernah berseragam Olympique Marseille, Zidane akan selalu dikenang oleh masyarakat di kota pantai selatan Prancis itu karena warisan besar yang ia torehkan bagi sepakbola negerinya. Zizou, julukannya, adalah legenda sejati Prancis.

Di Marseille pula, pada Jumat (8/7) dini hari WIB, seorang legenda baru muncul. Antoine Griezmann membius publik Stade Velodrome lewat dua golnya di partai semi-final Euro 2016 untuk membawa Prancis menggulung Jerman. Les Bleus merebut tiket ke final lewat kemenangan 2-0 dan publik Marseille mengelu-elukan satu nama.

“Grizou! Grizou! Grizou!”

Di awal turnamen, julukan yang menggabungkan nama Griezmann dengan Zizou itu terasa jauh panggang dari api. Griezmann melempem di laga pembuka kontra Rumania dan sempat “dihukum” ke bangku cadangan di partai kedua Grup A kontra Albania.

Skepitisisme melanda Griezmann. Ia dinilai telah kehabisan bensin setelah melakoni 54 pertandingan nan melelahkan di sepanjang musim lalu bersama Atletico Madrid. Namun tepat di saat keraguan merebak, pemain berusia 25 tahun itu menunjukkan jati dirinya yang nyata.

Bersyukurlah pada Didier Deschamps, karena pelatih Prancis itu tetap percaya kepada Griezmann. Mengetahui Prancis kesulitan menjebol gawang Albania di Marseille, Griezmann diturunkan di babak kedua dan mampu membuka rekening golnya di akhir laga.

Lolos ke babak knock-out, Griezmann secara beruntun terpilih menjadi man of the match. Brace brilian ia lesakkan dalam kemenangan comeback 2-1 atas Republik Irlandia di babak 16 besar, satu gol chip cantik saat membantai Islandia 5-2 di perempat-final, sebelum mengemas sepasang gol lagi ke jala Jerman di semi-final. Griezmann telah menghapus total keraguan terhadap dirinya dengan memimpin daftar topskor sementara Euro 2016 dengan enam gol.

“Antoine sempat kepayahan di awal turnamen karena dia kelelahan. Tapi kini dia sudah fit dan tidak terlihat adanya tanda-tanda kelelahan. Dia adalah seorang finisher ulung dengan teknik tinggi. Kami berharap dia terus meningkatkan performanya,” terang Deschamps jelang partai kontra Jerman. Dan doa Deschamps terkabul.

Seluruh Prancis berdebar sejak “La Marseillaise”, lagu kebangsaan Prancis, selesai dikumandangkan. Partai tinggi oktan tersaji di Marseille selepas kick-off. Jerman tampil dominan dan menggebrak, namun Prancis mampu bertahan kompak sekaligus mampu memberikan perlawanan hebat lewat serangan-serangan mematikan yang dikomandoi Griezmann.

Satu peluang nyata diciptakan Griezmann di menit ketujuh lewat kerjasama satu-dua dengan Blaise Matuidi, namun sepakan terukurnya masih bisa ditepis Manuel Neuer. Absennya dua penggawa pilar Jerman, Mats Hummels (akumulasi kartu) dan Sami Khedira (cedera), membuat Griezmann leluasa bersenang-senang di wilayah pertahanan Jerome Boateng dkk.

Satu kecerobohan dilakukan Bastian Schweinsteiger di pengujung babak pertama dengan menyentuh bola di kotak terlarang saat menyambut sepak pojok Prancis. Sang eksekutor titik putih, Griezmann dengan percaya diri sukses memperdayai Neuer untuk menghadirkan keunggulan bagi Prancis saat turun minum.

Selepas interval, Griezmann kembali menjadi mimpi buruk Jerman. Alih-alih mengejar ketertinggalan, sang juara dunia kembali kebobolan oleh Griezmann di menit ke-72. Penempatan posisi yang matang membuat Griezmann mudah menceploskan bola ke gawang Jerman, memanfaatkan ketidaksempurnaan Neuer menghalau umpan silang Paul Pogba. Pasukan Joachim Low pun harus rela mengucapkan Auf Wiedersehen.

Total, empat dari tujuh tembakan Griezmann mengarah on target di partai itu, angka terbanyak ketimbang pemain lain. Lima dribel dan dua umpan kunci juga mampu ia bukukan. Kini semua orang tahu siapa aktor protagonis dari Tim Ayam Jantan.

Griezmann seperti dirasuki oleh roh Zidane dan Michel Platini, yang masing-masing mampu memimpin Prancis berjaya di kandang sendiri pada 1998 dan 1984 silam. Membandingkan Griezmann dengan Zidane dan Platini pun menjadi sebuah keniscayaan. Berhubung Platini telah sukses memberikan tongkat estafet kepada Zidane, kini giliran Zidane yang siap menyerahkannya ke tangan Griezmann.

Grizou sebetulnya bukan julukan asli Griezmann. Ia memiliki nickname lain yang lebih dulu tersemat kepadanya: Le Petit Diable alias Si Setan Kecil. Memang tidak se-catchy Grizou, tetapi julukan setan kecil itu terasa lebih layak ia sandang.

Berperawakan 175 cm namun punya kecepatan gesit serta diberkahi naluri menyerang tajam, Griezmann bagaikan setan kecil yang membuat lawan-lawan tergoda masuk perangkapnya. Digembleng di Spanyol bersama Real Sociedad dan disempurnakan oleh Diego Simeone di Atletico, Le Petit Diable menjadi semakin perkasa.

Kaki kiri dan kecepatannya dalam membangun serangan balik menjadi kekuatan utama Griezmann. Tetapi siapa sangka, sundulan kepala juga menjadi senjata tersembunyi dari penyerang berambut pirang ini. Dua golnya selama di Euro 2016 berasal dari heading, mengingatkan kita pada seorang playmaker genius yang dua kali menjebol gawang Brasil lewat tandukan kepala botak tengahnya itu di final Piala Dunia 1998.

Dalam diri Griezmann, Zidane telah menemukan ahli warisnya yang sah untuk membuat sepakbola Prancis tetap berkibar. Tinggal Portugal pada 10 Juli mendatang di Stade de France yang menjadi penghalang terakhir sebelum Griezmann resmi dimahkotai.

“Jika ada seorang juru selamat, maka itu adalah seluruh tim,” ujar Griezmann merendah seusai laga. Ah, Si Setan Kecil sudah sepantasnya berganti nama menjadi Le Petit Ange alias Si Malaikat Kecil.