Leicester City & Hilangnya Sentuhan Juara

The Foxes tampil mengagumkan di Liga Champions, tapi performa medioker di kancah domestik menunjukkan bagaimana sulitnya menjaga keseimbangan.

Lamban, ceroboh, dan tertekan - bukan deskripsi yang biasa Anda asosiasikan dengan Leicester City musim lalu. Namun seiring Claudio Ranieri dan The Foxes menjalani laga demi laga, mereka bakal sadar. Bertanding di Liga Champions dan Liga Primer Inggris bersamaan bukanlah tugas yang mudah.

Setelah susah payah mencuri kemenangan atas Porto di tengah pekan, The Foxes kembali ke King Power Stadium dengan harapan mereka bisa membangun performa positif itu menghadapi Southampton. Musim lalu, tenaga dan hasrat hebat semata mampu membawa mereka pada kemenangan. Namun dengan jam bermain lebih banyak, banyak orang di Leicester terpaksa mengurungkan harapan.

Toh, hanya sebagian yang berpendapat Leicester akan mengulangi kesuksesan domestik mereka musim lalu atau bahkan menjadi pesaing gelar. Tetapi, hanya mengantongi delapan poin dari tujuh laga perdana musim ini, sudah ada prasangka bahwa skuat ini bisa kembali terjatuh ke papan tengah, atau bahkan lebih buruk.

Hilang sudah semangat dan hasrat yang memaksimalkan performa musim lalu. Sebaliknya, mereka malah kehilangan ketajaman untuk menembus lini belakang paling disiplin di Inggris. Beberapa kali, Danny Drinkwater membawa bola di tengah tanpa ada rekan setim yang mendekat untuk menjemput bola, sementara Jamie Vardy menyianyiakan peluang emas dan diganti di babak kedua.

Sang juara bertahan tentu menciptakan banyak peluang, namun Oriol Romeu menggagalkan serangan Islam Slimani dan Vardy beberapa detik setelah Virgil van Dijk memberikan backpass pada Fraser Forster yang trerlalu pelan. Sundulan menit akhir Robert Huth pun gagal menembus gawang The Saints.

Riyad Mahrez menjadi satu-satunya yang bisa dibanggakan dalam pertandingan kemarin. Kerja keras dan dribel cantiknya masih ada, ia selalu menjadi ancaman, tapi keajaiban yang bisa menghadirkan kemenangan di musim lalu sudah tidak terlihat lagi.

Justru Southampton yang nyaris mengunci kemenangan. Charlie Austin melepaskan tembakan terarah, tapi hanya membentur mistar. Setelahnya, Nathan Redmond kembali menggetarkan mistar dengan memanfaatkan serangan balik kilat. The Saints memang baru saja bertandang ke Israel 72 jam sebelumnya, namun rotasi cerdik dari Claude Puel ketika menghadapi Hapoel Be'er Sheva memungkinkan timnya mendikte tempo permainan.

Pada akhirnya, peluang Leonardo Ulloa menjadi intisari atas penurunan performa Leicester. Musim lalu, striker Argentina itu mencetak dua gol menit akhir yang membawa The Foxes meraih hasil imbang kontra Tottenham Hotspur sekaligus trofi juara. Malam lalu, eks penyerang Brighton itu hanya mampu membuat kiper lawan berdebar-debar tanpa ada gol yang tercipta setelah menyambut umpan brilian Drinkwater.

Momen-momen magis Liga Primer musim lalu mulai pudar dari permainan Leicester. Fans The Foxes mungkin sudah biasa menghadapi keekcewaan ini, namun setidaknya konsistensi di kancah Eropa bisa menjadi konsolasi.