Letupan Optimisme Di Stamford Bridge

Meski dukungan terhadap The Special One masih berdengung, publik Chelsea harus mengakui bahwa kehidupan pasca Mou terlihat menjanjikan.

Seberkas sinar mentari menyapa Stamford Bridge dengan kehangatan melegakan, tepat di tengah badai yang berkecamuk hebat di markas Chelsea tersebut.

Kemenangan kandang meyakinkan 3-1 atas Sunderland, Sabtu (19/12) malam WIB, menjadi gejala alam yang amat dibutuhkan bagi The Blues yang di musim ini begitu merindukan kebangkitan. Sang juara bertahan Liga Primer Inggris itu langsung menunjukkan respons luar biasa meski baru saja berpisah dengan manajer tersuksesnya, Jose Mourinho.

Sebagaimana diketahui, pemilik dan direksi klub merasa sudah tidak melihat jalan keluar dari keterpurukan Chelsea sehingga pemecatan menjadi sebuah keniscayaan. Betapa tidak, Mourinho yang musim lalu meraih gelar ganda, yang di periode pertama sepuluh tahun silam mengangkat status Chelsea sebagai tim elite Inggris, secara tak terduga kehilangan kesaktiannya di musim ini.

Sudah 16 laga dilalui dengan sembilan kekalahan sehingga Chelsea terkapar di peringkat bawah klasemen dan hanya satu poin terpaut dari jurang relegasi. Belum lagi jika melihat catatan historis yang kian menambah pilu: bahwa Chelsea adalah tim juara bertahan terburuk sepanjang sejarah Liga Primer, menilik sangat minimnya poin yang mereka koleksi (15 poin).

Kejatuhan spektakuler itu diperparah dengan tingkah laku Mourinho sendiri. Kegemarannya untuk memancing air keruh lewat omongan pedas di media sempat membuat dokter tim Eva Carneiro menjadi korban di awal musim seiring rumor perpecahan di dalam skuat juga terus menyeruak. Pada akhir pekan lalu, chaos tersebut tak mampu ditutup-tutupi lagi, ketika Mou merasa telah “dikhianati” oleh pemainnya selepas kekalahan 2-1 kontra Leicester City.

Benar atau tidaknya pengkhianatan tersebut ternyata tidak membuat sikap fans Chelsea terbelah. Saat menjamu Sunderland, seisi Bridge menunjukkan sikap bahwa mereka akan selalu mendukung Mou sampai mati. Spanduk dan poster tribute untuk Mourinho terpampang jelas dan diangkat tinggi-tinggi di setiap sudut stadion.

Yang lebih ekstrem, fans Chelsea sempat bersiul dan mencemooh Cesc Fabregas dan Diego Costa saat nama mereka dibacakan lewat pengeras suara dan juga saat ditarik keluar. Duo Spanyol itu memang tampil kurang maksimal di partai ini dan dituduh sebagai dalang pemecatan Mou.

Bagi fans, Chelsea adalah Chelsea karena Mourinho. Memori kejayaan yang pernah dilukiskan Mou tidak akan pernah basi dan akan selalu berada di benak mereka. Teriakan “Mourinho! Mourinho! Dia satu-satunya yang spesial!” berkali-kali menggema. Ya, Mourinho adalah “One of Us” yang tak mungkin terpisahkan dari alam bawah sadar setiap fans The Blues.

Meski demikian, para pendukung Chelsea kini harus menerima kenyataan bahwa pahlawan kesayangan mereka itu sudah pergi. Kehidupan terus berlanjut, lembaran baru harus dibuka demi perubahan.

Kemenangan atas Sunderland ini mestinya tidak perlu disikapi berlebihan, mengingat The Black Cats cuma tim berperingkat 17. Apalagi, tim-tim papan bawah lain seperti Bournemouth dan Norwich City turut memetik kemenangan pada pekan ini sehingga peringkat Chelsea tidak melonjak secara signifikan - hanya naik satu strip ke posisi 15.

Namun, setelah menyaksikan permainan John Terry dkk. selama 90 menit kontra Sunderland bolehlah kalau optimisme dijunjung setinggi angkasa. Ada sebuah kelegaan luar biasa ketika melihat bagaimana Chelsea mampu unggul tiga gol tanpa balas sebelum Fabio Borini memperkecil keadaan.

Meski hanya didampingi asisten manajer Steve Holland di pinggir lapangan dan juga tanpa bintang Eden Hazard yang cedera, Chelsea mampu menampilkan sepakbola menyerang secara apik. Para pemain seakan-akan lupa bahwa ada tekanan berat yang sedang membebani pundak mereka.

Branislav Ivanovic, yang merupakan salah satu pemain Chelsea terburuk di musim ini, harus diakui layak dinilai sebagai man of the match. Satu gol tandukan menyambut sepak pojok Willian di menit kelima berlanjut dengan crossing berbahaya tak lama berselang yang berujung pada gol Pedro Rodriguez adalah buktinya.

Pedro sendiri juga tampil mengesankan lewat tusukan dan kecepatannya dari sayap. Pemain yang diboyong dari Barcelona itu mendapat sokongan tanpa henti dari duo Brasil, Willian dan Oscar. Nama terakhir kemudian mencetak gol ketiga Chelsea melalui titik putih untuk menandai kedigdayaan tim tuan rumah. Tiga poin krusial berhasil diamankan.

Selagi Mourinho menepi barang sejenak dari keriuhan dengan menyaksikan laga kasta kedua antara Brighton & Hove Albion dan Middelsbrough, senyum tulus mulai jelas terlihat dari wajah Roman Abramovich, fans, dan tentu saja para pemain Chelsea.

"Saya bisa memahami frustrasi fans. Ini wajar. Kita semua tahu apa yang Jose Mourinho lakukan untuk klub ini dan tidak ada yang berubah. Ini adalah hari yang emosional buat kami semua. Kami, para pemain, semua bertanggung jawab. Hanya satu cara untuk mengubah posisi, yakni para pemain harus kuat sebagai tim," tutur Ivanovic selepas laga.

Kini, Chelsea mengonfirmasi telah menunjuk Guus Hiddink sebagai manajer hingga akhir musim. Ini adalah kali kedua Hiddink melakoni peran serupa. Sebelumnya, Hiddink sukses mencegah kapal Chelsea karam pada paruh kedua musim 2008/09 setelah mengambil alih nahkoda tim dari Luiz Felipe Scolari.

Meski hanya empat bulan berada di Bridge, Hiddink langsung menjadi pujaan fans setelah mampu menghadirkan jejak manis di akhir musim, yakni trofi Piala FA, peringkat ketiga di liga, dan semi-final di Liga Champions. Di akhir musim tersebut, fans Chelsea mengumandangkan nama Hiddink layaknya Mourinho, memintanya untuk dipermanenkan. Sayang, Hiddink memilih kembali ke timnas Rusia untuk Piala Dunia 2010.

Tak cuma itu, Hiddink tercatat merupakan manajer Chelsea di era Abramovich dengan persentase kemenangan tertinggi, yakni 72,7 persen, unggul dari Mourinho yang dalam dua periode memiliki rataan kemenangan 66 persen.

Namun, muncul pula keraguan terhadap Hiddink mengingat dalam pekerjaan terakhirnya, pria berusia 69 tahun itu gagal total di timnas Belanda: ia dipecat dan Oranje gagal lolos ke putaran final Euro 2016. Kendati demikian, toh Hiddink tetap seorang manajer berpengalaman dan pernah merasakan atmosfer di Chelsea sehingga ia layak dijajal dan diberi kesempatan.

“Saya tidak sabar untuk segera bekerja dengan pemain dan staf di klub hebat ini, khususnya dengan para fans yang telah memberikan dukungan besar kepada saya. Chelsea adalah salah satu klub terbesar di dunia tetapi berada di tempat yang tidak seharusnya saat ini. Saya yakin kami bisa bangkit,” seru Hiddink.

Mari menanti seberapa jauh sang meneer Belanda itu mengantar Chelsea untuk memulihkan harkat dan martabatnya. Untungnya, Hiddink sudah sangat terbantu dengan performa positif yang ditunjukkan anak asuhnya barusan