Lima Dalih Penurunan Performa Barcelona

Tiga kekalahan beruntun yang dialami Barcelona tidak sekadar menjadi dampak dari kelelahan. Setidaknya, ada lima yang bisa dijadikan alasan atas fenomena ini. Apa saja?

Tiga kekalahan beruntun di La Liga Spanyol menjadi kulminasi penurunan performa Barcelona musim ini. Setelah mengantongi 39 laga tanpa kekalahan, Blaugrana laiknya tertimpa meteor dan menelan rentetan hasil buruk. Performa mereka yang mematikan di awal musim tiba-tiba hilang begitu saja tanpa bekas.

Kehilangan arah di El Clasico setelah unggul duluan, majal lawan Atletico Madrid, kutukan Anoeta, dan yang terakhir adalah petaka di Camp Nou kala menjamu Valencia. Faktor kelelahan menjadi sorotan utama, tetapi data menunjukkan bahwa hal itu merupakan akumulasi dari permasalahan-permasalahan lain.

TUNTUTAN JADWAL SUPER PADAT

Jadwal pada bukan alasan, tetapi jadwal super padat bisa menjadi alasan. Sejak awal musim 2015/16 dimulai, The Catalans telah mengikuti enam kompetisi. Dimulai dari Piala Super Eropa, Piala Super Spanyol, Piala Dunia Antarklub, Copa del Rey, La Liga, lalu Liga Champions. Hingga kini, Barcelona telah memainkan 12 laga lebih banyak dari Real Madrid, 10 laga lebih banyak dari Bayern Munich, tujuh kali lebih banyak dari Atletico Madrid, dan empat kali lebih banyak dari Manchester City.

Di saat klub-klub lain beristirahat di musim dingin, Barcelona harus berkunjung ke Georgia dan Jepang untuk melakoni Piala Dunia Antarklub. Skuat Luis Enrique dituntut untuk terus bertanding tanpa sempat mengendurkan otot sedikit pun. Jadwal super padat ini sangat menyita tenaga dan begitu banyaknya jumlah laga membuat mereka terluka di menit-menit akhir.

Sebagai tambahan, pengaturan jadwal La Liga juga sedikit “merugikan” Blaugrana dalam konteks Liga Champions. Mereka hanya punya waktu istirahat kurang dari 72 jam dalam peralihan dari El Clasico ke Liga Champions kontra Atletico. Sepekan kemudian, Lionel Messi dkk kembali dirugikan karena Los Rojiblancos punya waktu istirahat lima hari, sementara mereka hanya punya kurang dari empat  hari setelah kekalahan di Anoeta.

KAKI-KAKI YANG MULAI LELAH

Dalam laga kontra Atletico di Vicente Calderon, pemain Diego Simeone berlari 12 kilometer lebih banyak dari para pemain Barca. Di samping perbandingan ini, perlu digarisbawahi bahwa Barca berlari lebih sedikit dari rata-rata jarak yang ditempuh mereka di Liga Champions. Di kompetisi Eropa itu, Barcelona punya rata-rata jarak 106,3 km dan di Calderon mereka hanya berlari 102,7 km.

Tempo permainan mereka menurun dan sedikit bermasalah dengan penguasaan bola. Serangan balik tidak mempan melawan Atletico dan rapatnya pertahanan Diego Godin dkk membuat mereka makin frustrasi. Bisa disaksikan dalam heat-map di atas, Lionel Messi dkk jarang menginjakkan kaki mereka di kotak penalti Atletico, bahkan lebih banyak pergerakan mereka di kotak penalti sendiri.

SKUAT YANG DANGKAL

Kaki-kaki yang lelah itu tentu saja berawal dari skuat Barcelona yang dangkal. Luis Suarez, Sergio Busquets, Ivan Rakitic, Sergi Roberto, Marc-Andre ter Stegen, dan Munir El-Haddadi telah memainkan lebih banyak laga dari musim lalu. Mereka tidak punya pemain pengganti yang cukup berkualitas untuk mencegah Messi, Suarez, dan Neymar kelelahan.

Belum lagi, kepergian Xavi dan Pedro menambah masalah mereka, disusul dengan cedera Rafinha dan Jeremy Mathieu. Enrique tidak punya banyak pilihan untuk menggantikan mereka, apalagi kualitas Marc Bartra, Thomas Vermaelen, Douglas, dan Adriano tidak cukup untuk melapisi.

Embargo transfer yang mereka terima pun baru terasa dampaknya sekarang. Situasi terdesak itu membuat Enrique kesulitan memilih pemain baru sehingga berujung pada transfer Turan dan Vidal. Kedua pemain itu bahkan tidak menambah kadar kompetisi di Camp Nou.

DEKLINASI KETAJAMAN MSN

Dalam laga kontra Atletico di Camp Nou, Barcelona mencatatkan 20 peluang dan dua di antaranya menjadi gol Luis Suarez. Di Calderon, mereka hanya mencatatkan sembilan peluang tanpa gol. Hal ini diawali oleh penurunan performa Messi yang sempat majal gol dalam 450 menit. Di samping itu, La Pulga juga hanya menciptakan enam peluang di tiga kekalahan La Liga, bandingkan dengan 17 peluang yang ia catatkan di tiga laga sebelumnya.

Di sisi lain, Suarez dan Neymar juga kehilangan naluri golnya. Suarez gagal mencetak gol di tiga laga La Liga terkini, disusul oleh Neymar yang juga mengalami penurunan kreasi peluang. Enrique boleh saja meraih banyak kemenangan dengan “abrakadabra” untuk trio MSN, tetapi ketika ketiganya mengalami kemajalan, ia tidak punya opsi lain.

JEDA INTERNASIONAL YANG MERUGIKAN

Jika dirunut dari penurunan performa Barcelona, semua berawal ketika jeda internasional selesai. Barcelona merengkuh rentetan 39 laga tanpa kalah. Sejak 3 Oktober 2015 hingga laga kontra Villarreal yang berakhir 22, mereka juga meraih 12 kemenangan beruntun di La Liga, melangkah ke final Copa del Rey, dan mengalahkan Arsenal di perdelapan final.

Adapun di akhir Maret, 18 pemain membela negaranya masing-masing di kancah internasional. Suarez melalui jarak lebih dari 28.000 km. Messi memainkan dua laga penting bersama Barcelona. Neymar melakukan dua perjalanan ke Brasil kurang dari sebulan. Gerard Pique merupakan satu-satunya pemain yang bermain dua kali sebagai starter. Lalu, ada Mathieu yang mengalami cedera bersama timnas Prancis.

Kelelahan skuat Barcelona sepertinya memuncak di periode ini. Setelahnya, mereka kehilangan momentum dan gagal meraih hasil maksimal dari setiap laga. Liga Champions sudah pasti gagal digapai, lalu nasib trofi La Liga mereka juga mulai dipertaruhkan.

Topics