Manchester United Kalah Lagi, Jose Mourinho Harus Ubah Strategi

Kekalahan di markas Watford menjadi penegasan akan buruknya performa Setan Merah.

Manchester United menelan kekalahan ketiga beruntun setelah dipermak Watford 3-1 dalam lanjutan Liga Primer Inggris matchday kelima, Minggu (18/9) malam WIB. Hasil tersebut seolah menjadi penegasan akan buruknya performa Setan Merah, yang untuk kesekian gagal membuktikan kualitas skuat mahalnya.

Kekalahan ini tentu semakin membuat United tercecer dari persaingan juara – meskipun ini terlalu dini untuk dikatakan sebagaimana musim baru saja dimulai dan masih ada 33 matchday tersisa. Adapun kini, mereka tertinggal enam angka di belakang Manchester City yang selalu bermain sempurna, dan kehilangan poin ini menjadi kerugian tersendiri.

Di pertandingan melawan Watford, manajer Jose Mourinho menurunkan formasi berbeda dari kekalahan pada pertengahan pekan melawan Feyenoord di Liga Europa, dengan kapten Wayne Rooney dimainkan sejak menit awal di belakang Zlatan Ibrahimovic yang berperan sebagai penyerang utama.

United mengawali laga dengan tidak terlalu baik lantaran kubu lawan selalu memiliki kesempatan untuk mendekat ke gawang. Sejumlah tusukan yang dilancarkan tuan rumah pada akhirnya membuahkan hasil di menit ke-34, itu setelah gelandang Etienne Capoue meneruskan umpan tarik Daryl Janmaat dari sektor sayap.

The Red Devils kemudian mencoba untuk lebih mengontrol pertandingan, dan mereka sempat membuka asa lewat gol yang dicetak bocah ajaib Marcus Rashford saat laga melewati enam menit setelah satu jam. Akan tetapi, Watford kembali mampu menjaga kekompakannya dan sekali lagi ‘membunuh’ United melalui tusukan di sektor sayap yang berujung gol Camilo Zuniga di tujuh menit terakhir.

United pun frustrasi, dan di saat itulah The Hornets memaksimalkannya dengan Isaac Success sukses memenangkan penalti di pengujung babak kedua buah dari depresinya pasukan Mourinho. Troy Deeney yang bertindak sebagai eksekutor lantas tidak menyia-nyiakannya untuk kemudian membuat timnya menang atas United untuk kali pertama dalam tiga dekade terakhir.

Ini tentu menjadi momen pembelajaran yang harus cepat dipahami The Special One. Ia mau tak mau harus mengubah strategi untuk pertandingan ke depan, mengingat formula yang ia racik membuahkan tiga kekalahan dalam sepekan terakhir.

Satu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah menarik Rooney dari skuat, dan mau tak mau perjudian seperti itu harus diambil menimbang performa sang kapten tidaklah menawan, belum lagi pemain yang kerap disapa Wazza itu sering kehilangan bola yang membuat lawan tampil leluasa.

Mourinho juga perlu mengubah formasinya yang hanya bertumpu pada Ibrahimovic seorang, dengan mungkin memakai strategi dua striker yang dewasa ini seolah mulai ditinggalkan klub-klub di Liga Primer. Formasi dua striker itu sendiri berbuah manis saat Watford menerapkannya, dan itu terbukti merepotkan barisan pertahanan lawan yang ingin diteror selagi memanfaakan sektor sayap untuk membongkar pertahanan.

Satu hal yang juga perlu dibenahi adalah penempatan posisi dan pemberian tugas Paul Pogba. Pemain internasional Prancis itu sejauh ini gagal membuktikan harga mahalnya, dan orang-orang di luar sana – suporter bola secara umum – justru lebih banyak menghitung jumlah potongan rambutnya yang hampir selalu ganti ketimbang catatan gol ataupun assist yang ia berikan untuk tim - sejauh ini nol besar.

Mourinho sepertinya perlu mendengarkan saran dari legenda United sekaligus maestro lini tengah di eranya, Paul Scholes. Sosok berjuluk The Ginger Prince itu, yang mengenal Pogba sejak yang bersangkutan menimba ilmu di akademi, menilai kehebatan bintang Prancis itu akan terihat jika diduetkan dengan Michael Carrick yang jago mengatur tempo.

“Dia [Pogba] bukanlah yang terbaik dalam mengontrol pertandingan,” demikian Scholes kepada BT Sport beberapa hari sebelum laga kontra Watford digelar. “Kalian harus ingat dia datang dari tim Juventus yang brilian. Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio berperan sebagai pengontrol pertandingan dan membiarkan dia melakukan tugasnya. Saya ingin melihat Michael Carrick menemaninya. Dia bisa mengarahkannya dan memberitahunya ke mana harus ambil posisi.”

"Dia [Pogba] bukanlah yang terbaik dalam mengontrol pertandingan. Saya ingin melihat Michael Carrick menemaninya. Dia bisa mengarahkannya dan memberitahunya ke mana harus ambil posisi."

- Paul Scholes

Sayangya, saran itu tidak didengarkan Mourinho dan Carrick pun hanya duduk manis di bangku cadangan di pertandingan melawan Watford.

Terlepas itu, partner Pogba selama ini – Marouane Fellaini – tidak lantas dianggap buruk. Kita boleh akui bahwa pemain kribo itu sudah tampil maksimal dengan berperan sebagai ball winning midfielder, namun tugas untuk menjadi kreator serangan sepertinya tidak bisa diperankan oleh Pogba, yang tampaknya lebih mahir dalam menjaga bola dan melepaskannya.

Barisan belakang juga perlu diasah kekompakannya setelah duet Chris Smalling dan Eric Bailly – yang turun bersamaan untuk kali pertama di Liga Primer – sering kecolongan dalam mengawal Deeney dan Odion Ighalo. Duet ini masih bentukan awal, dan tentu perbaikan bisa diharapkan seiring berjalannya waktu.

Kini, Mourinho perlu merenung di kantornya untuk menganalisa apa yang salah dengan tim dan formasinya. Kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan diri akan ia miliki ketika bertandang ke markas Northampton di putaran ketiga Piala Liga pada Kamis (22/9) dini hari WIB mendatang, dan itu adalah pertandingan yang tak boleh lagi dibuang.