Masalah Utama AC Milan Saat Menguasai Pertandingan

Topics

Apa sebenarnya permasalahan AC Milan saat menguasai pertandingan? FourFourTwo mencoba untuk menganalisisnya melalui Erie Wicaksono.

Semenjak libur akhir tahun selesai, Milan sudah melakoni tiga laga Serie A 2014/15. Dari total poin maksimum sembilan, hanya satu yang bisa diperoleh mereka saat bermain imbang melawan Torino. Selebihnya mereka takluk dari Sassuolo dan yang terbaru ketika berjumpa Atalanta.

Catatan tersebut menjadi ironi lantaran mereka bisa menguasai pertandingan baik di hadapan pendukung sendiri atau tidak. Laga akhir pekan kemarin merupakan saat dimana persentase tertinggi penguasaan bola mereka sejauh ini, dengan mencapai 69,5% namun tak sebanding dengan gol yang mereka ciptakan ke gawang lawan.

Kali terakhir anak asuh Filippo Inzaghi meraup poin penuh adalah pertengahan bulan sebelum tahun berganti, Desember 2014. Menghadapi Napoli secara mengejutkan mereka melumat salah satu kandidat juara Serie A dengan dua gol tanpa balas. Catatan tambahan lain ialah total penguasaan bola hanya 47,5%.

Bertemu Sassuolo dan Atalanta, AC Milan selama 90 menit menguasai jalannya pertandingan terlihat dari persentase penguasaan bola. Pertama sebanyak 63,5% dan kedua jadi torehan paling tinggi sejauh musim ini berjalan.

Berangkat ke hal yang lebih mendetil ketika mereka masuk ke daerah final third lawan. Di dua pertandingan dimana mereka kalah, catatan buruk terlihat karena jarang sekali umpan-umpan mereka bisa sukses mendarat di kotak penalti lawan. Pertemuan dengan Atalanta terekam 160 dari 211 umpan, akan tetapi tidak ada satupun chance created terjadi dalam kotak 16 meter. Begitu juga kala bersua Sassulo (90/147) walaupun ada dua kali tercipta peluang.

Sementara ketika berhasil meraup poin penuh, karena tertekan oleh dominasi Napoli mereka tidak terlalu eksplosif di sepertiga daerah lawan. Namun sukses bermain lebih efektif beberapa chances created terjadi di sekitar kotak penalti.

Tak mampu berbuat banyak berbanding lurus dengan usaha mereka merobek jala lawan. 14 tendangan mengarah dilancarkan ketika bertemu Atalanta namun hanya empat yang mengarah tepat ke sasaran. Kala menjamu Sassuolo angka sama tercatat oleh Stats Zone dimana satu berhasil berbuah menjadi gol, secara total hanya 12 sepakan dilesakkan.

Mengandalkan serangan balik walau di kandang sendiri, 11 tembakan berujung pada terciptanya dua gol sementara sisa delapan bisa ditahan atau tidak jelas arahnya.

Catatan tersebut membuktikan bagaimana tumpulnya lini depan Milan semenjak melakoni libur. Kurang inisiatif dan kreatifitas membuat mereka hanya mampu sampai di sepertiga terakhir. Setelahnya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mendulang gol. Menguasai atau tidak, tetap saja gol harus diciptakan untuk mengamankan poin demi poin guna mencapai tujuan akhir menuju kompetisi bergengsi Champions League.