Mathieu Valbuena, Legenda Yang Kini Jadi Pengkhianat Sejati

Legenda Olympique Marseille, Mathieu Valbuena, kembali untuk kali pertama ke Stade Velodrome namun dengan jersey musuh besar sang mantan klub.

Big match Ligue 1 Prancis menghadirkan duel klasik antara Olympique de Marseille dan Olympique Lyon di Stade Velodrome, pada journee enam, Minggu (21/9) dini hari WIB.

Dihadiri lebih dari 60 ribu penonton, atmosfer pertandingan tampak jauh lebih panas dari biasanya. Bukan tanpa sebab karena pendukung tuan rumah Marseille, untuk kali pertama menyambut legenda klub yang baru setahun ditasbihkan statusnya, yakni Mathieu Valbuena.

Ups, namun dirinya tak kembali sebagai penggawa Les Phoceens melainkan dengan jersey kebesaran sang rival, Lyon. Suporter Marseille pun dibuat meradang sampai mempersiapkan penyambutan khusus bagi sang legenda baru, yang telah berubah jadi pengkhianat terbesar klub.

Mereka tak habis pikir, bagaimana mungkin Valbuena yang mereka bangga-banggakan sebagai legenda hingga nomor punggung 28 miliknya dipensiunkan, tega membela klub rival dalam periode kepergiannya yang sangat singkat.

Ya, dengan alasan mencari tantangan baru, pada musim panas 2014 lalu pemain berjuluk "Sepeda Kecil" itu memutuskan untuk menerima pinangan Dinamo Moskwa lewat banderol £6 juta.

Namun masalah internal serta hukuman UEFA yang menerpa klub asal Rusia tersebut, membuat Valbuena harus mencari klub lain pada bursa musim panas lalu agar kariernya tak mandek. 

Santer dirumorkan bakal hijrah ke Tottenham Hotspur, Fiorentina, atau Sevilla, pemain yang kini berusia 30 tahun itu malah memilih balik ke Ligue 1 dengan membela satu dari dua rival terbesar Marseille, Lyon! 

"Saya senang dengan proyek di sini di Lyon. Mereka menawarkan Liga Champions, itu membuat dampak pada keputusan saya.Dalam karier pesepak bola, penting untuk memenangkan gelar. Saya akan membawa pengalaman saya dengan kerendahan hati. Selain itu Euro 2016 sangat penting bagi saya. Tim nasional Prancis, itu motivasi keputusan saya," begitu alasan Valbuena hijrah ke Lyon.

Bentrok yang menandai kembalinya Valbuena ke Velodrome pun dimulai dengan suasana mencekam. Jelang kick-off, suporter Marseille membuat voodoo raksasa sang (mantan) legenda, yang bagian kepalanya digantung di sebuah tiang. Voodoo itu lantas dilempari berbagai macam benda hingga kembang api, yang memicu kebakaran.

Untungnya pertandingan masih bisa dilangsungkan, tapi tetap dengan nuansa panas. Hal itu bisa dilihat dari tiga kartu kuning dan satu kartu merah yang harus dikeluarkan sang wasit, Ruddy Buquet, di sepanjang babak pertama. Valbuena sendiri selalu mendapat siulan dari publik stadion, setiap kali menyentuh bola.

Perlahan namun pasti, amarah suporter Marseille pun memuncak setelah Lyon unggul 1-0 di babak pertama, lewat penalti Alexandre Lacazettte, di mana Valbuena ikut andil dalam prosesnya. Di awal babak kedua, mereka lantas melempari lapangan dengan botol, bendera, hingga kembang api. Polisi pun dibuatnya bertindak lebih tegas.

Situasi tak kondusif itu pun memaksa Buquet menghentikan laga hingga 30 menit lamanya. Dalam momen tersebut, Valbuena tertangkap kamera mencak-mencak di ruang ganti akibat ulah para suporter yang dahulu memujanya. Pada akhirnya pertandingan bisa dilanjutkan dan Marseille sukses menutup laga dengan kedudukan 1-1, berkat gol balasan Karim Rekik. Valbuena pun pulang dengan selamat, karena jika sampai Lyon menang kejadian yang lebih buruk bukan tak mungkin terjadi.

Peristiwa macam itu sejatinya bukan cerita baru di dunia sepakbola. Kita tentu ingat bagaimana tifosi Fiorentina membakar patung Roberto Baggio ketika hijrah ke Juventus, kepala babi yang dilempar suporter Barcelona pada Luis Figo yang membela Real Madrid, hingga agen Niko Kranjcar yang dibunuh ketika membawa sang pemain pindah ke Hadjuk Split dari Dinamo Zagreb.

Benar jika dalam sepakbola kesetiaan memang penting dan membanggakan. Namun harus digarisbawahi bahwa para pelakunya menjalani karier dengan asas profesionalisme. Rasa saling hormat harus diutamakan dalam kasus ini, agar kejadian serupa tak melulu terulang.

 

Topics