Mats Hummels, Renato Sanches & Ambisi (Semu) Bayern Munich

Topics

Tepuk tangan untuk Bayern karena raihan titel liga ke-26 langsung diikuti dengan dua rekrutan top. Akan tetapi, kejayaan absolut sang raja Jerman bisa menjadi pisau bermata dua.

Tulisan “4EVER” tampak pas menempel di kaus merah yang dikenakan para pemain Bayern Munich usai mengatasi Ingolstadt 2-1 di Audi-Sportpark, Sabtu (7/5). Kemenangan itu memastikan Bayern memeluk Meisterschale alias trofi Bundesliga Jerman keempat kalinya secara beruntun alias titel liga ke-26 sepanjang sejarah. Sebuah rekor tersendiri di dalam negeri dan menjadikan Bayern seperti akan terus menjadi raja sepakbola Jerman “untuk selama-lamanya”.

Memasuki ruang ganti, foto selebrasi Bayern jelas membikin iri klub mana pun. Terlihat di sana Thomas Muller, Manuel Neuer, Jerome Boateng, David Alaba, Javi Martinez yang belum lama ini menambah masa baktinya hingga 2021. Lalu ada Douglas Costa dan Joshua Kimmich yang punya ikatan dinas sampai 2020. Sedangkan bintang Die Roten lainnya seperti Robert Lewandowski dan Arturo Vidal masih memiliki kontrak hingga 2019.

Hanya tiga hari selepas perayaan juara tersebut, muncul dua kabar menggembirakan lanjutan yang membuat setiap fans Bayern melonjak kegirangan: Sabener Strasse di musim depan bakal kedatangan kapten Borussia Dortmund Mats Hummels dan wonderkid Portugal Renato Sanches. Keduanya diikat dengan kontrak lima tahun, dengan nama terakhir diangkut dengan nilai transfer yang bisa membengkak hingga €80 juta.

Dengan roster mengerikan semacam itu, tak mengherankan jika masa depan Bayern selama sekira satu dekade ke depan bakal terjamin. Belum lagi dengan fakta bahwa Bayern didukung kekuatan finansial superior dan diasuh oleh manajemen top yang sudah memahami seluk-beluk klub, seperti CEO Karl-Heinz Rummenigge dan direktur teknik Matthias Sammer. Perlu diingatkan kembali, musim depan maestro taktik Italia, Carlo Ancelotti, bakal “turun gunung” untuk duduk sebagai nahkoda The Bavarians menggantikan Pep Guardiola.

“Di seluruh aspek, Bayern berada jauh di depan. Semakin sulit bagi tim-tim Bundesliga lain untuk mengejar mereka di masa depan. Stadion mereka sudah lunas dibayar dan mereka bisa mendapat keuntungan yang lebih besar dari sponsor,” terang Klaus Allofs, direktur olahraga Wolfsburg, tim yang musim lalu menjadi pesaing terkuat Bayern, namun kini harus terlempar ke papan tengah.

Terkuat, tersukses, dan terkaya di seantero Jerman raya, itulah Bayern. Koleksi titel liga mereka (26 kali) sudah mustahil dikejar oleh pesaing terdekat seperti Nurnberg (9), yang kini malah sedang mengadu nasib di kasta kedua Bundesliga, dan rival masa kini Dortmund (8). Situasi ini membuat Bayern seakan-akan berjarak bertahun-tahun cahaya dari para rivalnya di Jerman.

Akan tetapi, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa. Banyak kalangan menilai kekuasaan absolut Bayern itu hanya bisa disejajarkan dengan level Eropa. Tak ayal, ketika Bayern tersingkir di semi-final Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun usai didepak Atletico Madrid pada awal Mei lalu, media-media Jerman berlomba-lomba menuliskan “obituari” untuk Guardiola.

Bahkan eks penyerang Bayern, Ivica Olic, sampai hati berkomentar sadis kepada Guardiola. "Itu adalah sebuah kegagalan. Ia datang ke Bayern usai Jupp Heynckes memenangkan semuanya, Guardiola lantas hanya ditugaskan untuk meniru suksesornya. Namun ia tidak mampu memenuhi tugas tersebut dan bakal dilupakan," ujar Olic seperti dikutip Sporstke Novotski.

Standar tinggi seperti yang diungkapkan Olic itu terkesan berlebihan, namun itulah keniscayaan bagi klub sebesar Bayern. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi tim asal Bavaria itu selain menatap ke depan dan mendesain skuat yang lebih solid. Pembelian Hummels dan Sanches diharapkan menghadirkan jawaban yang tepat. Tapi, benarkah demikian?

Hummels, salah satu palang pintu top di Eropa, sedang dalam usia terbaiknya dan ia memilih kembali ke klub pertamanya. Maka, tak terbantahkan jika pertahanan Bayern di musim depan akan semakin sulit ditembus. Sang kiper terbaik di dunia, Neuer, akan terproteksi sempurna lewat kehadiran back-four Lahm, Boateng, Hummels, dan Alaba. Secara kualitas, ini mungkin adalah lini belakang tertangguh di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sudut pandang negatif, perekrutan Hummels sama artinya dengan pelemahan tim rival, dalam hal ini Dortmund, dan bisa menjadi bumerang bagi Bayern. Tak punya lawan di level domestik, maka Bayern akan sulit menyetel mesin yang pas saat berkompetisi di Eropa. Bukankah kesuksesan Real Madrid dan Barcelona di Eropa terjadi karena rivalitas tinggi di antara keduanya di Spanyol?

Jangan lupa, Bayern meraih treble pada 2012/13 setelah terpicu oleh kesuksesan Dortmund. Kala itu Dortmund masih dilatih oleh Jurgen Klopp dan bermaterikan pemain seperti Lewandowski, Mario Gotze, Marco Reus, dan Hummels sendiri. Tiga di antaranya kini menyeberang ke Allianz Arena. Lagu lama pun berulang kembali, yakni kegemaran Bayern mencaplok aset dari tim rival. "Perampokan" semacam ini memang tidak melanggar aturan, namun menghadirkan noda bagi citra Bayern.

Kisah kegagalan Paris Saint-Germain di Eropa bisa dijadikan pelajaran bagi Bayern. PSG tak tergoyahkan di Prancis, bahkan menjuarai Ligue 1 2015/16 secepat kilat, saat musim baru memasuki awal Maret. Namun, seiring PSG berkembang menjadi klub kaya dan tak punya lawan di Prancis, mereka pun kelabakan ketika berkompetisi di Liga Champions dengan paling mentok hanya sampai perempat-final.

Sementara itu, pembelian Sanches juga tidak melulu dipandang secara positif. Keterlibatan uang senilai €80 juta (biaya transfer €35 juta plus bonus €45 juta tergantung kesuksesan sang pemain) untuk seorang pemain berusia 18 tahun merupakan kombinasi yang terlalu berlebihan.

Memang sulit dibantah bahwa Sanches adalah salah satu gelandang muda terbaik di Eropa yang diincar banyak klub top, sampai-sampai fans Manchester United ramai-ramai menghujat Ed Woodward karena merasa ditipu oleh obral janji klub merekrut Sanches. Namun, di tengah letupan optimisme terhadap Sanches, ada riak-riak kecil pesimisme bahwa investasi besar yang dilakukan Bayern ini bisa berakhir percuma, sebagaimana yang kini tampak pada Gotze.

Pasalnya, lini tengah Bayern sudah terlampau gemuk. Vidal, Thiago Alcantara, Javi Martinez, Xabi Alonso, Sebastian Rode, hingga Kimmich membuat posisi gelandang tengah menjadi penuh sesak. Ketakutan terbesar adalah Sanches hanya menjadi penghangat bangku cadangan, kemudian dipinjamkan, lantas hilang ditelan waktu. Mari berharap agar skill menawan, stamina kuda, dan rambut gimbal Sanches mampu menarik hati Ancelotti di musim depan.

Pada akhirnya, kehadiran dini Hummels dan Sanches adalah berkah yang tak terkira. Bayern baru saja membeli masa kini (Hummels) dan masa depan (Sanches) sekaligus sekali lagi membuktikan betapa masifnya ambisi yang mereka punya. Semoga luapan ambisi itu tak sampai tumpah-tumpah sehingga menenggelamkan mereka sendiri.