Megalophobia & Alergi Emirates - Banyak Berdoalah, Liverpool!

The Reds memang impresif di tahun 2015, namun melihat rekor mereka menghadapi klub empat besar, plus catatan hitam di Emirates, mereka harus banyak berdoa.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Dan sepertinya Liverpool harus banyak berdoa jelang laga kontra Arsenal di Emirates Stadium, Sabtu (5/4). Betapa tidak, nilai mereka selalu merah setiap kali berhadapan dengan klub empat besar musim ini – mungkin menderita Megalophobia, takut terhadap hal (klub) besar. Fakta bahwa mereka selalu lembek saat bertandang ke Emirates pun tak bisa dipungkiri.

Well, mari kita mulai dari periode kelam Liverpool di musim ini, yakni sebelum mereka menerapkan formasi 3-4-3.

Selama periode tersebut, The Reds menantang empat besar Liga Primer dua kali. Mereka berkunjung ke Etihad Stadium, markas Manchester City, di pekan kedua. Selanjutnya, mereka menjamu Chelsea di Anfield. Keduanya berakhir dengan kekalahan The Reds, catatan itu sekaligus memperburuk kondisi mereka yang sempat terjebak di papan tengah.

Brendan Rodgers akhirnya menerapkan formasi tiga bek dalam laga kontra Manchesster United di Anfield sebulan setelahnya. Ini merupakan titik awal kebangkitan Liverpool sekalipun mereka harus kebobolan tiga gol tanpa balas. Perkembangan selanjutnya, mereka mampu menahan imbang Arsenal lewat gol telat Martin Skrtel walau beberapa penggawa inti absen dalam laga tersebut.

Liverpool mencatatkan 12 laga tanpa kekalahan pasca hasil imbang kontra The Gunners di Anfield. Mereka bahkan mampu meraih kemenangan atas Southampton dan Tottenham Hotspur, pesaing empat besar lainnya.

Tak lupa, The Reds meraih kemenangan dramatis saat menghadapi juara Liga Primer musim lalu, City, lewat gol cantik Jordan Henderson dan Philippe Coutinho. Catatan mereka makin impresif saat berhasil mencetak enam laga tandang tanpa kebobolan satupun, rekor yang menyamai pencapaian Bill Shankly nyaris empat dekade sebelumnya.

Sayang, rekor ajaib mereka dihentikan oleh kekalahan 2-1 dari Man. United di Anfield dua pekan lalu.

Ini merupakan pertanda buruk bagi Liverpool. Sekalipun skuat muda mereka telah menyajikan konsistensi yang luar biasa, mereka tetap melempem saat menghadapi tim empat besar lainnya. Dari total 6 laga kontra tim empat besar musim ini, hanya satu kemenangan yang mereka raih dan empat laga lainnya berujung pada ratapan.

Ya, skuat muda Liverpool yang hanya kalah muda dari Spurs itu memang tampil konsisten sejak menerapkan formasi 3-4-3. Namun statistik tak bisa berbohong, mental mereka masih butuh penguatan saat menghadapi klub empat besar lainnya. Laga kontra Arsenal besok Sabtu pun jadi salah satu laga yang harus mereka waspadai.

Faktor lain yang membuat mereka harus banyak berdoa ialah keangkeran Emirates Stadium. Markas Gunners ini memang tidak lagi angker bagi klub besar seperti Manchester United, Chelsea, dan Manchester City. Namun bagi The Reds, tempat itu selalu jadi momok yang menakutkan.

Sejak era Liga Primer dimulai, Liverpool melakoni empat belas pertandingan melawan Arsenal di Highbury – meraih lima kemenangan dan empat hasil imbang. The Reds juga melakoni enam musim tak terkalahkan di London Utara, selama periode 1995 – 2000. Robbbie Fowler, Steve McManaman, dan Titi Camara selalu mencetak gol kemenangan nan memuaskan dalam setiap laga tersebut. Ini merupakan rekor hebat melawan rival.

Saat pasukan Arsene Wenger bedol desa ke Emirates sembilan tahun lalu, tentu Kopites berharap torehan emas mereka terus berlanjut, apalagi Arsenal merasa tak nyaman di rumah barunya. Baik klub maupun fan kesulitan beradaptasi dan atmosfer yang dihasilkan tak semegah Highbury. Hal ini membuat tuan rumah frustrasi dan kesulitan menampilkan performa terbaik. Chelsea, Manchester United, dan Chelsea mampu memanfaatkan hal ini dengan baik.

Namun, Liverpool tak mampu mengeruk keuntungan dari “homesick” yang dialami Arsenal saat itu.

Kemenangan cantik 2-0 di Agustus 2011 jadi satu-satunya momen di mana mereka mampu meraih tiga poin di Emirates dalam delapan kunjungan mereka. Empat laga berakhir imbang, sementara tiga lainnya ditutup dengan kekalahan The Reds.

The Reds memang impresif di tahun 2015. Namun menilik rekor mereka menghadapi klub empat besar, ditambah dengan catatan hitam di Emirates, mereka harus banyak berdoa – dan memperbaiki performa, pastinya.

addCustomPlayer('12jn6r4k19le814u492stgt7su', '', '', 620, 540, 'perf12jn6r4k19le814u492stgt7su', 'eplayer4', {age:1426476447716});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.