Menanti Kiprah Rahmad Darmawan Sebagai Pelatih T-Team

Mengukur kesiapan T-Team untuk mengarungi musim baru kompetisi Malaysia, sejauh mana RD dan pasukannya bisa melangkah?

Tak dimungkiri jika Rahmad Darmawan merupakan salah satu pelatih yang kenyang dengan asam garam sepakbola Indonesia. Namun tahun depan, pelatih yang akrab disapa RD itu akan menjajal kompetisi mancanegara untuk kali pertama dalam karier kepelatihannya dengan Malaysia menjadi tujuan.

Ya, juru taktik berusia 49 tahun tersebut telah resmi ditunjuk untuk menangani klub Malaysia Premier League (MPL) atau setara dengan kasta kedua, T-Team dengan durasi kontrak selama dua musim ke depan.

"Kontraknya sebenarnya satu plus satu, ya bisa disebut dua tahun. Kerugiannya, saya tidak bisa melakukan negosiasi ulang ketika diperpanjang, dan kalau saya memutuskan berhenti akan kena penalti tiga bulan gaji," jelas RD, kepada Goal Indonesia beberapa waktu lalu.

Minat T-Team untuk merekrut RD tentunya didasari dengan pertimbangan matang. Reputasi sebagai peramu strategi kawakan yang pernah menghadirkan sejumlah trofi sejak memulai kiprah dalam dunia kepelatihan sepakbola tanah air menjadi nilai plus tersendiri.

Total lima trofi juara mampu dikoleksi RD dalam dua periode kepelatihannya bersama dua klub berbeda. Titel pertama dipersembahkannya ketika mengantarkan Persipura Jayapura menjadi kampiun Divisi Utama - kasta tertinggi Indonesia saat itu - pada tahun 2005 lalu.

Kesukesan lebih tinggi digapai pelaith yang juga memiliki latar belakang sebagai marinir tersebut saat dipercaya memimpin Sriwijaya FC, di sana RD menghadirkan gelar juara Divisi Utama musim 2007/08 serta tiga torehan Piala Indonesia masing-masing tahun 2007, 2009 dan 2010.

Yang menarik, kedua tim tersebut langsung dibawa RD untuk meraih gelar ketika ditukangi pada musim pertamanya. Selebihnya, RD bisa dibilang gagal untuk memenuhi ekspektasi kala menjabat sebagai pelatih kepala di berbagai klub lain seperti Persikota Tangerang, Persija Jakarta, Arema Malang hingga Persebaya Surabaya.

Kendati demikian, menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah RD dalam musim perdananya menangani T-Team. Target tinggi jelas dibebankan manajemen klub asal negeri Terengganu tersebut kepada sang pelatih.

Awalnya, skuat T-Team disiapkan untuk kembali berkiprah di pentas MSL musim 2016 setelah klub gagal meraih tiket promosi ke Malaysia Super League (MSL) tahun ini. Namun dengan adanya perubahan struktural pada kasta tertinggi kompetisi Malaysia tersebut selepas didepaknya wakil Singapura, LionsXII, maka kini ada dua skenario yang bakal dihadapi RD dan segenap anak buahnya.

Tanpa LionsXII di MSL musim depan maka ada satu slot kosong, maka dari itu Federasi Sepakbola Malaysia (FAM) memutuskan untuk menggelar partai play-off, T-Team yang menduduki peringkat ketiga klasemen akhir MPL memiliki kesempatan untuk mempercepat langkah 'promosi' mereka andai bisa menaklukkan ATM FA yang menempati urutan ke-11 dari 12 kontestan MSL musim ini.

Dua kemungkinan yang sama-sama memiliki keuntungan dan kekurangan. Jika sukses langsung menapaki jenjang tertinggi, maka tantangan yang dihadapi jelas bakal lebih sulit di mana mereka dihadapkan dengan sejumlah tim kuat seperti Selangor, Pahang dan juara bertahan sekaligus tim bertabur bintang Johor Darul Ta'zim. Sementara apabila gagal, maka kembali ke skenario awal yakni tampil di MPL.

Menilik materi dan persiapan yang dimiliki skuat T-Team menjelang musim baru dimulai, perombakan besar dilakukan oleh klub yang bermarkas di Sultan Ismail Nasiruddin Shah Stadium terutama mendepak empat penggawa asing, termasuk duo Uzbekistan, Farhod Tadjiyev dan Sadriddin Abdullaev yang bisa dibilang cukup memberikan kontribusi positif. Situasi itu ditanggapi cepat oleh manajemen yang langsung menggaet duo bintang asal Indonesia Super League yakni Makan Konate dan Abdoulaye Maiga.

Dengan masuknya Konate dan Maiga, serta bertahannya penyerang asal Kroasia, Tomislav Busic, maka menyisakan satu tempat tersisa bagi kuota pemain asing. Dalam pencarian pemain asing ini, RD tak menutup kemungkinan bakal merekrut pemain asal Indonesia. Nantinya kepiawaian RD bakal diuji, bagaimana ia meramu deretan pemain asing berkelas dengan para penggawa lokal berpengalaman seperti duo senior Mohd Hasbullah Awang dan Mohd Marzuki Yusof.

Seandainya gagal meraih tiket 'percepatan promosi' ke MSL, toh T-Team tak perlu berkecil hati karena pada dasarnya skuat mereka lebih difokuskan untuk berkiprah di kasta kedua dengan mengusung target jangka panjang untuk meneruskan stabilitas tim yang sudah dibangun Tomislav Steinbruckner selaku suksesor RD selama setahun terakhir.