Menilik Sejarah John Terry Kontra Manchester United

Menyambut laga yang, besar kemungkinan, akan jadi duel terakhirnya kontra Manchester United, mari menilik sejarah John Terry ketika bertemu Setan Merah.

Meski kedua tim yang akan bertanding menjalani musim ini jauh di bawah ekspektasi, aroma Big Match tetap kuat terasa dalam bentrok Chelsea kontra Manchester United di Stamford Bridge, dalam lanjutan Liga Primer Inggris matchday 25, Minggu (7/1) malam WIB.

Selain seluruh fans kedua tim, laga ini juga tentu amat dinantikan oleh penikmat sepakbola di seluruh dunia. Meski begitu tak ada yang lebih menantikan pertandingan ini dari kapten sekaligus legenda hidup Chelsea, John Terry.

Ya, beberapa pekan lalu untuk kesekian kalinya manajemen klub kembali mengeluarkan kebijakan kejam dengan tak memperpanjang kontrak loyalisnya, kali ini Terry. Keputusan itu membuat ini akan jadi musim pamungkas bek berusia 35 tahun tersebut, seiring masa kerjanya yang kadaluarsa di akhir musim.

Karenanya, besar kemungkinan bahwa partai ini akan jadi aksi pamungkas Terry menghadapi United dengan jersey Chelsea. Kemungkinan lain memang ada, dengan Chelsea dan United yang masih bercokol di Piala FA bisa saling bertemu. Namun potensinya kecil dan yang pasti ini akan jadi duel terakhir sang kapten kontra Setan Merah di Liga Primer Inggris.

Berdasar rangkuman statistik, United merupakan tim ketiga yang paling sering dihadapi Terry di sepanjang kariernya. Tercatat ada 32 laga kompetitif di semua ajang resmi yang melibatkan kedua belah pihak. Jumlah itu masih di bawah Liverpool (38 kali) sebagai tim yang paling kerap dihadapi dan Arsenal (36 kali) di tempat kedua.

Namun Terry tak lantas jadi jimat keberuntungan Chelsea, untuk kalahkan United. Hal itu terlihat jelas jadi statistik hasil sederhana yang didapat. Sejak memulai sejarah pertemuan pada 10 Februari 2001, The Blues dibawanya menang 13 kali atas The Red Devils, kalah 10 kali, dan sembilan laga sisanya berakhir seri.

Mayoritas pertemuan Terry dan United tentu saja tersaji di Liga Primer Inggris. Bertemu sebanyak 24 kali, The Iron Man superior dengan merasakan 10 kemenangan, delapan kali seri, dan hanya menelan enam kekalahan.

Namun superioritas itu tak berlaku jika Terry bertemu United di luar EPL. Dari delapan bentrokan yang hadir, dirinya harus mengakui keunggulan sang rival sebanyak empat kali, sekali seri, dengan tiga sisanya berujung kekalahan.

Tiga dari empat kekalahan tersebut didapat dari ajang Liga Champions, di mana pemain lulusan akademi West Ham United itu selalu menelan kekalahan.

Tangis dan tawa warnai sejarah Terry kontra United

Bicara momen spesial, dengan mudah kita bisa menyebut bahwa duel Chelsea kontra United di matchday 12 EPL 2009/10 adalah yang terbaik bagi Terry. Ketika itu ia jadi pahlawan publik Stamford Bridge dengan mencetak gol tunggal kemenangan sekaligus gol semata wayangnya ke jala United. Si Biru diantarkannya menang tipis 1-0 dan jadi sinyal kuat dominasi Chelsea di EPL pada musim tersebut.

Sementara mudah pula bagi kita untuk menunjuk momen terburuk Terry kontra United. Momen itu terjadi pada final Liga Champions musim 2007/08 silam, di mana dirinya jadi salah satu biangkerok kegagalan Chelsea jadi kampiun. Lantaran terpeleset dan gagal pada penalti kelima yang bisa memastikan kemenangan, United pada akhirnya malah membalikkan situasi dan keluar sebagai juara.

“Saya sudah pasti susah melupakan itu. Saya masih sering terbangun di malam hari dan merasa seperti sampah, kenangan itu membekas dan saya selalu mencoba untuk kembali tidur. Tapi ketika bangun, bang, perasaan buruk itu tiba-tiba bisa hadir. Ketika [final] itu saya hanya duduk di sana dan marah. Saya tidak ingin berada di sana. Itu benar-benar waktu yang mengerikan buat saya,” kenang Terry soal kegagalan penaltinya, seperti dikutip Daily Mail.

Akan mengharukan jika kita menyaksikan highlight duel Terry kontra United, karena di sana terdapat begitu banyak kebahagiaan juga kesedihan, tawa juga tangis.

Bagaimanapun, mari kita nikmati pertandingan (yang mungkin) pamungkas John Terry kontra United, Minggu (7/2) malam nanti, karena kita akan kehilangan satu lagi pejuang legendaris duel bersejarah ini.