Menimbang Plus-Minus Penunjukan Pep Guardiola Sebagai Manajer Manchester United

Guardiola akan merevolusi gaya bermain Setan Merah, tapi ia sejauh ini baru terbukti di liga yang hanya diramaikan oleh dua kuda pacu.

Siapa yang tidak mengenal Pep Guardiola? Pelatih cerdas yang merevolusi sepakbola dengan gaya tiki-taka yang mengantarnya ke tangga juara bersama Barcelona dan Bayern Munich.

Guardiola pertama kali mengembangkan taktik andalannya tersebut pada 2008 silam sewaktu diberi kepercayaan menukangi Barcelona, yang memang sudah memiliki deretan pemain kelas dunia tak terkecuali Lionel Messi.

Bersama Barca, prestasinya sungguh mengagumkan. Pada 2011 saja, ia sanggup menyapu bersih semua piala yang tersedia sebelum akhirnya memutuskan pergi ke Bayern di musim panas 2013.

Tak beda jauh dengan waktunya di Barca, Guadiola mengubah Bayern menjadi klub yang semakin ditakuti sebagaimana ia berperan sebagai suksesor Jupp Heynckes yang sebelumnya sukses menghadirkan treble.

Di Bayern, pelatih asal Spanyol ini mengembangkan pemainnya sampai mencapai kemampuan terbaik, salah satunya adalah menggeser posisi Philipp Lahm yang awalnya full-back kanan menjadi gelandang pembagi bola sampai ke winger kanan.

Pujian pun kerap dialamatkan kepadanya, salah satunya datang dari mantan gelandang Bayern Olaf Thon, yang menyatakan: “Untuk mengembangkan pemain seperti Jerome Boateng dan melebarkan posisi Philipp Lahm, sebagaimana ia kini adalah winger kanan, Rafinha di sektor kiri – Pep Guardiola telah merevolusi posisi pemain yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan,” ujarnya kepada Omnisport.

Adapun pada Minggu kemarin Bayern mengonfirmasi kepergian Guardiola pada akhir musim, dengan Carlo Ancelotti ditunjuk sebagai suksesor untuk masa jabatan tiga tahun. Pengumumannya itu tak pelak menghadirkan banyak spekulasi, dan ia kini dikaitkan dengan pekerjaan melatih di Liga Primer Inggris – salah satunya adalah Manchester United.

Secara kebetulan, United dipercaya tengah menimbang masa depan manajer Louis van Gaal yang gagal mengangkat prestasi anak asuhnya dalam kurun waktu 18 bulan terakhir.

Kekalahan 2-1 dari Norwich City pada akhir pekan kemarin membuat posisi Van Gaal kian terdesak dan itu menjadi kekalahan ketiga beruntun untuk United di semua kompetisi. Dan lebih dari itu, mereka sudah tidak lagi bisa menang sejak keberhasilan memetik kemenangan di markas Watford pada akhir November, dan mereka kini tengah dalam laju enam laga tanpa menang.

Ada laporan yang mengklaim bahwa pihak klub akan memecat Van Gaal jika tim arahannya kembali kalah saat menyambangi markas Stoke City pada Boxing Day nanti, dan nama Guardiola menjadi salah satu favorit selain Jose Mourinho.

Jika United pada akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Guardiola, bisa jadi pria berusia 44 tahun itu akan merevolusi gaya bermain Setan Merah yang sudah tidak memiliki ciri khas pasca pensiunnya Sir Alex Ferguson.

Guardiola tidak bisa dipungkiri merupakan sosok pelatih muda nan cerdas, namun ia sejauh ini baru terbukti di liga yang hanya diramaikan oleh dua kuda pacu yang memiliki sumber daya dan kekuatan finansial di atas yang lainnya.

Sewaktu di Spanyol, Guardiola praktis hanya bersaing dengan Real Madrid, sementara di Jerman ia dihadapkan dengan Borussia Dortmund. Namun jika ia berani merambah Inggris, maka klub-klub dari urutan pertama sampai terbawah akan memberinya sakit kepala mengingat pada tahun depan semua klub itu akan mendapat kucuran dana dari hak siar televisi yang tidak sedikit – yang tentu bakal membuat persaingan menjadi semakin ketat.

Terlepas itu, Guardiola dikenal mampu mempromosikan talenta dari akademi dan memaksimalkan skuat yang dimiliki, dan bukan tidak mungkin ia akan membawa United kembali ditakuti dengan kecerdikannya dalam meracik strategi – namun itu semua hanya akan terjadi sampai pihak klub benar-benar melengserkan Van Gaal dan menunjuknya sebagai pengganti.