Obituari Maulwi Saelan: Pencetus Piala Soeratin

Topics

Meski masa jabatannya sebagai ketua umum PSSI berlangsung singkat, namun banyak hal yang telah dilakukannya demi kemajuan induk organisasi sepakbola Indonesia itu.

Kabar duka menghampiri sepakbola Indonesia, menyusul salah satu kiper legendaris Maulwi Saelan yang meninggal dunia pada usia 90 tahun. Pria kelahiran Makassar, 8 Agustus 1926, itu tutup usia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, pada pukul 18.10 WIB.

Penulis sendiri menerima kabar tersebut saat sedang berada di tengah kemacetan jalan raya Sudirman, Jakarta, sekitar pukul 19.00 WIB. Sontak, memori penulis langsung terbawa pada pengalaman awal tahun 2012. Di mana ketika itu, penulis merasa beruntung bisa mewawancarai mantan ajudan Presiden RI pertama Soekarno ini di sekolah binaannya Al Azhar Syifa Budi, Kemang, Jakarta Selatan.

Saat itu, Maulwi yang masih berusia 85 tahun dengan cermat menceritakan berbagai pengalaman hidupnya sebagai seorang pesepakbola dengan status tentara. Bisa dibilang, untuk orang seusianya, ingatannya masih sangat kuat. 

Ceritanya diawali saat dia mulai dijerumuskan sang ayah Amin Saelan ke sepakbola. Amin merupakan tokoh pejuang nasional yang mendirikan klub sepakbola bernama Main Oentoek Sports (MOS) Makassar. Di MOS itulah Maulwi mengenyam ilmu sepakbola dari ayahnya. "Beliau yang menempa saya jadi kiper. Sebelumnya saya bermain di posisi depan. Tapi ketika mendapat latihan kiper, ternyata saya lebih bagus bermain di posisi itu," ucap Maulwi.

Seiring berjalannya waktu, Maulwi mulai dipanggil memperkuat tim Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga timnas Indonesia. Prestasi itu diraihnya dengan penuh kerja keras dan semangat. Apalagi saat itu Maulwi juga masih aktif sebagai tentara.

"Kalau tidak ada tugas dari kesatuan, saya izin bermain memperkuat timnas atau klub. Saya pun pernah absen memperkuat timnas di Asian Games 1954 Manila karena harus ikut perang," kenangnya. 

Kenangan lain pun langsung diceritakannya. Mulai dari kiprahnya di Asian Games pertama pada 1951 di New Delhi, India, hingga kisah heroiknya saat membawa timnas Indonesia menahan imbang tanpa gol salah satu raksasa sepakbola dunia kala itu Uni Soviet di pertemuan pertama Olimpiade Melbourne 1956. Sayang pada pertemuan kedua, Indonesia yang ketika itu dilatih Antun "Toni" Pogacnik harus takluk dengan skor telak 4-0 dari Uni Soviet. Beberapa coretan strategi maupun data yang ditulis Toni Pogacnik saat menangani timnas masih disimpan rapi olehnya dan sempat ditunjukkan kepada penulis.

Menurutnya, selama menjadi kiper, tendangan paling keras yang pernah diterima datang dari striker Lokomotiv Moskow yang juga pemain legendaris Uni Soviet (sekarang Rusia), Valentin Bubukin. "Pernah pemain belakang Indonesia pingsan setelah kepalanya terkena bola tendangan Bubukin," ungkap Maulwi, yang juga mengakui kerap menjahili striker lawan.

Kisahnya berlanjut setelah pensiun dari lapangan hijau pada awal 1960-an. Maulwi yang pensiun dari tentara dengan pangkat Kolonel CPM ini pun terpilih menjadi ketua umum PSSI pada kongres 1964. Dia terpilih menggantikan Abdul Wahab Djojohadikoesoemo. Namun jabatan itu tak lama disandangnya, lantaran hanya sampai tahun 1967.

Singkatnya masa kepemimpinan Maulwi di PSSI lantaran sibuk jadi ajudan Presiden Soekarno. Tapi, dalam waktu yang singkat itu, banyak hal yang telah dilakukannya demi kemajuan PSSI. Salah satunya, dengan mencetuskan Piala Soeratin yang masih bertahan hingga kini.

"Sejak awal dibentuknya Piala Soeratin, kompetisi itu memang digelar untuk kelompok umur," jelas pria yang dikaruniai enam anak itu. 

Di samping itu, berbagai jabatan penting pernah dipegangnya dalam kepengurusan PSSI era 1977-1981. Salah satunya, pada 1979 dia pernah diamanahkan sebagai chief de mission timnas di Piala Dunia U-20 1979 Tokyo. Di mana kala itu, Indonesia tergabung satu grup dengan Argentina yang diperkuat Diego Maradona.

Di sisi lain, pengalaman kelam pernah dirasakannya lantaran sempat dipenjara selama lima tahun, ketika Indonesia memasuki Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Selepas dari penjara, Maulwi memulai hidup baru sampai akhirnya dipertemukan dengan Buya Hamka, dan kemudian dijadikan sebagai anak angkat ke-13 tokoh sastrawan dan aktivis politik itu.

Maulwi juga sempat mengutarakan pesannya terkait konflik yang terjadi di PSSI pada 2012 lalu. "Saya punya keinginan mengumpulkan mantan pemain timnas dari berbagai generasi. Saya ingin menyerukan kepada mereka untuk bersatu, jangan terpecah belah. Terutama dalam menyikapi situasi sepakbola nasional belakangan ini," pesannya, kala itu.

Kini, tampaknya harapan Maulwi itu akan terwujud, saat para mantan pemain timnas maupun pengurus PSSI dari berbagai generasi itu berkumpul untuk mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, hari ini. 

Akhir kata, selamat jalan pak Maulwi. Semoga pesanmu itu bisa menjadi pengingat bagi para pelaku sepakbola Indonesia, yang kerap berkonflik penuh intrik.

Topics