Obituari Suharno: Pelatih Ramah Dengan Jargon "Once" Itu Kini Telah Tiada

Suharno sudah mengalami pahit-manisnya sebagai pelatih klub sepakbola di Indonesia.

"Bagaimana dulur, ada yang bisa dibantu?" itu lah sapaan yang biasa selalu diawali pelatih Arema Cronus, Suharno, ketika mengetahui ingin diwawancarai oleh wartawan. Dan yang paling diingat di kalangan para wartawan adalah, jargon penutup yang selalu diucapkannya usai memberikan pernyataan. "Sudah dulur, once."

Ya, "once" sebuah jargon yang selalu diucapkan pelatih asal Klaten itu setiap mengakhiri sesi wawancara dengan media, maupun orang yang diajaknya bicara. Entah dari mana dia mendapatkan kata-kata itu. Bisa jadi, itu adalah kata plesetan dari "oke" yang dia modifikasi. Tak ayal, para awak media pun menyebut Suharno dengan pelatih "once".

Yang paling dikenang lagi adalah, mantan pelatih Gelora Dewata ini memiliki sikap yang ramah dan murah senyum. Bahkan, dia juga sanggup menjadi pelatih sekaligus bapak bagi para pemainnya jika di luar lapangan.

Hal itu pula yang dirasakan bek naturalisasi, Victor Igbonefo. "Saya kaget mendengar kabar ini. Saya sampai menangis ini. Coach Suharno sudah saya anggap seperti Ayah saya," tutur pemain yang sedang dipinjamkan ke Osotspa M-150 Samutprakan FC ini.

Berbicara soal karier kepelatihan, sudah tak usah diragukan lagi. Pahit-manis sebagai pelatih sudah dialami pria kelahiran Klaten, 1 Oktober 1969 itu. Mulai dari berprestasi dan dielu-elukan, hingga dicampakkan atau dipecat oleh klub yang dilatihnya.  

Murah senyum: Suharno dikenal sebagai pelatih yang ramah dan murah senyum.

Terhitung, Suharno tidak pernah menganggur selama berpartisipasi dalam persepakbolaan nasional. Tercatat, paling lama Suharno melatih Gelora Dewata pada periode 1990-1996. 

Selebihnya, selama 27 tahun melatih dirinya sudah malang-melintang di sejumlah klub nasional seperti Persema Malang [1999-2000], Deltras Sidoarjo [2002], Persipura Jayapura [2004], Persiwa Wamena [2008/2009], hingga Arema Cronus. 

Karakter dinginnya pernah sempat menjadi asisten pelatih tim nasional Indonesia di era PSSI Djohar Arifin Husin pada 2012. Namun belum genap seminggu melatih, dia memilih untuk menukangi Arema yang ketika itu sedang berjuang di papan bawah Indonesia Super League 2011/12.

"Saya senang dengan rezeki yang diatur oleh Gusti Allah, seperti berkesempatan di tiap musim selalu melatih, belum pernah menganggur," katanya, kepada Goal Indonesia suatu ketika.

Di tim Singo Edan, Suharno terbilang awet untuk musim ini. Karena dia selamat dari pemecatan musim 2014, menyusul tidak memenuhi target menjadi juara ISL dan hanya lolos hingga fase 16 besar Piala AFC dari target lolos semi-final. Namun, setelah dihitung ulang dengan berbagai mekanisme, pola permainan Arema berubah total semenjak dia memberikan polesan kepada bintang-bintang Arema.

"Saya selalu menjaga sikap kekeluargaan antarpemain, ada masalah diselesaikan dengan dilihat bersama. Kadang saya juga mendekati pemain untuk menanyakan ada masalah apa, sehingga dia bermain tidak bagus, semua itu kami bangun untuk mendapatkan kondisi tim yang ideal dan penuh kekeluargaan." 

"Karena mustahil tim bisa menangani kalau ada satu dua pemain yang punya ego tinggi dibandingkan rekan-rekannya," ungkapnya, membeberkan rahasia kekuatan Arema.

Duet terakhir: Joko Susilo menjadi duet terakhir Suharno dalam karier kepelatihan.

Dia menuturkan banyak pemain bagus di Indonesia, tapi terkadang para pemain itu tidak berarti apa-apa jika sudah merasa menjadi yang paling bisa. "Ini yang coba kita tepis. Karena di Arema, siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan mendapatkan kesempatan main," jelasnya.

Selain itu, dia juga tak pernah lupa dengan dukungan suporter. Bahkan, dia berujar, ketika Arema berjuang lolos degradasi, suporter menjadi salah satu motivator yang tak pernah lelah untuk membuat tim bangkit. "Alhamdulillah, kami akhirnya lolos dari degradasi," ucapnya.

Di akhir masa hayatnya, Suharno juga mengkritik Menpora, Imam Nahrawi, yang tidak mengayomi pesepakbola dan pelatih di Indonesia. Menyusul, konfliknya dengan PSSI hingga empat bulan lamanya masih belum selesai, hingga ajalnya menjemput.  

"Kalaupun ada masalah, seharusnya tidak sampai membekukan. Karena ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Menpora harusnya mengayomi cabang sepakbola ini. Kini empat bulan lamanya kompetisi berhenti dan konflik belum selesai," pesannya.

Kini, tak bisa lagi kita dengar pelatih bertubuh tambun itu mengucapkan jargon kesayangannya "once". Itu setelah, dirinya menghembuskan napas terakhir di Puskesmas Pakisaji, Rabu (19/8) malam.

Tapi, semua ilmu serta sumbangsihnya bagi sepakbola Indonesia tak akan pernah terlupakan. Selamat jalan, pelatih "once".(gk-48)

Profil Singkat

Nama lengkap: Suharno
Kelahiran: Klaten, 1 Oktober 1969

Istri: Yuliati

Anak: Dheka Putra

Karier pemain:

1978: PS Banteng
1979-1981: Ragunan
1981-1987: Perkesa 78
1987-1990: Niac Mitra

Karier kepelatihan:

1988 - 1990: Asisten pelatih Niac Mitra - Galatama
1990 - 1994: Pelatih Gelora Dewata - Galatama
1990 - 1996: Pelatih Gelora Dewata - Divisi Utama
1996 - 1997: Arema Malang - Divisi Utama
1997 - 1999: Persikab Bandung - Divisi Utama
2000: Persema Malang - Divisi Utama
2001 - 2002: PSS Sleman - Divisi Utama
2002: Deltras Sidoarjo - Divisi Utama
2003: Persiba Bantul - Divisi I
2004: Persipura Jayapura - Divisi Utama
2005 - 2006: Persibat Batang - Divisi I
2007 : PKT Bontang - Divisi Utama
2007 - 2008: Persis Solo - Divisi Utama
2008 - 2009: Persiwa Wamena - ISL
2009 - 2010: Persikab Kabupaten Bandung - Divisi I
2010 - 2011: Persiwa Wamena - ISL
2011-2012: Asisten pelatih Timnas Indonesia
2011-2012: Arema Indonesia [putaran kedua]
2012-2013: Persegres Gresik United
2014 - 2015 : Arema Indonesia

 

Topics
, Arema,