Para Manajer Liga Primer Inggris Yang Terancam Dipecat Oktober

Ini para manajer Liga Primer Inggris yang terancam kehilangan jabatan bulan depan.

Kemerosotan penampilan West Ham United di luar dugaan. Minggu (25/9) malam, Hammers menderita kekalahan telak 3-0 dari Southampton di depan pendukung sendiri. Tim yang musim lalu tampil mengejutkan sebagai kuda hitam Liga Primer Inggris kini terseok-seok di papan bawah. Manajer Slaven Bilic pun di ujung tanduk.

Bilic tidak sendiri. Sejumlah manajer tim Liga Primer lain pantas menatap Oktober dengan cemas. Bulan kesepuluh ini biasanya menjadi periode penentuan bagi para manajer dengan performa tim yang buruk. Musim lalu, tiga klub melakukan pergantian manajer pada bulan Oktober. Mereka adalah Brendan Rodgers, Dick Advocaat, dan Tim Sherwood. 

Musim 2015/16 juga menjadi musim pergantian manajer paling aktif sepanjang sejarah sepakbola Inggris modern dengan total 70 kali pergantian (11 terjadi di klub Liga Primer). Dari total jumlah tersebut, 56 pergantian di antaranya merupakan pemecatan.

Angka yang dilansir asosiasi manajer liga (LMA) juga menunjukkan kesabaran pemilik klub kian tipis. Rata-rata periode kepelatihan 56 manajer yang dipecat adalah hanya satu tahun dan 113 hari. Jumlah ini terendah kedua sejak 1992.

Lalu, siapa saja manajer Liga Primer musim ini yang terduduk di kursi panas hingga selesainya pekan keenam?

SLAVEN BILIC (WEST HAM)

Seperti dikemukakan di awal, Bilic dalam posisi yang tidak menyenangkan. West Ham hanya mampu meraih satu kemenangan dalam enam pertandingan (sisanya kalah). Mereka kini berada di peringkat ketiga dari bawah klasemen.

Kekalahan beruntun dari Watford dan West Bromwich Albion dengan skor identik 4-2 membuat fans Hammers kehilangan kesabaran. Bagaimana mungkin Bilic yang pernah berkarier sebagai bek andalan timnas Kroasia tak bisa merancang pertahanan dengan baik? Melawan Southampton, Minggu malam, West Ham kembali menderita kebobolan tiga gol.

Kekalahan dari Southampton merupakan kekalahan kandang kedua Bilic musim ini. Padahal, Bilic hanya kalah dua kali di kandang musim lalu. Kursi stadion bahkan sudah ditinggalkan sebagian fans sebelum pertandingan selesai.

"Para pemain tetap sama dan manajer tetap sama seperti musim lalu, dan semua hal yang berjalan baik tahun lalu menjadi sebaliknya musim ini. Semua hal yang berada di level rata-rata sekarang menjadi jauh dari standar," ujar Bilic.

Eks striker Inggris, Chris Sutton, meminta agar Bilic diberikan waktu. "Ini bukan krisis, tetapi Bilic memiliki tugas berupa operasi besar," tukas mantan pemain Norwich City, Blackburn Rovers, dan Chelsea itu.

DAVID MOYES (SUNDERLAND)

Tidak sulit menempatkan Moyes ke dalam daftar ini karena Sunderland baru mampu meraih satu poin. Sabtu lalu, Sunderland sempat memperlihatkan tanda-tanda membaik dengan unggul dua gol atas Crystal Palace hingga menit 60. Namun, semuanya justru runtuh ketika Jermain Defoe melesakkan gol keduanya dalam pertandingan itu.

Palace mampu bangkit. Tak hanya menyusul defisit dua gol, tim tamu bahkan sukses mencuri kemenangan berkat gol di menit keempat injury time. Umpan Lee Chung-yong diselesaikan dengan baik oleh Christian Benteke. Skor berbalik menjadi 3-2.

Posisi Moyes kian sulit karena secara terbuka mengkritik direksi klub. "Kebanyakan manajer yang bertugas di sini tidak datang dengan senyum atau perasaan positif karena mereka selalu dituntut mampu memadamkan api, untuk mencegah situasi menjadi lebih buruk," sergahnya pertengahan bulan ini.

Apakah ucapan itu menjadi bumerang bagi Moyes atau malah mendorong direksi klub mempertahankan posisinya hingga krisis selesai? Bulan Oktober akan jadi saksi.

MARK HUGHES (STOKE CITY)

Musim lalu, Stoke mampu mencundangi Chelsea, Manchester City, dan Manchester United. Tiga kemenangan kandang yang membuat banyak pengamat menjagokan Stoke finis enam besar di klasemen akhir. Meski kenyataannya mengakhiri musim di peringkat kesembilan, performa Stoke melampaui ekspektasi.

Musim ini, fans Stoke tak lagi banyak berharap mengulangi kemenangan atas tiga tim papan atas tersebut. The Potters baru meraih dua poin hasil dari dua kali imbang dalam enam pertandingan. Mereka malah menelan kekalahan telak dari dua laga kandang yang dijalani, yaitu 4-1 dari City dan 4-0 dari Tottenham Hotspur.

Hughes menyadari jabatannya dalam bahaya. Stoke hampir meraih kemenangan saat menjamu West Brom akhir pekan lalu sebelum kebobolan gol Salomon Rondon di menit-menit akhir pertandingan. Ironisnya, manajer West Brom adalah Tony Pulis, pendahulu Hughes yang mengukir penampilan ke-1000 sebagai pelatih pada pertandingan itu.

"Sebelum musim dimulai kami melihat jadwal dan jujur saja, tak banyak poin yang kami rasa bisa direbut dengan pasti," ungkap Hughes dengan keyakinan yang teguh. "Pertandingan melawan City dan Tottenham menjadi awal musim yang sulit, tapi masih ada pertandingan berikutnya yang kami yakin bisa mencuri poin dari sana."

TONY PULIS (WEST BROM)

Mengejutkan melihat nama Pulis masuk daftar ini kalau hanya melihat posisi West Brom di klasemen. Mereka meraih delapan poin dan menduduki peringkat kesepuluh. Tapi, West Brom belum berhadapan dengan penghuni enam besar klasemen kecuali Everton.

Nilai minus lain bagi Pulis adalah tak banyak dukungan fans karena gaya bermain tim yang cenderung monoton dan membosankan. Desakan pergantian manajer mulai dimunculkan fans karena mereka jenuh menyaksikan para pemain West Brom sering bermain dengan umpan-umpan panjang.

Pragmatisme Pulis juga menjadi pembicaraan bagi pemilik baru klub. West Brom diakuisisi oleh perusahaan konsorsium Tiongkok yang dipimpin oleh Guochuan Lai. Dengan dana pindah tangan kepemilikan mencapai £170 juta, tidak heran jika pemilik baru menerapkan sejumlah perubahan, termasuk jabatan manajer.

Masa depan Pulis tidak hanya tergantung dari hasil di atas lapangan. "Kalau saya harus pergi, saya pergi karena keputusan klub, bukan karena saya yang memutuskan," tegas Pulis.

Empat kekalahan yang telah didapat Swansea memaksa Guidolin harus menghadapi tekanan direksi klub. Padahal, manajer Italia itu baru saja diberikan kontrak baru berdurasi dua tahun, Juli lalu. Penampilan positif Swansea sejak ditangani Guidolin selama paruh kedua musim 2015/16 mendorong optimisme jajaran direksi.

FRANCESCO GUIDOLIN (SWANSEA CITY)

Swansea tak juga tampil meyakinkan hingga sebulan setelah kompetisi dimulai, Guidolin dirongrong rumor pemecatan. Ryan Giggs dan Chris Coleman muncul sebagai kandidat kuat pengganti. Skuat Guidolin juga diganggu oleh rumor perpecahan pemain. Ki Sung-yueng dan Neil Taylor menolak menjabat tangan sang manajer karena keputusan pergantian pemain.

Fans Swansea relatif dapat menerima kekalahan Swansea dari City, akhir pekan lalu, karena para pemain menunjukkan kesungguhan dalam bermain. Tetapi, presiden klub, Huw Jenkins, dikenal kerap melakukan pemecatan mendadak. Itu yang menimpa Garry Monk, akhir tahun lalu.

Dua bulan lalu, Swansea menerima suntikan dana £100 juta dari dua pengusaha asal Amerika Serikat. Faktor kepuasan pemilik lebih besar dalam menentukan masa depan Guidolin. Bursa taruhan pun menempatkannya sebagai kandidat favorit yang akan kehilangan pekerjaan di Liga Primer.

"Entah apa yang dipikirkan presiden dan pemilik klub, tapi itu tidak penting. Saya belum membahasnya dengan presiden. Tapi ini sudah menjadi tugas saya. Saya tidak merasakan beban apapun" ucap Guidolin.

LIGA EROPA LAINNYA

Jika dibandingkan di antara lima kompetisi top Eropa, Liga Primer tergolong sabar dalam memutuskan nasib para pelatih mereka. Bundesliga Jerman telah menyaksikan dua pelatih yang kehilangan jabatan. Pelatih Werder Bremen, Viktor Skripnik, menjadi korban pertama setelah menderita tiga kekalahan beruntun. Hanya berselang sepekan, Bruno Labbadia ditendang Hamburg SV, yang hanya mampu meraih satu poin dari lima pertandingan.

Di Spanyol, Pako Ayestaran kehilangan posisi pelatih Valencia. Empat kekalahan beruntun yang dialami Los Che menjadi alasan utama pemecatan. Padahal, Ayestaran belum enam bulan bertugas sebagai pelatih. Sejak menggantikan posisi Gary Neville, Ayestaran hanya mampu meraih sepuluh poin dari 12 pertandingan. Itu menjadi rekor terburuk dalam sejarah Valencia.