Pemain Terbaik Bayern Munich 2014/15: Arjen Robben, Si Tajam Yang Bikin Berandai-Andai

Bintang Belanda ini kian dahsyat pada musim kedua Bayern di bawah Pep Guardiola. Sayang, cedera mengakhiri kampanyenya lebih dini dan melukai kans tim berprestasi lebih tinggi.

Kampanye Bayern Munich musim ini akan tuntas usai menjamu Mainz di Allianz Arena, Sabtu (23/5) ini.

Apa pun hasilnya, sesudah pertandingan laskar asuhan Pep Guardiola akan tetap menerima Meisterschale alias perisai jawara Bundesliga Jerman, yang telah mereka pastikan sejak akhir April silam.

Tapi, menyusul torehan negatif sepanjang bulan ini, hanya sekali menang dan lima partai lainnya berujung kekalahan, Bayern akan mengincar tiga angka untuk menutup tirai musim dengan baik.

Kekecewaan tak terhindarkan karena, dengan ekspektasi jadi luar biasa tinggi sejak mereka memborong trigelar pada 2013 di bawah asuhan Jupp Heynckes, klub terbesar Jerman ini seperti diwajibkan selalu merengkuh treble setiap musimnya. Tuntutan yang mahasulit, jika tak ingin dikatakan mustahil, tapi itulah yang mau tak mau harus ditangggung oleh Bayern dan Guardiola.

Setelah dipastikan memenangi Meisterschaft berkat kemenangan 1-0 melawan Hertha Berlin, pada laga selanjutnya Die Roten dipaksa mengakui keunggulan Borussia Dortmund lewat adu penalti di semi-final DFB-Pokal. Hasil itu dianggap Jerome Boateng menandai awal keruntuhan Bayern, yang kemudian juga tereliminasi di empat besar Liga Champions oleh Barcelona.

“Kami tidak lagi bergerak dengan sangat cepat. Ini dimulai melawan Dortmund dan terus berlanjut,” ucap sang bek kepada Kicker.

Barangkali bukan kebetulan kalau pada pertandingan itu juga Arjen Robben mendapati cedera yang memaksanya absen sampai akhir musim. Setelah diparkir lima minggu karena problem abdominal (perut), comeback Robben sebagai pemain pengganti menghadapi BVB berlangsung tak sampai seperempat jam. Kali ini ia diterjang cedera otot betis.

Robben memang hanya satu dari sekian banyak amunisi utama yang hilang dari skuat Bayern akibat badai cedera di klub, termasuk Franck Ribery dan David Alaba, namun sulit memungkiri statusnya sebagai salah satu pilar terpenting dalam racikan Guardiola, kalau bukan yang paling penting.

Saat pria Catalan itu pertama datang ke Sabener Strasse, sudah banyak yang menduga ia akan melanjutkan pemakaian false nine, peran yang membuat Lionel Messi begitu menggila di Barcelona. Ribery, Mario Gotze, dan Thomas Muller jadi kandidat jelas. Siapa mengira posisi itu justru jadi hak paten Robben?

Dicap pemain egois, bintang Belanda itu tadinya diperkirakan bakal ditendang Guardiola dari Allianz Arena, namun dengan kerja keras yang menemani bakat tingginya, Robben sukses merebut kepercayaan pelatih dan menunjukkan performa yang semakin mengilap pada kampanye kedua bersama Pep.

Dalam tampilan formasi awal, Robben kelihatannya tetap diplot sebagai penyerang sayap kanan. Namun pada praktiknya eks penggawa Real Madrid ini akan lebih sering berada di tengah, dengan lisensi untuk bergerak bebas. Ini menghasilkan elemen kejutan untuk lawan-lawan Bayern, meski Robben tetap sering mencetak gol trademark-nya, yaitu memotong ke dalam dari kanan lalu menembak dengan kaki kirinya.

“Saya telah menambahkan variasi tertentu pada permainan saya. Saya tak akan selalu memotong ke dalam, tapi saya juga tak akan selalu melewati lawan saya dari sisi luar,” ujar Robben kepada majalah resmi Bundesliga, menepis kritikan bahwa ia cuma punya satu gerakan andalan.

Persona 31 tahun ini adalah salah satu pesepakbola yang justru semakin hebat seiring bertambahnya usia. Kalau musim lalu ia membukukan 21 gol dalam 45 penampilan di semua ajang, musim ini ia mengoleksi 19 gol hanya dalam 30 laga. Rasio ketajamannya melejit dari 0,47 ke 0,63 per laga. Aksi Robben membobol gawang lawan pun berulang kali menentukan kemenangan Bayern.

“Kualitas Robben menjadi pembeda hari ini,” puji Guardiola usai Robben mencetak gol pembuka ke gawang VfB Stuttgart untuk memberikan kemenangan perdana bagi Bayern pascapergantian tahun.

Kalau tidak terhambat cedera, besar peluang jebolan akademi Groningen ini untuk menjadi pemain Belanda kedua yang merebut Torjagerkanone (topskor Bundesliga) setelah Klaas-Jan Huntelaar.

“Bisakah saya memenangi Torjagerkanone? Saya pikir Robben yang akan meraihnya,” ucap penyerang Eintracht Frankfurt, Alexander Meier, kepada AZ sebelum Robben cedera.

“Dia mencetak satu atau dua gol setiap pertandingan dan Bayern selalu bisa mencetak empat atau lima gol. Akan mustahil untuk mengejarnya lagi.”

Saat mengeluarkan komentar itu pada awal Maret, Meier masih tertinggal satu gol, tapi dengan torehan 19 gol, kini ia memuncaki daftar tospkor, unggul dua atas Robben. Menariknya, hingga saat ini Robben ternyata masih berada di posisi runner-up. Di internal klub Robben hanya kalah subur dari dua penyerang Robert Lewandowski (24 gol) dan Thomas Muller (21), yang keduanya minim gangguan cedera.

“Kami tak punya pemain lain untuk situasi satu lawan satu sekarang ini. Kami tim berbeda tanpa Robben dan Ribery yang fit, tapi kami harus beradaptasi dengan situasi terkini,” kata Guardiola, awal April.

Jadi tidak mengherankan kalau harapan sempat membubung tinggi jelang kepulihan Robben dari cedera abdominal.

“Merupakan kabar luar biasa bahwa Robben segera kembali. Arjen tampil super untuk Bayern musim ini dan saya berharap dia cepat fit lagi demi tim, karena itu akan memberikan opsi lain untuk sang pelatih. Robben berkelas dunia dan itu selalu membantu Anda,” ujar Roy Makaay, mantan striker Bayern asal Belanda, di laman resmi klub sebelum Robben terkapar kembali dan dipastikan tak bisa beraksi lagi di sisa musim.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bayern Munich hanya bisa berandai-andai apakah musim mereka bakal berjalan berbeda apabila Robben selalu dalam kondisi prima. Di sisi lain, itu jadi penanda keabsahan Robben sebagai yang paling menonjol di antara deretan bintang dalam skuat Die Roten.