Pengorbanan Mauro Icardi, Pembuktian Frank De Boer

Ada teladan, pengorbanan dan pembuktian yang bersatu padu dalam spirit ketika Internazionale secara spartan melibas sang jawara bertahan Juventus, 2-1.

"Penampilan menghadapi Hapoel Beer-Sheva terlihat seperti sesi pelatihan dan di pentas internasional Anda tidak bisa berpaling dengan cara seperti itu," ujar mantan presiden Internazionale Massimo Moratti menjelang laga Derby d'Italia kontra Juventus.

"Tim ini tidak menunjukkan antusiasme dan tak ada koneksi emosional. Kami ingin melihat para pemain geram ketika mereka kehilangan bola dan bergembira ketika mampu merebutnya kembali."

"Saya tidak ingin mengajari siapa pun dalam urusan mereka. Akan tetapi, menempatkan pengorbanan ke dalam tim, akan membuat langkah menjadi terdepan."

Inter tidak sekadar menunjukkan pengorbanan seutuhnya menghadapi sang jawara bertahan, tapi juga mereka memperlihatkan kualitas sejati. Dan Mauro Icardi menjadi teladan dari dua elemen tersebut.

Pelatih Nerazzurri Frank De Boer menjamah laga ini diiringi spekulasi bahwa dia akan dipecat apabila pasukannya menderita kekalahan lagi dari rival abadi mereka itu, yang datang ke Giuseppe Meazza dengan membawa catatan sempurna dalam tiga laga teraktual. Bahkan, ada isu jika pembicaraan antara manajemen Inter dengan mantan pelatih AS Roma Rudi Garcia terkait kemungkinan melengserkan posisi De Boer, yang baru saja menjabat bulan lalu.

Akan tetapi direktur olahraga Inter Piero Ausilio membantah klaim yang disebutnya "omong kosong" tersebut. Namun, memang tak bisa dinafikan bila De Boer berada di bawah tekanan menyambut laga derby pertamanya, sebagaimana yang dikatakan Moratti kepada De Boer, "Seperti tengah berada di dalam panci air mendidih".

Inter memperlihatkan keuletan, sementara Juve limbung, persis seperti yang mereka peragakan ketika bermain imbang tanpa gol dengan Sevilla tengah pekan kemarin. La Beneamata meladeni permainan Juve dengan segala cara, menghadirkan pressing tingkat tinggi di hadapan tim tamu dan sedikit kurang beruntung ketika tuan rumah bisa saja memimpin laga saat sepuluh menit sebelum turun minum Icardi mampu membuat Giorgio Chiellini keluar dari posisinya sebelum menembak bola secara melengkung di tiang jauh yang berpotensi membuat kiper Gianluigi Buffon tumbang.

Tentu, Juve juga memiliki kansnya di 45 menit pertama, terutama saat Sami Khedira benar-benar dalam posisi tak terkawal di area Inter untuk menanduk bola, hasil kiriman silang dari Alex Sandro, yang mengarah tepat ke pelukan penjaga gawang Samir Handanovic.

Stephan Lichtsteiner menunjukkan penampilan tanpa kompromi saat melakukan tap-in, menyambut sodoran matang wing-back Brasil itu untuk membawa Bianconerri sejenak berada di atas angin. Sayangnya, keungglan ini justru membuat Juve gerogi dan menghadirkan ketidakstabilan di lini pertahanan mereka setelahnya. Dan kejutan dari Inter pun datang hanya berselang dua menit. Gol yang tak terduga, dan akan sulit menjelaskannya.

Pertama, perlu diketahui, Icardi punya hobi mencetak gol ke gawang Juve [dia sekarang mencatatkan tujuh gol dalam delapan pertandingan kontra Si Nyonya Tua, ketika bermain untuk mantan klubnya Sampdoria dan Inter]. Kedua, dia satu-satunya pemain yang mampu mencetak gol bagi Inter dalam empat pertandingan terakhir musim ini. Ketiga, dia terlihat bergelora sejak menit pertama pada bentrokan kali ini.

Tidak mengejutkan saat dia mengelabui Leonardo Bonucci di kotak penalti dan mengalahkan lompatan Mario Mandzukic untuk menanduk bola dan menodai gawang Buffon.

Tak berhenti di situ, pemain internasional Argentina ini menjadi pelayan sempurna sembilan menit kemudian. Setelah Candreva merebut umpan tak terarah dari Alex Sandro, sementara Icardi berada di posisi potensial. Buffon memaksa Icardi kemudian bermain melebar, akan tetapi sang kapten tidak panik sedikit pun. Dia mengambil waktu sebentar sebelum mengayun umpan silang ke arah gerak cepat Perisic, yang menuntaskannya menjadi gol penentu kemenangan.

Kegembiraan dan sorak riang membahana di seantero Meazza selepas wasit meniup peluit panjang, dan di pinggir lapangan, De Boer begitu menikmati euforia kemenangan masif di laga perdananya menghadapi sang bebuyutan abadi.

Tentu hasil ini bukan sekadar tiga poin vital bagi sang pelatih, namun raihan ini adalah satu langkah besar untuk menyongsong perjalanan panjang Serie A 2016/17 dengan spirit positif.