Performa Bintang Lima Bukti Kelas Sejati Bayern Munich

Raksasa Bavaria memamerkan kualitas asli mereka, sekaligus kelayakan menyandang status favorit juara, dengan menggasak Arsenal secara komprehensif di Allianz Arena.

Dibandingkan golnya di Emirates, aksi Olivier Giroud membobol gawang Manuel Neuer di Allianz Arena jauh lebih berkelas.

Kalau dua minggu lalu torehannya seperti tercipta tanpa sengaja plus terbantu blunder Neuer mengantisipasi kiriman tendangan bebas Santi Cazorla, tadi malam si striker Prancis memperlihatkan teknik tinggi untuk menahan umpan Mesut Ozil dengan dada sebelum menghunjamkan tembakan voli akrobatik.

Sayang, selain perbedaan jomplang di level estetika, makna kedua gol juga amat bertolak belakang – dalam sudut pandang negatif. Sementara gol yang pertama membuka kemenangan Arsenal 2-0, kontribusi terbarunya tidak lebih dari sekadar konsolasi saat The Gunners dicukur 5-1 oleh Bayern Munich di Jerman.

“Pada Rabu, kami akan menunjukkan kepada Arsenal FC Bayern yang sesungguhnya. Kepercayaan diri kami sedang tinggi. Kali ini kami akan mencetak gol dari peluang-peluang kami, dan meraih tiga poin,” ujar Arturo Vidal jelang pertemuan kedua klub pada matchday 4 Liga Champions.

Omongan Vidal terbukti bukan semata-mata gertak sambal dan kekalahan Bayern pada laga pertama jadi terkesan sebagai sebuah blip belaka.

Asa laskar Arsene Wenger yang sempat membubung tinggi – mungkin terlampau tinggi – pascaduel di London terempas kembali ke tanah, dengan sangat keras dan menyakitkan. “The Real Bayern” muncul, dan Arsenal tak punya jawaban untuk mencegah terjadinya kekalahan terbesar klub sepanjang keikutsertaan di ajang Eropa.

“Kami ingin menekan mereka dengan garis tinggi sehingga mereka tak bisa bermain dari pertahanan. Saya selalu menginstruksikan tim saya untuk menyerang sesering mungkin dan menciptakan sebanyak mungkin peluang,” tegas Pep Guardiola sebelum laga.

Titah sang pelatih diimplementasikan dengan sempurna oleh pasukan Die Roten di lapangan. Mereka menggempur habis tim tamu dan meraih keunggulan cepat sepuluh menit permainan berjalan. Paceklik gol Robert Lewandowski dalam dua laga berakhir berkat sundulan terarah melahap umpan manis Thiago Alcantara.

Gol ini, sebagaimana diakui Pep, menjadi kunci Bayern meraih hasil gemilang. Setelahnya tuan rumah menutup paruh pertama dengan kedudukan 3-0 melalui dua gol tambahan Thomas Muller dan David Alaba, dan membatasi tembakan Arsenal jadi hanya sebiji! Itu pun tak mencapai sasaran.

Dianulirnya gol penyama Ozil, hanya dua menit sehabis Lewy membuka skor, tak bisa dijadikan Arsenal sebagai dalih lantaran playmaker Jerman itu nyata-nyata menggerakkan tangan untuk menceploskan crossing Nacho Monreal.

Die Rekordmeister superior dalam kualitas amunisi, taktik, determinasi, kelas. Singkat cerita, Bayern unggul segala-galanya atas Arsenal di Allianz dan hanya ketangguhan Petr Cech yang membuat mereka tidak menderita kekalahan lebih memalukan. Langkah Arsenal menuju pertandingan sudah berat dengan absensi sembilan pemain first-team. Ditambah kepastian cederanya Laurent Koscielny, The Gunners bagai dihadapkan pada mission impossible untuk mencuri poin dari Jerman.

Arsenal boleh membanggakan rekor apik dalam dua lawatan lampau ke Allianz berupa satu kemenangan dan hasil imbang. Hanya, jika ditelaah lebih saksama, itu adalah track record semu karena sebelum kedua pertemuan tersebut Bayern telah membawa pulang kemenangan meyakinkan dari Inggris, masing-masing dengan skor 3-1 pada 2013/14 serta 2-0 pada 2014/15, dan sukses mengeliminasi Arsenal.

Anak buah Guardiola beberapa kali kesulitan menghadapi lawan defensif, seperti Eintracht Frankfurt pada akhir pekan dan Arsenal di Emirates bulan lalu, namun pada mayoritas kesempatan Si Merah selalu menemukan cara untuk membongkar pertahanan paling rapat sekalipun. Dan, apabila segalanya klik, kereta ekspres Bayern nyaris mustahil distop.

Wenger tampak kembali mempersiapkan timnya untuk tampil bertahan, tapi semua rencana berantakan akibat gol cepat Lewangoalski.

“Setelah gol pertama situasi lebih mudah untuk kami,” kata Guardiola.

“Kami bermain dengan kekuatan kami: possession sangat penting bagi saya. Itulah prinsip saya, karena dengan bola Anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk menghasilkan sesuatu. Ini bukan tentang berlari, ini tentang bermain dengan bola. Saya menginginkan possession 100 persen. Itulah kenapa kami tidak kebobolan banyak gol tapi mencetak banyak.”

Tanpa bola formasi Bayern hampir sama dengan Arsenal, tetapi saat memegang possession permutasi posisi serta pergerakan Thomas Muller dkk. sulit diterka. David Alaba memperoleh lisensi untuk maju jauh dan seringkali lebih terlihat sebagai gelandang serang ketimbang bek kiri. Proses gol ketiga Bayern menggambarkan dengan jelas hal ini. Alaba berada di posisi sentral untuk merebut bola dari Cazorla sebelum menaklukkan Cech dengan tendangan geledek.

Thiago tampil super sebagai dirigen permainan. Ia membuat operan sukses (122), plus umpan kunci terbanyak (4), dengan tingkat akurasi 92 persen. Julukan “The New Xavi” pun terasa terjustifikasi.

Duo sayap Douglas Costa dan Kingsley Coman rutin mengobrak-abrik sisi sayap, dan Arjen Robben langsung menyumbang gol hanya 37 detik setelah masuk menggantikan nama terakhir. Khusus untuk Costa, di samping skill istimewa pemain Brasil ini menonjol karena etos kerjanya yang amat tinggi. Di satu momen ia berada di lini pertahanan sebagai bek kiri untuk mempersilakan Alaba melesat, tapi tak lama kemudian eks bintang Shakhtar Donetsk itu kembali beraksi menggoreng bola sebelum melepas umpan terobosan yang diselesaikan Muller.

Performa bintang lima Bayern makin komplet dengan berdirinya Neuer sebagai tembok pertahanan terakhir. Di saat para pemain outfield sedikit mengangkat kaki dari pedal gas usai memimpin jauh, Neuer sempat membuat blok krusial untuk menahan upaya jarak dekat Cazorla sebelum gawangnya dibobol Giroud.

Sebagaimana disinggung di awal, gol ketiga Giroud dalam empat partai melawan Bayern tersebut tidak berarti banyak. Muller membuat gol kedua pada pengujung laga untuk melengkapi balas dendam manis Bayern dan menjadikan Arsenal korban kelima timnya musim ini yang dipaksa menelan lima gol.

"Ini adalah skuat terbaik Bayern sejak saya di sini. Ini adalah tahun ketiga kami bersama-sama, dan kami semakin mengenali satu sama lain dengan jauh lebih baik. Kami telah meningkat dan mencapai hal-hal, tetapi ini masih November dan kami belum memenangi apa pun," kata Guardiola.

Perjalanan menuju Milan memang masih jauh, namun penampilan brilian ini menjadi pesan tegas Bayern ke seantero Eropa mengenai kelayakan mereka menyandang status salah satu favorit terkuat untuk mengangkat trofi juara, Mei mendatang.