Perkembangan Sepakbola Setelah 20 Tahun Dekrit Bosman

Hari ini, dua puluh tahun lalu, Jean-Marc Bosman memenangkan putusan yang mengubah sepakbola - tapi apakah benar-benar berdampak pada kebaikan?

"Untuk menjadi tumpul sempurna, pengenalan aturan Bosman adalah bencana bagi olahraga, dan terutama untuk sepakbola,” - mantan pimpinan eksekutif UEFA, Gerard Aigner, 7 January, 2004.

15 December, 1995 adalah salah satu tanggal signifikan dalam sejarah sepakbola, itu menjadi hari di mana para pemain mulai diberdayakan. Tapi untuk beberapa lainnya, itu adalah hari di mana sepakbola berhenti sebagai olahraga dan menjadi bisnis. Seperti halnya perubahan dramatis dalam hal kekuasaan, ada kebenaran yang terletak di dalamnya. Terlepas dari itu, sistem lama memang harus berubah.

Di musim semi 1990, kontrak dua tahun Jean-Marc Bosman bersama SA Royal Club Liegois memasuki periode akhir. Pria asal Belia itu ditawari kontrak baru yang akan membuat nilai gajinya menurun sebesar 75 persen. Secara mengejutkan, Bosman menolak. Maka dari itu ia kemudian masuk daftar jual.

Bulan Mei di tahun yang sama, Dunkerque memberikan tawaran yang lebih menarik pada pemain 26 tahun tersebut namun klub asal Prancis itu gagal mencapai kesepakatan dengan RC Liegois. Konsekuensinya, Bosman, yang telah menolak pemotongan gaji besar dari RC Liegois, langsung mendapat sanksi dari Federasi Sepakbola Belgia, membuat masa depannya suram. Itu titik awal Bosman melawan legalias sistem yang bertentangan dengan undang-undang Uni-Eropa terkait pergerakan bebas pekerja.

"Saya pergi dengan seseorang yang saya kenal dari lingkungan saya ke badan hukum," jelasnya. "Liege punya 15 hari untuk memberikan respon dan mereka tidak melakukan itu. Kami mengontak federasi Belgia dan mendapat hasil serupa. Sejak itu kasus pengadilan dimulai."

Itu bakal berlangsung lima tahun, berarti Bosman akan menghabiskan masa seharusnya ia sebagai pemain bukan di lapangan sepakbola tapi pengadilan. Pengorbanannya terbukti tidak sia-sia, dengan pengadilan Eropa pada akhirnya berpihak padanya.

Konsekuensi yang besar: pemain kemudian diizinkan bebas pergi dari klub setelah kontrak mereka berakhir dan dapat bergabung dengan klub lain. Selain itu, pembatasan tidak bisa lagi ditempatkan pada jumlah pemain Uni-Eropa di dalam skuat utama. Hasilnya, aturan Bosman benar-benar mengubah permainan, dalam sisi baik maupun buruk.

Efek aturan Bosman langsung memberikan dampak. Tahun 1995, Ajax memenangkan Liga Champions dengan tim mayoritas berusia 23 tahun - terlepas dari dua veteran Danny Blind dan Frank Rijkaard. Itu adalah tim yang bermaterikan pemain-pemain dari akademi klub. Hanya saja, dalam tiga tahun, Patrick Kluivert, Edgar Davids, Michael Reiziger dan Winston Bogarde, semua pergi dengan bebas transfer. Itu ditanggapi mantan kapten Ajax, Frank Arnesen: "Usai aturan Bosman, klub-klub dari negara kaya datang dan mengambil semua pemain."

"Segalanya berubah setelah aturan Bosman," klaim mantan presiden Ajax, Michael van Praag. "Kami kehilangan Patrick Kluivert secara gratis ke AC Milan. Ia tak sukses di sana, jadi kemudian dijual ke Barcelona dengan nilai transfer €12 juta. Kami, yang membesarkan sang pemain selama 12 hingga 13 tahun tak mendapatkan apa-apa."

Tentu saja, langkah-langkah yang diperkenalkan untuk memberikan kompensasi bagi klub yang kehilangan pemain dibentuk tapi tak sekadar dari penghiburan. Lewatlah sudah hari-hari ketika tim-tim seperti Ajax, Red Star Belgrade dan Steaua Bucharest mampu menahan pemain mereka untuk memenangkan Piala Eropa.

Pemain-pemain sekarang banyak yang direktur dalam usia muda untuk kemudian dipinjamkan ke klub-klub lain, membuka ruang bagi deretan elite Eropa untuk melakukan monopoli mendatangkan talenta berkualitas sehingga menciptakan jurang di antara yang kaya dan miskin. Chelsea, contohnya, punya 33 pemain yang dipinjamkan ke berbagai klub sejak awal musim ini.

Selain itu, kontrak tak lagi sebanding dengan apa yang tertera. Pemain-pemain top kini secara mudah dapat mengajak klub untuk membahas kesepakatan: klub dipaksa untuk memberikan gaji yang mereka inginkan atau pergi ke klub lain yang bisa memenuhi hal tersebut.

"Itu sebuah paradoks," ujar Bosman pada Gazzetta dello Sport. "Aturan Bosman diciptakan untuk mendistribusikan kekayan bagi semuanya, terutama pemain miskin, tapi kini menjadi keuntungan di kalangan tertentu."

"Saya pikir seperti PSG, yang merupakan salah satu klub terkaya di dunia. Saya membaca di media bahwa mereka bersedia menawarkan gaji €350,000 per pekan pada Cristiano Ronaldo. Itu bagus baginya, tapi aturan Bosman harusnya bisa menghadirkan kebahagiaan bagi semua pesepakbola. Mereka sebelumnya seperti peliharaan yang dikurung, tapi kini sudah bebas."

"Saya masih berpikir bahwa keputusan aturan ini sudah benar. Ini adalah aturan yang positif, tapi mulai terdistorsi. Sayangnya, sepakbola tidak lagi kaya. Pemain mendapatkan jumlah uang yang besar, kontrak tidak lagi dihormati."

Tentu saya, dalam bisnis, pekerja memiliki hak-hak dasar; mereka layak untuk dilindungi dan tak ada seorang pun bisa membantah bahwa pesepakbola telah diperah selama bertahun-tahun. Gaji terbesar (£20), di antara yang lain, berada di Inggris hingga 1961. Bahkan setelah itu, semua pemain di Eropa punya keluhan yang sama terhadap cara mereka diperlakukan. Mereka dikendalikan klub. Karier lebih pendek dan tak banyak uang yang bisa dihasilkan. Oleh karena itu, pemain ingin menghabiskan sebagian besar waktu mereka di level tertinggi.

Sebagaimana legenda Belanda, Johann Cruyff mengatakan, "Ketika karier saya selesai, saya tidak bisa pergi ke tukang roti dan berkata 'saya Johann Cruyff, beri saya beberapa roti.'" Juga ada pandangan yang digemakan ikon Italia, Paolo Rossi saat negosiasi kontrak dengan Juventus. "Saya tak bisa memberi makan anak saya dengan kemuliaan," tutur pemenang Piala Dunia 1982 itu.

Namun, komplain pemain profesional terhadap kondisi pekerjaan mereka merupakan isu yang memecah belah. "Beberapa orang berkata pada saya bahwa pemain profesional adalah budak," Bobby Charlton suatu ketika merenung. "Nah, jika ini perbudakan, beri saya hukuman seumur hidup!" kata pahlawan Inggris dan Manchester United ketika 1960, jadi, jutawan seperti Cristiano Ronaldo pada Juli 2008 mengklaim dirinya seperti budak adalah pernyataan ofensif.

Memang, seolah-olah pendulum kekuasaan telah berayun terlalu banyak dalam mendukung pemain. Sekarang telah mencapai titik di mana gaji pemain dibayarkan dalam hal yang relatif benar. Dua puluh tahun yang lalu, Vatikan melabeli transfer Gianluigi Lentini €13 juta dari Torino ke AC Milan sebagai pelanggaran atas martabak pekerjaan, tapi bursa transfer saat ini menjadi lebih menggelikan, dengan Gareth Bale menjadi pemain pertama yang memiliki banderol €100 dua tahun lalu dan belakangan Manchester City bersedia untuk memberikan €1 juta per pekan bagi Lionel Messi agar bersedia ke Etihad.

Tentu saja, argumen dapat diucapkan di mana sepakbola sekarang menjadi bagian dari industri hiburan dan pemain pantas mendapatkan segala hal berdasarkan status bintang mereka. Tapi, bukan hanya pemain yang mengeruk jutaan dana dari aturan Bosman, melainkan agen juga.

Para pemain membutuhkan representasi yang tepat, tapi jelas ada sistem yang salah di mana Liga Primer Inggris menyerahkan lebih dari €180 juta untuk biaya agen tahun ini? Jumlah itu bisa saja lebih berkembang, dengan para agen semakin memperluas kekuasaan mereka (lihat pengaruh Jorge Mendes di Valencia), membuat sulit untuk melupakan ucapan terkenal dari super agen Eric Hall: "Yang terburuk dari pekerjaan saya adalah para pemain mendapatkan 80 persen dari penghasilan saya."

Mengingat uang yang dibuat untuk mengendalikan pemain, kini tak mengherankan apabila status kepemilikan tangan ketiga menjadi masalah besar. "Ini juga memblok pergerakan bebas pemain," tuding Bosman. "Ada banyak momen, pemain menjadi tawanan birokrasi. Suatu ketika, mereka tidak dibayar dan dalam kasus ini, FIFPro, serikat dunia untuk pemain, harus melakukan intervensi dalam rangka menegakkan kontrak pemain profesional, melakukan pengawasan dan membuat para pemain merasa terlindungi.

Bosman berjuang untuk hal yang baik dan menang. Pesepakbola di manapun tentu berutang kepadanya. Tapi, 20 tahun setelahnya, sepakbola belum benar-benar berdamai dengan hal-hal negatif; dalam menangani masalah. Aturan Bosman justru menciptakan masalah baru ketimbang memecahkannya. Memang pastinya bukan hanya bencana bagi sepakbola sebagaimana seperti diklaim Aigner.

"Jika saya bisa kembali, saya tidak akan mengubah sedikitpun dari apa yang telah saya lakukan," ujarnya pekan kemarin. "Sangat penting mengamati pertempuran yang terus berlanjut dan itulah yang FIFPro lakukan untuk melindungi hak-hak para pemain. Kami mungkin memenangkan pertarungan, tapi belum selesai berperang."

Bosman memang benar sesuai sistem - namun menjadi buruk ketika kompetisi kekayaan yang sehat menjadi korban dalam pengejaran kebebasan.