Perseteruan (Nyaris) Dua Dekade Francesco Totti & Gianluigi Buffon

Delapan belas tahun adalah waktu yang telah dilalui duo legenda Italia, Francesco Totti dan Gianluigi Buffon, sebagai rival di kasta tertinggi sepakbola Negeri Pizza.

Serie A Italia musim 2015/16 baru saja dimulai pekan lalu, tapi di giornata kedua akhir pekan ini grande partita sudah siap tersaji. Adalah dua tim dengan prestasi terbaik di Serie A dalam dua musim terakhir, AS Roma dan Juventus, yang bakal saling bentrok di Olimpico Roma, Minggu (30/8) malam WIB.

Hamparan kualitas, gengsi tinggi, yang membentuk atmosfer panas dipastikan jadi aroma khas pertandingan. Terlebih hasrat untuk memenangkan laga bakal makin memuncak, seiring hasil negatif kedua tim pada giornata perdana lalu.

Selain itu kita juga akan disuguhkan rivalitas yang sudah berjalan lebih dari 18 tahun antara kapten kedua klub, yakni Francesco Totti dan Gianluigi Buffon. Duo legenda sepakbola Negeri Pizza ini memang sempat bahu-membahu kala timnas Italia memenangi Piala Dunia 2006, tapi mereka tak pernah jadi kawan di level klub. 

Sepanjang sejarah pertemuan, yang dimulai pada 13 April 1997, Totti dan Buffon sudah saling berseteru dalam 27 pertandingan. Semua berlangsung di Serie A, yang mayoritasnya punya dampak signifikan pada raihan scudetto. Dari jumlah tersebut Buffon unggul dengan koleksi 11 kemenangan. Totti sendiri tak berada jauh di belakang, karena menorehkan delapan kemenangan. Sementara sisanya berakhir imbang.

Totti tentu menjalani semua partai tersebut dengan jersey kebesaran Romayang sudah dibelanya sejak usia delapan tahun. Sementara Buffon dengan dua klub, yakni Parma dan Juve. Perbedaannya cukup besar, karena bersama Il Gialloblu, Superman inferior dibandingkan Er Pupone dengan hanya mampu menang dua kali dan kalah empat kali. Peruntungan Buffon berubah di Juve, lantaran sukses meraup sembilan kemenangan dan hanya kalah empat kali dari Il Giallorossi.

Menariknya, Buffon yang di sepanjang karier memiliki rasio kebobolan 57,12 persen per partai, membengkak persentasenya jika bertemu Totti. Rasionya jadi 74 persen, dengan Il Capitano Roma sudah mencetak 12 gol di sepanjang kariernya ke jala kapten Gli Azzurri tersebut.

Kini jelang digelarnya grande partita antara Roma dan Juve, Goal Indonesia mengajak Anda pergi ke masa lalu untuk menengok lima laga terbaik antara Totti kontra Buffon. Simak!
 

AS ROMA 0-1 AC PARMA (13 APRIL 1997)

Inilah partai penanda dimulainya perseteruan Totti dan Buffon. Kala itu kedua pemain merupakan youngster sensasional di Serie A. Totti yang berusia 21 tahun dan Buffon yang masih 19 tahun, merupakan kebanggaan akademi Roma dan Parma, karena sanggup menembus starting XI tim utama.

Keduanya memasuki lapangan dengan sangat akrab, karena telah saling mengenal di timnas Italia level junior. Dalam duel tersebut, Totti masih mengenakan nomor punggung 17 dan Buffon bernomor 12. Laga berjalan seru, dengan Totti beberapa kali membuat Buffon jatuh-bangun, lewat beberapa tembakan terukurnya.

Buffon akhirnya menandai pertemuan perdananya dengan Totti lewat kemenangan, setelah sontekan Hernan Crespo di menit ke-44, memenangkan Parma 1-0. Hasil di giornata 27 itu berdampak cukup signifikan pada Parma, yang mengakhiri Serie A 1996/97 sebagai runner-up. Sementara Roma terpuruk di peringkat 12.
 

AS ROMA 3-1 AC PARMA (17 JUNI 2001)

Serie A musim 2000/01 adalah momen yang amat bersejarah bagi Roma. Pada musim tersebut, I Lupi sukses mengukir scudetto ketiga sepanjang sejarah klub, yang tak bisa diulanginya hingga kini. Dengan bintang-bintangnya macam Cafu, Emerson, Vicenzo Montella, Gabriel Batistuta, dan tentunya Totti, mereka begitu perkasa di sepanjang musim.

Dan penentu dari raihan sejarah emas tersebut adalah partai kandang menghadapi Parma, pada giornata pamungkas. Roma diwajibkan menang, agar scudetto tak lari ke Juve yang terpaut dua poin di bawahnya. Totti sang inspirasi, lantas membuka skor pada menit ke-19. Menerima assist Vincent Candela, tendangan geledek Totti menjebol jala Buffon, yang hanya sanggup terdiam. Il Giallorssi pun unggul 1-0.

Montella dan Batistuta kemudian memperbesar keunggulan Roma menjadi 3-0. Sementara Parma hanya sanggup memperkecil keadaan jadi 3-1, lewat Marco Di Vaio. Hasil itu bertahan hingga usai dan Buffon pun harus rela Totti berpesta di hadapannya, merayakan scudetto yang kala itu belum pernah dirasakannya.
 

AS ROMA 4-0 JUVENTUS (8 FEBRUARI 2004)

Pada giornata 20 Serie A musim 2003/04, Juve datang ke Roma dengan status sebagai peraih scudetto dua musim terakhir. Pertahanan mereka juga begitu diagungkan, dengan bercokolnya bek termahal Italia saat itu, Nicola Legrottaglie. Sementara Roma dipandang inferior, sekalipun bermain di Olimpico.

Namun apa yang terpapar kemudian sungguh berkebalikan. Tim Serigala justur sukses mencabik-cabik Si Zebra lewat cara yang kejam, dengan Legrottaglie sebagai tumbalnya. Antonio Cassano jadi inspirasi kemenangan lewat dua gol-nya, ditambah masih-masing satu dari Olivier Dacourt dan tentunya Totti, yang tak mau ketinggalan menjebol jala Buffon.

Roma pun berhasil mengakhiri pertandingan dengan kemenangan telak 4-0! Hasilitu jadi kekalahan terbesar Buffon selama membela Juve bahkan hingga kini. Bukan wajah Cassano, melainkan sosok Totti-lah yang akan muncul dalam benak Buffon ketika ditanya, "kapan pertandingan terburukmu bersama Juve terjadi?"
 

AS ROMA 1-1 JUVENTUS (12 DESEMBER 2011)

Di bawah asuhan Luis Enrique, Roma mencoba bangkit dari keterpurukan kala menjamu Juve di giornata 15 Serie A musim 2011/12. Kemenangan jelas bakal memberi energi yang luar biasa bagi Tim Ibu Kota, karena sang lawan merupakan salah satu rival abadi.

Roma tampil begitu luar biasa dengan membuat lini pertahanan Juve bermain begitu ke dalam. Pertandingan baru berjalan enam menit, umpan manis Totti sukses dimaksimalkan Daniele De Rossi menjadi gol! Roma unggul 1-0 hingga turun minum. Bangkit di babak kedua, Juve berhasil menyamakan kedudukan lewat tandukan mantap Giorgio Chiellini, di menit ke-61.

Berselang tiga menit, Roma mendapatkan momen krusial setelah Arturo Vidal melanggar Erik Lamela di kotak terlarang. Hadiah penalti diberikan untuk tuan rumah dan tentu saja Totti yang jadi eksekutor. Hasilnya? Mengejutkan, tembakan super kencang Totti ke pojok kanan gawang Juve ditepis Buffon! Kesempatan terbaik Roma untuk menang pupus dan pertandingan berakhir imbang 1-1. Momen tersebut juga jadi kali pertama Buffon menggagalkan penalti Totti.
 

JUVENTUS 3-2 AS ROMA (5 OKTOBER 2014)

Dalam dua musim terakhir Juve dan Roma merupakan tim terbaik di Serie A. Juve selalu sukses meraih scudetto, sementara Roma setia sebagai antagonis utama lewat status runner-up. Berdasar fakta tersebut, tak heran jika duel kedua tim kini lebih bergengsi, sarat emosi, dan tak jarang menuai berbagai momen kontroversial.

Salah satu yang paling panas adalah bentrok kedua tim musim lalu, di Juventus Stadium. Dimulai dengan handsball Maicon yang keputusan awalnya adalah tendangan bebas, diubah menjadi penalti. Carlos Tevez sang eksekutor lantas sukses mengubah kedudukan menjadi 1-0 untuk Juve. Kemudian berlanjut dengan diving Totti, yang dinilai sebagai pelanggaran keras Stephan Lichtsteiner di kotak terlarang Juve. Il Capitano pun menyalin aksi Tevez, untuk menyamakan keadaan menjadi 1-1.

Juan Iturbe membuat J Stadium terdiam, lewat gol cantiknya yang membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk Roma. Namun kontroversi tak berhenti, ketika pelanggaran terhadap Paul Pogba dihadiahi penalti, yang dianggap para penggawa Roma terjadi di luar kotak penalti. Tevez yang kembali jadi eksekutor, lantas menyamakan keadaan menjadi 2-2. Juve akhirnya menutup laga dengan keunggulan 3-2, berkat tembakan geledek Leonardo Bonucci. Gol itu pun tetap menuai kontroversi, karena Vidal yang berdiri di posisi offside dinilai menghalangi pandangan kiper Roma, Lukasz Skorupski.

Selepas pertandingan Totti dan Buffon berseteru hebat melalui media. Totti menyarankan Juve untuk bermain di liga lain saja, karena selalu dilindungi wasit. Sementara Buffon menyindir sang mantan rekan lewat ucapan, "pecundang selalu saja menemukan alasan!"

 

Topics