Persib Bandung U-21 Terapkan Revolusi Mental

Ada sembilan pemain yang terpaksa diistirahatkan karena tidak disiplin.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN Ikuti di twitter

Persib Bandung U-21 memang sudah dipastikan gagal melangkah ke babak 12 besar Indonesia Super League (ISL) U-21 2014. Itu setelah, tim berjulukan Maung Ngora tersebut hanya finis di peringkat ketiga klasemen akhir grup 1 dengan tujuh poin dari enam laga yang telah dilalui.

Namun begitu, berbagai pelajaran penting dipetik oleh para penggawa Persib U-21. Pelatih Persib U-21, Jaino Matos, mengungkapkan banyak dinamika yang terjadi di dalam timnya mulai dari masa persiapan hingga fase kompetisi.

Meski hasil yang dicapai tidak sesuai dengan target yang mereka usung, namun Matos cukup gembira melihat perkembangan timnya dalam mengarungi kompetisi ISL U-21. Sejak awal pembentukan tim pada Oktober 2013, pelatih asal Brasil itu pun lebih menekankan kepada proses pembinaan dalam pembentukan pemain elite untuk level senior di masa depan.

Untuk itu, Matos banyak merekrut para pemain muda untuk memperkuat timnya. Bisa dibilang, Persib U-21 adalah skuat termuda dibandingkan dengan peserta lainnya di grup 1. Itu jika menilik dari segi rata-rata usia para pemainnya.

Ya, berdasarkan data yang ada rata-rata pemain Persib U-21 berusia 17,9. Bandingkan dengan rata-rata usia pemain Sriwijaya FC U-21 (20,1), Semen Padang U-21 (20,3), dan Pelita Bandung Raya U-21 (19,8).

Namun, dengan skuat yang dimilikinya berbagai persoalan labilnya para pemain muda juga dialami Matos. Bahkan, ada sembilan pemainnya (tujuh di antaranya pemain inti) terpaksa diistirahatkan sementara. Menyusul, tindakan tidak disiplin yang mereka lakukan, jelang laga melawan PBR U-21, 31 Mei lalu.

Padahal, pada laga itu mereka harus mengejar poin penuh krusial untuk menjaga asa bisa lolos ke babak 12 besar. Imbasnya, Untung Wibowo dan kawan-kawan harus menerima kenyataan pahit ditaklukkan PBR U-21 dengan skor telak 4-0.

"Tapi yang memuaskan buat kami musim ini adalah di dalam masa pahit itu anak-anak bisa bangkit dan mengalahkan juara bertahan ISL U-21 Sriwijaya FC U-21 di laga terakhir," ujar Matos, kepada Goal Indonesia.

Berdasarkan pengalaman dari dua peristiwa itu, Matos mengambil kesimpulan. Pola pikir para pemainnya sudah berubah drastis dalam melihat profesi mereka sebagai pemain profesional. Itu setelah, seluruh penggawa Persib U-21 tersadar untuk tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan sembilan rekan-rekannya sebelumnya.

"Revolusi mental yang kami terapkan berhasil. Kami selalu mengevaluasi baik dari segi teknik maupun non teknik. Jadi, tidak berdasarkan hasil kalah, seri, atau menang," papar Matos.

"Pada usia dini, orientasi lebih baik dimulai dari pola pikir, disiplin, performa, baru terakhir melihat pada hasil," tambahnya.

Selanjutnya, Matos akan mempersiapkan timnya lebih baik. Mengingat, masih banyak waktu hingga ISL U-21 musim depan. Terlebih, dia sudah mengetahui secara detail apa yang mesti dilakukan terhadap skuat mudanya nanti.

"Secara ilmu kepelatihan, kami bisa menilai performa para pemain untuk lebih baik ke depannya. Di Diklat Persib kami memiliki sport science laboratorium untuk memonitor secara detail level yang dimiliki masing-masing pemain."

"Sehingga kami bisa mengetahui apa yang dibutuhkan para pemain untuk berkembang. Langkah ini sangat penting dalam pengembangan usia muda," pungkasnya.

>
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.