PROFIL: Carli Lloyd, Pahlawan Amerika Serikat

Topics

Peraih Bola Emas ini mencetak gol di setiap pertandingan babak gugur dan mencetak hat-trick dalam waktu 16 menit di final kontra Jepang.

Enam pekan lalu, ketika timnas Amerika Serikat (AS) tinggal beberapa hari melakukan persiapan untuk Piala Dunia Wanita, Carli Lloyd melakukan latihan sendirian saat pulang ke New Jersey. Hanya ada Lloyd. headphone , dan lapangan. Ia melakukan sprint dan merasa seperti seseorang yang terbakar.

"Saya memimpikan bermain di final Piala Dunia dan membayangkan bisa mencetak empat gol," ujar Lloyd.

Pemain berusia 32 tahun itu menampilkan performa luar biasa di final yang berlangsung di BC Place, Senin (6/7) pagi WIB. Ia mencetak hat-trick dalam waktu 16 menit di awal babak pertama dan membawa Amerika Serikat meraih kemenangan 5-2 atas Jepang di final Piala Dunia.

Gol pertama tercipta pada menit ketiga setelah Lloyd memanfaatkan sepak pojok. Gol kedua terjadi dua menit berselang melalui situasi tendangan bebas. Sementara itu, gol ketiga dilakukan dengan spektakuler. Ia mampu mendapat bola di aera timnya dan melepaskan tendangan dari posisi gelandang. Bola meluncur di atas kepala kiper Jepang Ayumi Kaihori.

"Ketika Anda merasa baik secara mental dan fisik, maka yang dimainkan hanya insting," ujar Lloyd.

"Itu terjadi begitu saja. Saya merasa seperti sedang pinsan selama 30 menit pertama atau lebih."

Gol tendangan voli Lauren Holiday, disertai hat-trick Lloyd, membuat AS unggul 4-0 hanya dalam waktu 16 menit. Lloyd tampil gemilang, dan ia mencetak gol di setiap pertandingan babak gugur, tapi performa di babak ini tidak ada bandingannya dalam sejarah soccer wanita.

Itu adalah hat-trick pertama yang terjadi di final Piala Dunia Wanita, dan merupakan yang kedua secara keseluruhan setelah Geoff Hurst melakukannya--lebih dari 120 menit--di final Piala Dunia Pria 1966 untuk timnas Inggris.

"Saya merasa seperti sebuah mimpi, duduk di bangku cadangan menyaksikan aksi Carli Lloyd," ujar penyerang AS Abby Wambach.

Tanda-tanda kegemilangan Lloyd sudah terlihat sebelum penampilannya di babak gugur, ketika ia berhasil menyabet Bola Emas dan Sepatu Silver. Ia meraih kemenangan di pertandingan medali emas di Olimpiade 2008 di Beijing, kemudian mencetak dua gol lawan Jepang ketika AS mempertahankan gelar di London 2012.

Setelah sekali lagi digagalkan Lloyd, pelatih Jepang Norio Sasaki kembali hanya bisa tersenyum: "Ms. Lloyd, ia selalu melakukan ini kepada kami."

Kini, sang gelandang telah membawa AS meraih gelar besar ketiga, legenda Lloyd hanya akan tumbuh.

"Ia adalah pemain yang Anda lihat di Piala Dunia, di Olimpiade, di turnamen besar," ujar penyerang Alex Morgan.

"Ia adalah pemain yang suka tekanan dan akan bersaing di level tertinggi dengan banyak mengancam di garis [pertahanan lawan].'

Meski penampilan Lloyd di babak gugur akan selalu dikenang, namun pemandangan tidak begitu cerah hanya dilihat sejak tiga pekan yang lalu. Ketika ia terbelenggu ke posisi yang lebih bertahan sehingga menuntutnya berada di gelandang tengah, ia tidak merasa seperti dirinya sendiri. Ia kemudian duduk bersama pelatih Jill Ellis setelah babak grup untuk menyampaikan perhatiannya.

Lloyd kemudian mendapat lampu hijau untuk menyerang lebih bersemangat di kemenangan perempat-final kontra Tiongkok, dan pindah ke posisi penyerang saat tim menang atas Jerman di babak semi-final. Dari posisi itulah, ia mampu tampil dominan atas Jepang. Ia memiliki naluri kreatif untuk dimanfaatkan dengan baik dari posisi yang lebih bebas.

"Tentu, ia sangat bagus dan sangat kreatif yang kadang sulit diketahui apa yang berikutnya akan ia lakukan," ujar bek Meghan Klingenberg.

"Kadang itu menjadi agak sulit bermain bareng Carli. Tapi, di waktu yang bersamaan, itu menjadi mudah karena ia sangat bagus dengan bola dan tidak kehilangan. Jadi, ia adalah pemain yang luar biasa."

Ketika banyak pemain AS yang pergi dengan rekan-rekan dan keluarga mereka sepanjang turnamen Piala Dunia, Lloyd justru mengisolasi diri. Tidak ada rekan, tidak ada tunangan. Hanya ada Lloyd, rekan-rekannya di tim, dan lapangan."

Sekarang mereka pulang dengan medali juara Piala Dunia ada di belakangnya--persis cara seperti itu dia digambarkan.

"Saya persembahkan seluruh hidup saya untuk ini dan segala sesuatunya menjadi yang kedua, tapi saya tidak akan memiliki cara lain," ujar Lloyd.

"Saya sangat bangga dan sangat kuat di waktu yang bersamaan. Ini adalah momen yang begitu nyata. Ini menakjubkan. Kami baru saja membuat sejarah hari ini."

 

Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:

Facebook goal.indonesia

Google Plus +goalcomindonesia

Twitter @GOAL_ID

 

 

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.