PROFIL: Charlie Austin, Dari Tukang Batu Hingga Liga Primer Inggris

Siapa sangka bomber QPR yang baru mengemas hat-trick perdananya di Liga Primer itu dulunya pernah menjalani profesi sebagai tukang bangunan...

OLEH ERIC NOVEANTO

Kembalinya Queens Park Rangers di pentas Liga Primer Inggris musim ini diiringi dengan munculnya bintang baru bernama Charlie Austin . Nama tersebut tentu masih terdengar asing bagi kalangan penikmat sepakbola Inggris.

Bersama pasukan The Hoops dalam kampanye musim 2014/15, pemain berusia 25 tahun itu tampil gemilang dan mampu menjadi top skor sementara klub dengan 11 gol, catatan itu kian mengilap setelah ia membukukan torehan hat-trick perdananya di pentas tertinggi saat membawa timnya menang 3-2 atas West Bromwich Albion , akhir pekan lalu. Jumlah tersebut membuatnya kini bersaing dalam daftar pencetak gol terbanyak Liga Primer sejauh ini, bersaing dengan nama-nama tenar lainnya seperti bintang Manchester City, Sergio Aguero, bomber anyar Chelsea, Diego Costa hingga winger eksplosif Arsenal, Alexis Sanchez.

Lantas siapakah Austin? Jika menilik perjalanan karier pemain berkebangsaan Inggris itu dalam enam tahun ke belakang, mungkin Anda tidak akan percaya. Kala itu, pria kelahiran Hungerford itu merintis karier dalam dunia sepakbola sebagai pemain paruh waktu bersama dengan Poole Town di Divisi Utama Wessex, kompetisi kasta kesembilan dalam piramida sepakbola Inggris.

Austin merayakan trigolnya ke gawang West Bromwich Albion

Pesepakbola bukanlah pekerjaan utamanya saat itu. Selain menggeluti dunia hijau, Austin juga merupakan seorang tukang bangunan. Kedua profesi tersebut dilakukannya berdampingan dan ia sama sekali tak menganggapnya sebagai beban.

Seolah sudah digariskan untuk fokus menekuni pentas sepakbola, talentanya saat itu sebagai striker semi-profesional tercium oleh seorang pemandu bakat yang kemudian disusul tawaran untuk memperkuat Swindon Town di ajang divisi League One musim 2009/10 atau setara dengan kasta ketiga.

Di klub barunya itu, tak butuh waktu lama bagi Austin untuk menunjukkan sinarnya. Hal itu terbukti dari catatan golnya, dari 15 penampilan perdananya ia berhasil menorehkan jumlah gol sebanyak 13. Sebuah loncatan prestasi mengingat ia sebelumnya berasal dari enam divisi lebih rendah.

"Anda mungkin terbiasa dengan kehidupan profesional, namun sulit untuk mengabaikan awal perjalanan karier saya beberapa tahun ke belakang ketika saya menjalani latihan bersama Poole yang hanya dua kali dalam sepekan," ungkap Chaza.

Tak ayal, namanya pun menjadi idola baru bagi Swindon, tak sampai di situ saja, prestasinya kian meningkat seiring dengan kariernya. Torehan 32 gol dari 58 laga selama dua musim memperkuat The Robins menarik minat Burnley, yang kemudian meminangnya untuk mengarungi divisi Championship musim 2011/12.

Menapak di panggung yang lebih tinggi, Austin terus menjaga konsistensi permainannya dan kembali menampilkan kontribusi maksimalnya. Dua musim bersama The Clarets , ia makin tajam terbukti dengan catatan 41 golnya dari 82 penampilan. Pencapaian individunya tersebut terus memikat banyak kalangan, termasuk QPR yang kala itu usai terdergadasi dari Liga Primer Inggris 2012/13. Manajer R's Harry Redknapp sadar akan kualitasnya dan tak segan untuk menebusnya senilai £4 juta dari Burnley. Langkah QPR itu merupakan sebuah investasi yang brilian, hanya semusim, Austin membayar kontan kepercayaan QPR. Pencapaian 28 golnya dalam 46 laga menghadirkan kesukesan bagi klub asal London tersebut yang dibawanya kembali ke kasta tertinggi.

"Saya pernah bermimpi untuk dapat mencetak gol perdana di ajang liga kompetitif dan kini saya mampu untuk melakukannya bahkan di Liga Primer dan saya kira hal itu merupakan perasaan yang sangat luar biasa," klaim Austin.

Ya, Liga Primer, itulah panggung di mana Austin beraksi saat ini, impiannya yang telah menjadi kenyataan dan dengan konsistensi permainan yang ditampilkannya sepanjang musim ini, bukan tidak mungkin mimpi selanjutnya akan tercapai, bermain bersama skuat nasional Inggris...