PROFIL: Jean-Kevin Augustin, Sang Pengincar Mimpi Di Paris Saint-Germain

Penyerang muda ini mulai dilibatkan di tim utama oleh klub ibu kota Prancis tersebut setelah menjadi permata di akademi.

Berasal dari Plaisir, sang penyerang tiba di PSG pada 2009 setelah menghabiskan waktu bersama AC Boulogne-Billancourt, sebuah tim lokal yang berada dekat dengan Parc des Princes, dan kepergian Moussa Dembele ke Fulham membantunya meraih kesempatan di level U-17.

Sejak itu, pemain berjuluk ‘JK’ ini secara perlahan mulai berkembang sebelum kemudian bergabung bersama tim utama pada awal musim 2014/15 kemarin dan pelatih Laurent Blanc merupakan pengagum dari talenta muda ini, yang tampil mengesankan selama tur pra-musim di Amerika dan musim dingin di Doha.

Jika kalian menyaksikan aksi Augustin untuk kali pertama, kalian akan mengetahui bahwa kualitas fisiknya ada di atas rata-rata, ditambah dengan akselerasi yang mengagumkan. “Gaya bermain saya cenderung eksplosif,” akunya. “Antara sesi latihan saya berlatih di ruangan yang dikhususkan untuk membentuk badan.”

Rekan setimnya seperti Maxwell tidak membantah fakta tersebut. “Dia punya kecepatan, dia punya kekuatan dan secara fisik kuat,” ujarnya. “Sayangnya, kami punya banyak penyerang jadi dia belum punya waktu di lapangan. Namun tiap kali dia di sini, dia menunjukkan kualitasnya.”

Terlepas skema latihannya tersebut, sang pemain menyadari bahwa itu saja tidak akan cukup untuk mencapai level tertinggi. Sesi latihan pertamanya dengan pemain profesional datang seperti sebuah wahyu. Ia mungkin memiliki empat atau lima peluang sebagai pemain muda untuk mencetak gol, tapi deretan bintang PSG tidak mengizinkannya untuk memiliki kesempatan mewah. “Dia harus bekerja pada hal-hal tertentu ketika ia masuk,” ujar Blanc.

“Saya sudah mencatatkan perkembangan di depan gawang,” aku sang pemain. “Namun saya masih punya banyak hal yang harus ditingkatkan untuk mencapai level tersebut. Berlatih bersama para pemain bintang setiap hari, yang bisa terjadi hanyalah sukses. Rekan setim saya meminta saya untuk memikirkan mengenai target sebelum saya mulai memikirkan untuk menembak dengan keras.”

Maxwell adalah salah satu pemain yang memberinya nasihat dan ia menjelaskan lebih lanjut: “Kami harap dia akan terus termotivasi setiap harinya, bahkan jika ia tidak sering bermain. Kami akan melakukan apa pun untuk membantunya menjadi pemain yang lebih baik.”

Augustin tengah berkembang. Di usia 18 tahun, ia mulai menjadi pria yang lebih baik dan semakin memahami kebutuhan untuk mencapai level tertinggi. “Ketika Anda adalah pemain muda di PSG, di sana ada banyak persaingan dan Anda harus memiliki kualitas yang sangat bagus,” ujar Blanc. “Dia, meski begitu, harus terus melanjutkan perkembangannya namun juga bermain reguler jika ia ingin menjadi pemain yang sangat, sangat bagus.”

Satu situasi yang memungkinan Augustin mewujudkan hal tersebut adalah menghabiskan enam bulan di tempat lain untuk menguji kemampuannya, setelah yang bersangkutan mencetak gol perdananya di Ligue 1 musim ini melawan Troyes dan mencicipi menit bermain di Liga Champions melawan Malmo.

Keputusan untuk pergi, meski sementara, tergolong sulit karena hal itu memiliki risiko. Risikonya adalah bagaimana pemuda itu akan bereaksi dengan lingkungan baru, yang nantinya akan ada lebih banyak tanggung jawab dan apakah ia akan dilindungi?

Sampai saat ini, semuanya terjadi dengan sangat cepat. Ini tidak bisa berhenti sekarang. Akademi PSG ingin menggaungkan namanya layaknya sebuah trofi.

Topics