PROFIL Rafael Marquez: Kapten Empat Piala Dunia

Topics

Rafael Marquez menjadi kapten Meksiko di Piala Dunia ke-empat kalinya tahun ini. Siapa dia? Berikut profil veteran eks pemain Barcelona tersebut.

OLEH TEGAR PARAMARTHA Ikuti di twitter

Rafael Marquez bisa dikatakan sebagai salah satu pemain terbaik di sepanjang sejarah sepakbola Meksiko dengan segudang prestasi yang ia dapatkan sepanjang karirnya. Bahkan, pemain berusia 35 tahun itu kini mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemain pertama dalam sejarah sepakbola yang menajdi kapten timnas untuk ke-empat kalinya di Piala Dunia, setelah sebelumnya ia juga mengemban ban kapten pada 2002, 2006 dan 2010.Marquez mengawali karirnya di kampung halamannya bersama Atlas, di mana dia melakoni debut pada usia 17 tahun. Di klub tersebut, ia tampil sebanyak 77 kali dan mampu menyumbangkan enam gol. Atlas juga ia antar menjadi runner-up Liga Meksiko, setelah kalah di babak final melawan Toluca melalui adu penalti pada 1999.
Kemudian nasibnya berubah ketika perwakilan AS Monaco datang ke Meksiko. Tim Prancis itu sebenarnya datang untuk memantau Pablo Contreras pada Copa America 1999. Dan pada akhirnya, selain Contreras, Monaco juga menggaet jasa Marquez, dengan banderol €7 juta.
Di Ligue 1 Prancis Marquez langsung menarik perhatian, hingga ia berhasil mengantar timnya meraih juara liga di musim perdana. Bersama Monaco, ia sukses menyabet tiga gelar juara liga dan dua Piala Prancis sebelum memutuskan untuk hengkang ke klub yang lebih besar, yaitu Barcelona pada 2003.
Karirnya bersama Blaugrana-lah yang akan terus dikenang oleh pecinta sepakbola dunia. Ia menjadi duet yang sempurna dengan Carlos Puyol di lini belakang Barcelona, karena mereka berdua saling melengkapi. Jika Marquez bertugas untuk mengirimkan umpan-umpan terukur dari daerah pertahanan, maka Puyol lebih bertanggung jawab pada tugas kasar."Rafa Marquez adalah spesies yang terancam punah. Dia tidak memiliki atribut fisik yang sangat bagus, dia tidak sangat cepat, tetapi dia sangat, sangat pintar," puji Guardiola. "Dan dalam sepakbola, pada hal sederhana, membawa bola dari pertahanan ke lini tengah dan dari lini tengah ke lini depan, dia salah satu pemain terbaik."
Visinya dalam memberi umpan membuat Marquez juga kerap didorong maju sebagai gelandang jika pelatih merasa membutuhkan daya gedor yang lebih kuat. Marquez menghabiskan tujuh tahun di Spanyol dan meraih kesuksesan yang lebih besar daripada masanya di Prancis. Ia mengantar Barcelona menjadi juara liga sebanyak empat kali dan juga dua gelar Liga Champions, sebuah pencapaian yang bahkan tidak bisa direngkuh oleh legenda Hugo Sanchez ketika bermain di Real Madrid.
Trofi prestisius itu direngkuh pertama kali pada 2006, Marquez berhasil meredam striker Thierry Henry yang sangat ditakuti kala itu, sehingga Barcelona berhasil memukul Arsenal dan ia menjadi pemain Meksiko pertama yang berhasil mengangkat trofi Liga Champions. Trofi kedua digapai pada 2009, namun ia tidak tampil di final karena mengalami cedera.
Klub Marquez selanjutnya adalah New York Red Bulls, sebuah periode yang akan menjadi tinta hitam dalam karirnya. Ia gagal menampilkan performa terbaik di Amerika Serikat, Marquez hanya mampu tampil 36 kali dari 73 laga yang tersedia dan ia kerap mendapatkan kartu merah, sehingga selain masalah cedera, masalah sanksi laranngan bermain juga membuatnya kerap harus absen di berbagai pertandingan. Buruknya performa Marquez membuat fans Red Bulls menyebutnya sebagai pemain rekrutan terburuk kedua setelah Claudio Reyna.
Marquez kemudian hengkang ke Leon dan di sana, ia berhasil membangkitkan kembali karirnya. Berstatus sebagai kapten klub, ia mengantar timnya menjadi juara Apertura 2014. Ini adalah gelar liga pertama Marquez di tanah kelahirannya, lebih dari 14 tahun setelah ia kalah dalam adu penalti pada 1999 seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Performa menanjaknya membuat timnas Meksiko kembali meliriknya dan mempercayainya bertindak sebagai kapten El Tri di Piala Dunia Brasil. "Membawa Rafael Marquez memiliki dampak penting bagi para pemain, dia adalah seseorang yang sangat dihargai oleh rekan-rekan satu timnya, dia pemimpin alami," ujar pelatih Miguel Herrera. Tetapi, patut dicatat, kegemilangan Marquez di level klub berbanding terbalik ketika ia memperkuat Meksiko. Marquez tampak lebih sering lepas kontrol emosi ketika membela negaranya, ia kerap melakukan pelanggaran yang sangat keras dan juga kerap mendapatkan kartu merah secara cepat di laga-laga krusial. Kesalahan-kesalahan tersebut terus ia lakukan berulang-ulang hingga banyak fans Meksiko yang mulai tidak menaruh kepercayaan terhadap mantan pemain Barcelona tersebut.
Namun, di Piala Dunia 2014 ini, pada usianya yang ke-35 tahun, Marquez diharapkan lebih bisa bertindak dewasa agar ia bisa membawa Meksiko meraih prestasi yang lebih baik di pentas akbar sepakbola ini. Seperti yang diketahui, pada tiga edisi sebelumnya, tim yang dikapteni Marquez selalu terhenti di babak 16 Besar.
Dengan dukungan pemain berkualitas seperti Giovani dos Santos dan juga semangat para pemain muda El Tri, diharapkan Meksiko mampu melangkah lebih jauh dari babak 16 Besar di bawah kepemimpinan Marquez. Bila itu dilakukan, tentu akan menjadi penutup karir internasional yang manis bagi dirinya.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics