PROFIL: Rolando Mandragora, Kepingan Puzzle Masa Depan Juventus

Juventus terus bergerilya mencari kepingan puzzle masa depan yang tepat dan pilihan terkini jatuh pada sosok Rolando Mandragora.

Pasca kesuksesan luar biasa musim lalu ditambah hilangnya beberapa poros krusial macam Carlos Tevez, Andrea Pirlo, dan Arturo Vidal, manajemen Juventus mulai sedikit mengubah halauannya di lantai bursa. Mereka tak lagi menyasar secara konkret pemain berlabel mega bintang layaknya empat musim terakhir.

Bukan tanpa alasan, Juve sadar jika resikonya besar menambal kepergian para bintang lawas dengan bintang lain dengan rasa berbeda, yang butuh proses adaptasi dari nol plus tak hadirkan garansi performa jangka panjang. Lebih dari itu, Si Nyonya Tua enggan menguras kas uangnya untuk sesuatu yang cuma-cuma.

Juve bisa saja melakukannya, karena toh mereka merupakan salah satu dari 10 klub terkaya dunia versi Deloitte dan disokong oleh keluarga konglomerat Agnelli. Namun seperti dikatakan presiden klub, Andrea Agnelli, bahwa tim yang benar-benar besar melakukan segalanya melalui proses, tidak dengan cara instan, seperti yang "ngtren" belakangan ini.

"Kami bisa mencapai puncak layaknya musim lalu, setelah melalui proses yang panjang pasca keterpurukan di Calciopoli. Musim ini era baru Juve telah dimulai dan kami ingin melakoninya secara perlahan, setahap demi setahap. Kami punya proyek besar yang akan berbuah dalam lima tahun ke depan," tutur Agnelli.

Dari pernyataan itu dan gelagat terbaru Juve di lantai bursa, bisa ditebak bahwa Tim Hitam Putih lebih memprioritaskan transfer pada bibit-bibit muda nan potensial. Mereka sudah mengumpulkan kepingan puzzle masa depan musim ini dengan merekrut Daniele Rugani, Alex Sandro, Mario Lemina, Simone Zaza, dan tentu saja Paulo Dybala.

Pada bursa musim dingin ini Juve juga condong dihubungkan pada para wonderkid yang mungkin asing di telinga Anda, macam Alessio Di Massimo, Stefano Sensi, Giovani Lo Celso, Kaan Kairinen, dan Rolando Mandragora. Sosok-sosok itu hadir bukan untuk memanaskan hidangan berita media, karena faktanya nama terakhir baru saja sah jadi kepingan puzzle masa depan baru I Bianconeri.

PSG
ROLANDO MANDRAGORA

GELANDANG | ITALIA
INFORMASI PERSONAL
Nama Lengkap Rolando Mandragora
Tanggal Lahir 29 Juni 1997 (18 tahun)
Tempat Lahir Napoli, Italia
Tinggi 183 cm
Posisi Gelandang
STATISTIK KARIER - Laga/Gol
2014-2015 Genoa 5/0
2015-2016 Pecara 17/0
2016-... Juventus 0/0

Bagi Anda yang doyan bermain video game sepakbola layaknya Football Manager, FIFA, atau Pro Evolution Soccer, pasti tak asing dengan Mandragora. Pada game-game tersebut, pemain yang usianya belum genap 19 tahun ini cukup mentereng sebagai wonderkid yang kemudian berubah jadi superstar di masa depan.

Namun mari kita telusuri latar belakangnya untuk mengenal sang calon bintang lebih dekat. Mandragora lahir pada 29 Juni 1997 di kota Napoli. Karenanya jangan heran jika emosinya di lapangan kerap meledak, karena itu merupakan ciri khas penduduk Italia Selatan.

Uniknya Mandragora tak merintis karier sepakbolanya di Napoli, tapi justru di klub kecil daerah rumahnya, Ponticelli, bernama AC Ponticelli. Untungnya pilihan itu tak lantas melenyapkannya dari pantauan pemandu bakat, karena pada musim panas 2011 Genoa dibuat terkesan dan memutuskan mengangkutnya ke akademi.

"Saya pernah melatih Mandragora di [tim primavera] Genoa. Dengan cepat saya menyadari dia memiliki potensi menjadi pemain yang hebat. Rolando pekerja keras dalam latihan. Dia pria baik dan bisa berkembang pesat. Dia selalu berjuang untuk tim dan punya jiwa yang besar," kenang Fabio Liverani, mantan pelatih tim primavera Il Grifoni.

Cukup tiga tahun bagi pemain yang berposisi sebagai gelandang tengah itu mengasah kemampuannya di tim primavera. Pelatih tim senior Genoa, Gian Piero Gasperini, kemudian secara mengejutkan memanggilnya ke tim utama pada musim 2014/15 dan memberikannya debut pada 29 Oktober 2014.

Bukan sekadar debut, karena Mandragora langsung ditugaskan sebagai jangkar dalam starting XI menghadapi klub induknya kini, Juventus! Fantastis, karena ia sama sekali tak tampil mengecewakan selama 69 menit dan membawa Genoa menang 1-0! Sayang, semenjak itu pengidola Andrea Pirlo tersebut hanya tampil di empat partai saja dan musim ini memilih untuk dipinjamkan ke Pescara, demi jam terbang bermain yang lebih tinggi.

Berkarier di kasta yang lebih rendah, Serie B Italia, Mandragora sukses menyegel satu tempat inti di Pescara. Pesonanya makin terlihat seiring dirinya yang rutin bermain. Performa itu pun melanjutkan konsistensinya membela timnas Italia di segala umur dengan kini tergabung dalam Gli Azzurrini U-21.

Juara Piala Dunia 2006, Massimo Oddo, yang kini menangani Pescara cukup berjasa atas mencuatnya Mandragora. Ia menegaskan posisi sang pemain muda sebagai gelandang jangkar. Sebelumnya di Genoa pemain bertinggi 183 centimeter itu sempat diposisikan sebagai bek tengah dan gelandang serang.

Tak pelak, publik dan media yang tak benar-benar tahu gaya bermain Mandragora, mulai menyamakannya dengan Marco Verratti, sosok gelandang muda Italia yang jadi andalan Paris Saint-Germain dan timnas Italia asal Pescara. Dilihat dari posisinya sebagai jangkar, memang terdapat kesamaan, tapi rekan Mandragora di Biancoazzurri, Hugo Campagnaro, punya pendapat berbeda.

"Mandragora punya kepala yang tidak umum bagi siapa pun di usianya saat ini. Pergerakannya mengingatkan saya pada Thiago Motta, tapi saya juga melihat kecerdasan taktikal dan kelihaian Javier Mascherano padanya," nilai mantan bek Sampdoria, Napoli, dan FC Internazionale tersebut.

Ya, Thiago Motta merupakan contoh terbaik soal deskripsi gaya bermain Mandragora. Tidak punya kecepatan tinggi dan tembakan jarak jauh akurat memang, tapi memilliki visi permainan luar biasa, operan super akurat, sangat sulit kehilangan bola berkat bekal kelebihan fisik, serta unggul dalam duel-duel udara.

Mandragora bahkan semakin menyerupai Motta, karena dirinya juga merupakan sosok yang temperamental. Begitu kerap dia mendapat kartu akibat pelanggaran atau sikap konyol. Tengok saja statistiknya, yang sudah mendapat sembilan kartu kuning dari 16 laganya di Serie B.

Segala kelebihan yang dimiliki Mandragora sanggup menarik perhatian serius dua tim besar Eropa, yakni Juve dan PSG. Namun La Vecchia Signora sudah belajar dari kesalahan masa lalu, di mana mereka kalah bersaing dengan Les Parisiens untuk mendapatkan Verratti.

Kali ini Juve bertindak lebih cepat dan konkret. Pendekatan sudah mereka lakukan sejak tiga bulan lalu, melalui aktor yang sukses mendatangkan Stephan Lichtsteiner, Carlos Tevez, dan Alvaro Morata, yakni Fabio Paratici. Kesepakatan pun diraih tepat Selasa (19/1) kemarin.

Demi Mandragora, Juve rela menggelontorkan uang tak kurang dari €6 juta yang berpotensi membengkak menjadi €12 juta untuk Genoa, seiring performa sang gelandang muda. Bagi seorang wonderkid yang usianya masih 18 tahun, tentu ini bukan investasi sembarangan.

Namun Mandragora belum akan bergabung dengan Juve pada musim dingin ini. Ia bakal melanjutkan masa peminjaman di Pescara hingga musim 2015/16 berakhir. Sebuah keputusan tepat, karena kini komposisi gelandang La Vecchia Omcidi sudah cukup sesak dan berpotensi menggerus habis menit bermain Mandragora jika bergabung.

Menilik posisinya, Mandragora sudah pasti diproyeksikan mengisi pos regista peninggalan Pirlo yang kini ditempati Claudio Marchisio. Potensinya untuk mendapat peran penting cukup besar, mengingat di skuat Juve musim ini tak ada satu pun pemain yang punya posisi natural sebagai gelandang jangkar, termasuk Marchisio. Selain itu mempertimbangkan teknik dan fleksibilitasnya, dirinya juga bisa melapis Leonardo Bonucci yang merupakan sweeper dalam skema tiga bek.

Dengan daya jual kualitas macam itu, karenanya tak heran bila pelatih Juve, Massimiliano Allegri, antusias dengan pembelian Mandragora. "Mandragora pemain muda, saya tahu dia memiliki kualitas yang besar dan klub membuat perekrutan bagus di bursa transfer," ujarnya semringah.

Kini kita tinggal menantikan kiprah Mandragora bersama Juve musim depan. Apakah ia merupakan kepingan puzzle masa depan yang sesuai susunan atau malah di luar bingkai harapan?

Topics