PROFIL: Siapa Sebenarnya Calum Chambers?

Mencuri perhatian dengan menjadi starter di seluruh laga Emirates Cup sebagai bek tengah, namun lengah mengantisipasi gol penentu Radamel Falcao di partai terakhir.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Seisi Emirates Stadium bersorak ketika nama Calum Chambers dikumandangkan oleh pembawa acara dalam susunan pemain Arsenal yang diturunkan Arsene Wenger di Emirates Cup akhir pekan lalu. Namun, setelah Arsenal gagal menjuarai turnamen pra-musim tersebut, optimisme dan pesimisme terkait Chambers mencuat secara bersamaan.
Kekalahan 1-0 di laga terakhir melawan AS Monaco menyisakan tanda tanya bagi para Gooner mengingat di laga pembuka tim kesayangan mereka sukses menghancurkan Benfica 5-1. Chambers tampil starter di kedua laga itu, namun ia turut bersalah dalam gol penentu kemenangan Monaco yang dicetak Radamel Falcao. Valencia pada akhirnya mengangkangi sang tuan rumah untuk menjuarai Emirates Cup edisi ketujuh ini.
Dengan rampungnya dua partai perdana Chambers berseragam Arsenal, ia tentu tidak bisa langsung dicap berhasil atau gagal. Namun tidak ada salahnya untuk mengenal lebih jauh sosok pemuda yang baru saja didatangkan dari Southampton dengan nilai transfer yang diperkirakan berharga £16 juta ini. Goal Indonesia mencoba menganalisis seperti apa prospek bek berusia 19 tahun ini bersama Arsenal.

Mari menyimak laga debut Chambers bersama Arsenal ketika Benfica sukses mereka lumat 5-1. Tidak seperti biasanya ketika ia lebih banyak diturunkan sebagai bek kanan di Southampton musim lalu, Chambers ternyata ditempatkan sebagai bek tengah oleh Wenger dan diduetkan bersama dengan Nacho Monreal yang juga bukan berposisi asli sebagai centre-back.
Postur tinggi Chambers yang mencapai 182 cm mungkin dijadikan patokan Wenger untuk mengubah posisi aslinya ini. Nyatanya, eksperimen Wenger merapatkan duo full-back ke posisi sentral mampu berjalan dengan baik.
Chambers, secara khusus, sukses membuat para penyerang Benfica tak berkutik sepanjang satu jam sebelum akhirnya kecolongan juga di menit 61 ketika Nicolas Gaitan sukses memanfaatkan lemparan ke dalam rekan setimnya. Gol tersebut terjadi ketika Arsenal sudah unggul 5-0 dengan Yaya Sanogo menjadi headline-maker lewat empat golnya.
Seperti Sanogo, Chambers juga mencuri perhatian lewat performa konsistennya sepanjang 90 menit. “Chambers bermain sangat baik. Dia adalah pemain cerdas dan bagus dalam duel udara. Apa yang telah ia lakukan di laga tersebut sungguh menjanjikan,” ujar Wenger terkesan seusai laga. Padahal sebelumnya, Wenger sempat mengatakan bahwa pembelian Chambers adalah perjudian baginya.
Akan tetapi, di laga kedua kontra Monaco, perjudian yang dimaksud Wenger benar-benar terjadi. Chambers gagal melanjutkan performa bagusnya di laga sebelumnya, ia tampak diam sepanjang babak pertama sebelum digantikan saat turun minum. Dan yang paling mencolok adalah, Chambers sebenarnya juga patut disalahkan atas gol semata wayang Radamel Falcao di menit 37.
Chambers kembali diturunkan sebagai bek tengah melawan tim Ligue 1 Prancis itu, kali ini ia berduet dengan centre-back asli, Laurent Koscielny. Bek Prancis ini ditugaskan menjaga Falcao ketika Joao Moutinho melepaskan umpan lambung ke kotak penalti via tendangan bebas. Koscielny lalu tampak melepas Falcao untuk mengaktifkan jebakan off-side.
Tapi yang terjadi, Chambers ternyata tidak segaris dengan Koscielny. Chambers justru segaris dengan Falcao dan masih berjarak dua langkah dari penyerang Kolombia itu. Akibatnya, Falacao dengan mudahnya menanduk bola crossing tersebut tepat di depan mata kepala Chambers. Baik Koscielny dan Chambers sama-sama bersalah karena gagal menebak pergerakan Falcao. Pun seandainya Chambers segaris dengan Koscielny, Falcao juga tidak dalam posisi off-side.
Di beberapa kesempatan lain, Falcao dan penyerang Monaco lain seperti Lucas Ocampos juga kerap lepas dari pengawalan Chambers. Untungnya, beberapa umpan Monaco ke kotak penalti tidak tepat sasaran dan baik Koscielny atau Mathieu Debuchy hadir untuk mengkover. Diharapkan hal ini bisa menjadi pelajaran bagi Chambers ketika menghadapi predator ganas lain di musim 2014/15.

Emirates Cup telah usai, kini saatnya Chambers dan Arsenal fokus untuk menghadapi musim 2014/15 nan sibuk seperti biasa. Dengan empat kompetisi yang diikuti Arsenal, maka Chambers diharapkan bisa selalu fit sepanjang musim dan sedikitnya bisa bermain sebanyak 20 laga.
Seringnya Arsenal dibebat cedera saat pertengahan musim membuat kehadiran Chambers akan krusial nantinya, mengingat ia bisa bermain di pelbagai posisi -- bek kanan, bek sentral, dan gelandang tengah -- seperti yang sudah ia tunjukkan ketika sukses menembus tim senior Southampton pada musim 2012/13 lalu.
Musim 2013/14 menunjukkan, Chambers telah jauh berkembang pesat ketimbang musim sebelumnya. Jumlah 22 penampilan di liga menjadi bukti dengan 18 di antaranya sebagai starter. Jumlah intersep dan tekelnya juga terbilang lumayan. Statistik apik tersebut membuat namanya tak kalah meroket dengan rekan setimnya di posisi bek kiri, Luke Shaw, yang kini berpredikat "remaja termahal di dunia" setelah direkrut Manchester United pada musim panas ini.

Kini, Chambers telah tiba di Arsenal. Ia menyadari bahwa dirinya tidak akan langsung bisa menjadi pemain reguler di klub barunya. Namun, kebijakan Wenger yang dikenal sering merotasi pemain karena jadwal padat bisa dijadikan kesempatan bagi Chambers untuk membuktikan diri bahwa ia lebih dari sekdar pelapis bek kanan atau bek sentral di Arsenal.
Kesempatan bermain reguler di Liga Primer Inggris dan di Liga Champions sepanjang musim mungkin belum akan terjadi di musim ini. Namun ketika Arsenal bermain di Piala FA dan Piala Liga, Chambers jelas akan mendapatkan lebih banyak kesempatan bermain.
Jumlah 25 kali bermain di musim depan di semua ajang akan menjadi target realistis bagi Chambers sehingga akan membuat tahun perdananya di Emirates Stadium terbilang sukses.

Sebagai pemain muda yang masih belum mencapai kepala dua, Chambers punya masa depan yang masih panjang. Arsenal menawarkan kesempatan bagi Chambers untuk bisa menaikkan level permainannya tahap demi tahap.
Terlebih, di skuat The Gunners saat ini sudah terlebih dulu masuk alumnus akademi Southampton lain, yakni Theo Walcott dan Alex-Oxlade Chamberlain. Wejangan dari keduanya akan membuat Chambers merasa lebih nyaman sehingga akan membuat dirinya lebih cepat menyatu dengan tim.
Selain Walcott dan Ox, Chambers juga bisa menjadikan Phil Jones sosok teladan lain. Seperti Chambers, Jones adalah bek serbabisa yang pindah ke klub yang lebih besar saat usianya masih 19 tahun. Kini, Jones sukses menempatkan namanya sebagai pemain utama Manchester United dan juga dipanggil secara reguler oleh timnas senior Inggris.
Peluang Chambers untuk mengikuti jejak Jones sebagai tulang punggung klub dan negaranya tentu saja terbuka lebar. Sejauh ini, Chambers secara berjenjang sudah memperkuat Inggris U-17, U-19, dan menjadi kapten di beberapa kesempatan.
Lalu, apa optimisme tertinggi dari seorang Chambers? Ia akan semakin matang di Arsenal, sanggup melakoni debut timnas senior pada tahun ini, dan menjadi pemain inti di klub dan negaranya sekitar dua atau tiga tahun mendatang.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics