PROFIL: Thierry Henry, Sang Raja Telah Turun Takhta

Setelah 20 tahun berkarya menggapai puncak sepakbola, “King” Henry akhirnya memutuskan gantung sepatu.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Menjadi raja di tanah perantauan, namun bukan sosok yang dicintai di negerinya sendiri.
Itulah gambaran singkat karier Thierry Henry, salah satu pesepakbola terbaik di masanya. Selama dua dekade terakhir, dunia sepakbola wajib bersyukur karena pernah melihatnya beraksi. Suguhan gol-gol elegan, dribel berkecepatan tinggi, manuver yang memabukkan lawan, dan ketenangan kelas dunia menjadi ciri khasnya.
Semua yang pernah dilakukannya selalu sedap dikenang, kecuali keberadaan satu fakta bahwa Henry memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Prancis, tanah kelahirannya sendiri, meski ia berstatus sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Les Bleus.
Pada Selasa (26/12) kemarin, Henry memutuskan untuk gantung sepatu setelah mengakhiri kontrak dengan New York Red Bulls. Pensiun di usia 37 tahun, Henry tentu bersedih karena meninggalkan olahraga yang begitu ia cintai. Meski begitu, Henry mengaku tidak punya penyesalan dengan keputusannya ini. “Saya merasa damai,” tuturnya.
Momen dimulainya pembentukan sang legenda. Henry dan Wenger bereuni di Arsenal setelah keduanya sempat berkiprah di Monaco.
Mundur ke tahun 1994, Henry mengawali karier profesionalnya di AS Monaco. Di negeri monarki yang terletak di selatan Prancis itulah ia bertemu pertama kali dengan sang guru, Arsene Wenger. Wenger memberikan Henry debut pada akhir Agustus 1994, yang ironisnya kurang dari sebulan sebelum sang pelatih didepak Monaco.
Sejak saat itu, Henry berkembang pesat di Monaco dengan menyabet pemain muda terbaik Perancis 1996 dan 1997 sekaligus menginspirasi timnya itu merengkuh satu titel Ligue 1 Prancis dan Trophée des Champions. Performanya yang menanjak ini memungkinkan Henry hijrah ke Juventus pada Januari 1999. Sayang, ia hanya bertahan selama enam bulan karena kesulitan beradaptasi dengan sepakbola Italia.
Maka, takdir mempertemukan kembali Henry dan Wenger di Arsenal pada musim panas 1999. Sejak saat itu, keajaiban terjadi. Dari yang tadinya berposisi sebagai sayap tak kasat mata, Henry bertransformasi sempurna menjadi penyerang tengah yang begitu dominan bersama The Gunners. Ia membentuk duet menakutkan bersama Dennis Bergkamp yang selalu ia sebut sebagai partner terbaiknya.
Kecerdasan Bergkamp yang dikombinasikan dengan kecepatan dan efektivitas Henry di kotak penalti menjadi alasan utama Arsenal mampu menjadi pesaing utama Manchester United di masa pergantian milenium. Dua titel Liga Primer Inggris berhasil ia persembahkan, termasuk Invincible bersejarah di musim 2003/04. Total, 175 gol dan 74 assist di EPL menjadikannya sebagai pencetak gol ulung di tanah Inggris.
Ditanya soal rahasia ketajamannya, Henry menjelaskan, “Untuk menghindari berpikir berlebihan di depan gawang, saya selalu mengasah finishing saya. Lalu segalanya berjalan otomatis. Saya tidak perlu berpikir lagi. Saya tidak lahir dengan talenta mencetak gol, tapi saya berambisi untuk menjadi yang terbaik sebisa mungkin.”
Meski dianggap kurang bersinar di Spanyol, Henry mencium paling banyak trofi di level klub bersama Barcelona.
Kekalahan di final Liga Champions 2006 dari Barcelona menjadi penutup dari kisah manis Henry di Highbury dan Emirates. Setahun kemudian, ia lalu hijrah ke Spanyol dan bergabung dengan Barca. Namun, di Camp Nou ia sukar menimbulkan impak serupa di Arsenal. Filosofi tim yang kurang pas dengan karakter bermainnya ditambah kemunculan superstar Lionel Messi membuat Henry perlahan terlupakan.
Meski demikian, Henry tetap terhitung tajam di Spanyol dengan koleksi 49 gol di semua kompetisi dan bergelimang trofi. Pada 2010, di usianya yang sudah mencapai 33 tahun, ia memutuskan mengakhiri petualangannya di Eropa dan hijrah ke Amerika Serikat untuk menikmati karier senjanya bersama New York Red Bulls hingga pensiun pada Desember ini.
Satu-satunya noda dalam karier Henry adalah hubungan buruknya dengan Prancis meski ia turut berkontribusi membawa timnasnya mencapai kejayaan di Piala Dunia 1998 dan Euro 2000, serta menjadi runner-up Piala Dunia 2006.
Catatan 51 gol dari 123 caps -- yang menjadikannya sebagai topskor sepanjang masa Les Bleus -- tetap tak mengubah situasi. Kenyataannya, sulit bagi publik Prancis untuk mengelu-elukan Henry seperti dua pemain terhebat di Negeri Menara Eiffel itu: Zinedine Zidane dan Michel Platini. Apa pasal?
Diawali dari insiden handball yang ia lakukan dalam laga play-off Piala Dunia 2010 krusial melawan Republik Irlandia pada 2009 silam, ketidaksukaan publik Prancis semakin memuncak setelah Henry, yang berperan sebagai kapten di Piala Dunia 2010, gagal menunjukkan sikap kepemimpinannya. Ia bergeming begitu saja di markas Prancis di Knysna, Afrika Selatan. Padahal terjadi pemberontakan memalukan yang dilakukan rekan setimnya terhadap pelatih Raymond Domenech.
Sosok Henry tidak begitu populer di mata rakyat Prancis.
Dua hal itulah yang kiranya menjadi penyebab utama sosok Henry di Prancis tidak begitu semenarik di Inggris. “Bukan karena performanya di lapangan, tetapi di Prancis kami menganggap Henry sedikit arogan. Terdapat Henry Prancis dan Henry Inggris,” demikian penjelasan Maxime Dupuis, salah satu jurnalis ternama Prancis.
Sahabat kental Henry di Arsenal dan Prancis, Emmanuel Petit, juga mengakui sendiri situasi ini. Petit mengkritik perlakukan buruk publik Prancis terhadap Henry. “Dia [Henry] memang tidak dibenci, tetapi yang jelas ia tidak dicintai Prancis,” tutur Petit kepada Sports.fr.
Ya, status “King” Henry alias Raja Henry diperolehnya dari Inggris dan, tentu saja, dari para loyalis Arsenal yang tak pernah lelah memujanya bak dewa. Selebrasi khasnya, yang berlari menyusur tanah ke ujung lapangan, bahkan sudah terabadikan lewat sebuah patung perunggu di luar stadion Emirates yang diresmikan pada 2011 lalu.
Untungnya, meski sudah turun takhta, “King” Henry tidak akan jauh-jauh dari singgasananya. “Dengan senang hati, saya mengatakan bahwa saya akan kembali ke London,” ujar Henry yang setelah pensiun akan bergabung dengan Sky Sports sebagai pandit sepakbola di ibu kota Inggris itu.
Syahdan, apa masa depan selanjutnya yang terbentang bagi Henry? “Melatih Arsenal akan menjadi seperti impian yang terwujud," pungkasnya.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics