PROFIL: Yuichi Nishimura, Sang Penjaga Keadilan Sepakbola

FIFA kembali percaya pada wasit asal Asia untuk memimpin laga pembuka Piala Dunia. Pada Piala Dunia 2014 ini kesempatan itu jatuh pada wasit asal Jepang, Yuichi Nishimura.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Piala Dunia 2014 tinggal menghitung hari. Publik dunia jelas dibuat tak sabar dengan atmosfer dan pesona yang segera dihadirkan. Dan partai tuan rumah Barsil kontra Kroasia di Sao Paulo pada 13 Juni esok, jadi gong pembukanya.

Bagaimana perjalanan Piala Dunia kali ini setidaknya bakal sedikit terepresentasi dalam partai pembuka nanti. Mulai dari kesigapan panitia pertandingan dalam mengakomodasi segala keperluan, prosesi upacara pembukaan, hingga hal-hal lain yang bersifat teknis dalam jalannya permainan.

Dan ketika kita bicara soal hal-hal teknis dalam permainan, wasit dalam sebuah laga tentu jadi sorotan utamanya. Segala keputusan sang pengadil lapangangan, mampu membuat seisi stadion berubah sikap secara spontan. Karenanya kualitas kepemimpinan seorang wasit akan menetukan jalannya turnamen ini.

Untuk itu FIFA menunjuk wasit yang dinilai memiliki kualitas dan kompetensi mumpuni guna memimpin laga besar di partai pembuka esok. Menariknya sosok itu adalah seorang Asia, sebuah benua yang tak memiliki tradisi sepakbola brilian.

Ya, dialah Yuichi Nishimura, wasit asal Jepang yang resmi ditugaskan dalam duel pembuka Piala Dunia 2014. Penunjukannya menarik atensi besar, karena sebelumnya FIFA juga memilih sosok Asia dalam diri Ravshan Irmatov (Uzbekistan), dalam laga pembuka Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan lalu.

Yuichi Nishimura jadi wasit partai pembuka Piala Dunia 2014

Yuichi Nishimura lahir pada 17 April 1972, di kota ibu kota Jepang, Tokyo. Sejak kecil Nishimura memang memiliki kecintaan luar biasa pada dunia sepakbola. Seperti anak-anak Negeri Sakura pada umumnya, ia pun bercita-cita untuk jadi pesepakbola hebat layaknya sang idola, Kapten Tsubasa, ketika besar nanti.

Namun nasib berkata lain. Kemampuannya dalam mengolah bola sama sekali tak mumpuni, sehingga ia gagal dilirik klub profesional untuk direkrut sebagai pesepakbola. Meski begitu, Nishimura muda memiliki kemampuan lebih dalam hal taktikal.

Sebuah kelebihan yang membawanya jadi pelatih sepakbola di level Sekolah Menegah Atas (SMA) di Jepang. Di sinilah kisah indah yang membawanya jadi salah satu wasit terbaik Asia dimulai.

Pada salah satu pertandingan, tim SMA asuhannya secara kontorvesial kalah dengan hasil yang tidak adil. Nishimura mengklaim jika wasit dalam laga tersebut bertindak tidak adil, hingga menyebabkan timnya kalah.

Bagai mendapat ilham, Nishimura lantas memutuskan untuk mengikuti kursus resmi perwasitan sepakbola, untuk jadi wasit profesional. Tujuannya sederhana, yakni untuk menjaga impian anak-anak bermain dan menikmati sepakbola dalam keadilan.

Satu keputusan hidup yang bijaksana kemudian membawa namanya mendunia sebagai wasit pada level internasional. Lisensi FIFA ia dapatkan pada 2004 dan menjalani debut internasional-nya kala memimpin duel persahabatan antara Thailand dan Uni Emirat Arab, pada 13 Otober 2004.

Karier Nishimura melesat tajam pasca partai tersebut. Dua tahun berselang, ia memulai debut turnamen internasional-nya, dengan mewasiti partai Cina melawan Thailand, dalam Piala Asia Asia Junior 2006.

Terus menanjak dengan terpilih sebagai wasit Piala AFC 2006, Liga Champions Asia 2007, hingga Piala Asia 2007, nama Nishimura makin mentereng atas kesuksesannya memimpin partai final Piala AFC 2007.

Imbasnya FIFA menyertakan Nishimura sebagai salah satu salah satu dari 28 wasit, yang diberi kehormatan untuk memimpin jalannya Piala Dunia 2010.

Empat partai dilakoninya dalam pesta sepakbola sejagat yang digelar di Afrika Selatan kala itu. Tak hanya numpang lewat, karena sosoknya kemudian dikenang sebagai musuh utama masyarakat Brasil.

Ya, ialah wasit yang memberi kartu merah pada gelandang Seleccao, Felipe Melo, dalam kekalahan 2-1 Tim Samba dari Belanda, di babak perempat-final.

Sosok Nishimura makin dikenal pasca mengusir Felipe Melo di perempat-final Piala Dunia 2010

Meski hingga kini sosoknya masih jadi musuh warga Brasil, Nishimura kembali disertakan FIFA dalam pagelaran Piala Dunia 2014 yang digelar di negara tersebut.

Lebih spesial karena otoritas terbesar sepakbola di dunia itu memberi kepercayaan penuh padanya untuk memimpin partai pembuka turnamen, yang lagi-lagi dilakoni Brasil dan kali ini berhadapan melawan Kroasia.

Ketakutan boleh membayangi para pendukung Neymar cs terhadap Nishimura jika berkaca pada partai kontra Belanda empat tahun lalu. Namun sejatinya, pria berusia 42 tahun itu bukanlah sosok yang kontroversial.

Dari 91 pertandingan internasional yang sudah dipimpinnya, Nishimura tercatat hanya pernah 13 kali mengeluarkan kartu merah atau 0,14 per partainya! Ya, sebuah rasio yang amat minim untuk memberikannya predikat sebagai wasit kontroversial.

Satu hal yang juga patut dinanti para pecinta sepakbola terhadap Nishimura di partai pembuka nanti adalah senyumannya. Ya, pria Negeri Matahari itu dikenal murah senyum setiap kali bertugas. Tujuannya? Apa lagi jika bukan memberikan kesejukan bagi para pemain yang berlaga di tengah tensi dan emosi tinggi dalam partai pimpinannya.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics