PT GTS: Tak Boleh Memainkan Pemain Dengan Visa Yang Mati

Joko Driyono menyatakan bahwa pelanggaran tak bisa ditoleransi.

Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 telah merampungkan putaran pertama pada 29 Agustus lalu. Hanya saja, masih terdapat kelalaian terkait izin kerja para pemain asing yang memperkuat tim-tim kontestan.

Hal tersebut dirilis Save Our Soccer melalui survey mereka yang dilakukan hingga 30 Agustus. Dari data yang dirilis, terdapat 81 pemain dari mulai yang sudah dicoret hingga yang saat ini masih memperkuat tim di ISC.

Joko Driyono, direktur utama PT Gelora Trisula Semesta, angkat bicara mengenai hal tersebut. Ia memaparkan, bahwa pemain tanpa visa, dalam hal ini visa kerja, tentu tidak bisa bermain memperkuat klub mereka.

Pria asal Ngawi itu pun memastikan bahwa GTS tidak diam terkait hal tersebut. "Komplain memang selalu ada, dan ada yang kececer dan segala macam, tapi bukan berarti semua diam. Semua harus diselesaikan dengan regulasi yang ada," papar Joko.

"Iya, kita tidak boleh memainkan pemain dengan visa yang mati. Bahwa proses mendapatkan KITAS atau visa bekerja itu melalui proses dan itu bertingkat-tingkat, dari BOPI, ketenaga kerjaan, kemudian masuk ke ini dan itu. Ini akan menjadi tantangan kita ke depan," urai eks sekjend PSSI itu.

Masalah administrasi ini, dikatakan Joko, akan coba diselesaikan secara perlahan dengan aturan regulasi yang ada. Ia pun menjelaskan bahwa GTS secara perlahan membenahi kekurangan yang ada pada sepakbola Indonesia saat ini dari berbagai sisi.

"Pokoknya tidak ada tolerasni terhadap pelanggaran regulasi, tapi kita juga harus mengerti bahwa proses itu tidak hanya sehari jadi," pungkas.

Topics