Pusaran Uang Di Balik Gagasan Liga Super Eropa

Gagasan menyelenggarakan Liga Super Eropa tak melulu soal prestise dan prestasi, tetapi juga melibatkan nominal uang yang "wah".

OLEH   PETER STAUNTON     PENYUSUN   AGUNG HARSYA    

Baru-baru ini pejabat teras lima klub Liga Primer Inggris dan presiden Relevan Sports Charlie Stillitano bertemu di salah satu hotel mewah London dan membunyikan alarm sepakbola.

Liga Super Eropa menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Begitu pula yang ada di dalam benak para pengurus Manchester United, Manchster City, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool yang bertemu dengan perusahaan asal Amerika Serikat yang berambisi mempromosikan sepakbola Eropa di seberang Samudera Atlantik itu.

Beberapa pekan sebelumnya, presiden asosiasi klub Eropa (ECA) Karl-Heinz Rummenigge menggulirkan gagasan membentuk sebuah liga gabungan klub-klub Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Italia. Situasi kekosongan yang melanda posisi puncak otoritas sepakbola dunia memperbesar pengaruh ECA dalam melancarkan ancaman.

ECA adalah perwakilan kepentingan klub papan atas Eropa. Dalam Memorandum of Understanding (MOU) dengan UEFA, dua anggota ECA akan menduduki kursi Exco UEFA. Lupakan dulu kerja sama itu. Makin tidak stabil dan tidak jelas kondisi UEFA, makin baik bagi ECA. Keadaan ini memperbesar pengaruh ECA dalam mendiskusikan agenda siklus kompetisi antarklub Eropa berikutnya. Semuanya memang berkisar soal uang.

Dalam siklus kompetisi 2015 hingga 2018, jumlah pemasukan yang diterima klub peserta kompetisi antarklub Eropa meningkat pesat. Tak lantas merasa puas, Rummenigge melontarkan ancaman akan menarik mundur seluruh klub anggota ECA jika permintaan reformasi tidak diluluskan.

Perputaran uang nyang terjadi di Liga Champions saat ini berkisar pada angka €1,257 milyar. Klub peserta babak play-off menerima €50 juta, sedangkan €2 juta tambahan dikantungi jika memenanginya. Tim yang kalah mendapat €3 juta. Uang hadiah di fase grup dibagikan berdasarkan jumlah yang tetap dan market pool berdasarkan hak siar televisi.

Setiap peserta fase grup otomatis mendapatkan €12 juta. Satu poin yang didapat di fase grup bernilai €500 ribu. Tambahan €5,5 juta didapat jika lolos ke babak 16 besar. Masuk ke perempat-final, €6 juta. Setiap semi-finalis mengantungi €7 juta. Runner-up mendapatkan €10,5 juta, sedangkan tim juara mendapatkan €15 juta.

Artinya, tim juara berpotensi mengantungi uang hadiah €54,5 juta di luar pemasukan dari market pool. Juara musim lalu, Barcelona, misalnya, mendapatkan €24,6 juta dari market pool. Sebagai bonus, menjuarai Piala Super Eropa akan mempertebak kocek mereka sedalam €4 juta. Sementara, medali runner-up dinilai €3 juta. Bukan jumlah yang kecil.

Namun, jumlah pemasukan di pentas tertinggi sepakbola Eropa itu tidak ada artinya dibandingkan dengan Liga Primer Inggris. Berdasarkan sistem yang berlaku saat ini, Barcelona akan mengantungi €80 juta dengan menjuarai Liga Champions. Sementara, tim juru kunci Liga Primer musim depan akan mendapatkan €125 juta. Tim terbaik Eropa mendapatkan €80 juta, sedangkan pecundang di Liga Primer berhak untuk €125 juta. Tidak masuk akal.

Pemasukan besar Liga Primer didapat dari penjualan hak siar televisi terbaru yang disepakati senilai £5,1 milyar tahun lalu. Kontrak luar negeri akan menghasilkan tambahan sebesar £3 milyar. Kisaran itu lah yang dikejar klub peserta Liga Primer hanya dengan bertahan di kastanya. Daya belanja klub Inggris ini yang menjadi kekhawatiran utama klub-klub elit dan menjadi pembicaraan hangat.

Untuk menjaga klub-klub besar tetap senang, UEFA menyediakan dana hingga €498,2 juta pada anggaran market pool. Berdasarkan Laporan Keuangan 2014/15, pemasukan UEFA mencapai €2,1 milyar. Naik 21 persen dan menjadi rekor tersendiri yang terjadi bukan pada tahun penyelenggaraan Euro. Dari jumlah tersebut, pemasukan dari aspek hak siar mencapai €1,689 milyar.

Musim depan, juara Liga Primer akan menyabet €190 juta. Rummenigge dan ECA menginginkan agar lebih banyak klub peserta siklus kompetisi antarklub Eropa 2018 hingga 2021 yang mendapat uang sebesar itu dengan mengikuti Liga Champions. Jika tidak, mereka mengancam menarik kepesertaan.

Tapi bukan perkara mudah untuk menemukan solusi "breakaway" karena klub terbesar Liga Primer bakal meminta imbalan €250 juta per musim agar mau mengikuti rencana tersebut. Tentu saja Liga Super tanpa diikuti tim-tim Inggris tidak menarik bagi selera global.

Bukan cuma Inggris. Real Madrid dan Barcelona tidak dalam posisi perlu meninggalkan La Liga Spanyol. Mereka mengantungi €150 juta semusim berdasarkan hasil negosiasi ulang hak siar televisi yang disepakati musim dingin lalu.

Jadi, untuk membentuk sebuah kompetisi regional yang baru, masih ada hambatan berupa pangsa pasar kompetisi domestik bagi tim-tim Inggris dan duo Clasico Spanyol.





Sistem Liga Super yang mengistimewakan tim unggulan tertentu cenderung tidak disukai fans. Anggap saja 16 klub besar di kompetisi ini sudah mendapat jaminan partisipasi. Sisa kira-kira 64 tim lain harus memperebutkan tempat di antara para elite tersebut. 

Sistem tersebut akan mengganggu keseimbangan kompetitif dari liga domestik masing-masing. Kenapa Leicester City ingin berkompetisi jika tidak ada peluang bermain di Eropa? Bagaimana pula cara menarik minat televisi penyiar jika slot unggulan sudah ditentukan sebelumnya?

Pilihan lain adalah langsung menggelar babak gugur sebelum jeda musim dingin dan diikuti fase liga saat musim semi. Sebanyak 80 tim akan diperas menjadi hanya delapan tim yang mengikuti fase liga. Sistem unggulan akan diberlakukan untuk menjamin delapan tim tersebut adalah para papan atas.

Di luar dua pilihan itu, ada pula usulan tentang pemberlakuan wild card, yang diajukan perwakilan Barcelona dan AC Milan.

Turnamen International Challenge Cup, yang tahun lalu dimainkan di Amerika Serikat, Tiongkok, dan Australia, membuktikan format potensial yang bisa dikompromikan semua pihak. Kompetisi domestik dan Eropa tetap bergulir seperti biasa, plus klub-klub bisa mendapatkan pemasukan saat jeda musim.

Uang hadiah yang tersedia di turnamen eksebisi itu mencapai €789 ribu musim panas lalu. Permintaan untuk kenaikan uang partisipasi belum mendapatkan jawaban. Tidak buruk buat partai persahabatan sebelum musim dimulai, bukan? Namun, untuk jangka panjang ICC tak mau perhelatannya hanya dianggap sekadar laga persahabatan.

ICC diselenggarakan oleh RSE Ventures, yang dipimpin oleh Stephen M Ross, milyarder pemilik tim NFL Miami Dolphins. Perusahaan ini yang menjadi tempat Stillitano bekerja dan muncul pekan lalu untuk menggulirkan pembahasan. Pengembangan format turnamen dapat menjamin barisan tim terbaik Eropa untuk terus berpartisipasi. Imbalannya mungkin tidak mencapai €150 juta, tapi ini baru sebuah awal.



Sementara itu, pria yang mendatangkan AC Milan dan Real Madrid ke Uni Emirat Arab pada musim dingin 2014 untuk melakukan laga persahabatan adalah Rashid Al Maktoum, penguasa Dubai yang royal berinvestasi di dunia olahraga.

Selain Madrid dan Milan, Sheikh Mohammad mendanai Arsenal, Paris Saint-Germain, Benfica, Hamburg SV, dan Piala FA. Selain itu, Sheikh Mohammed adalah presiden perusahaan investasi Corporation of Dubai yang mengoperasikan maskapai Emirates, sponsor utama klub-klub besar Eropa.

Emirates membayar Arsenal €125 juta untuk kontrak 15 tahun pada 2007. PSG dilaporkan menerima €125 juta hingga 2019. Mulai 2013, Madrid menerima €30 juta per musim untuk kontrak berdurasi lima tahun. Milan menerima €60 juta selama empat musim dalam kontrak yang dimulai 2010. Benfica menyepakati kontrak rahasia musim panas lalu, tapi diperkirakan mencapai €30 juta hingga 2018.

Milan menangguk banyak keuntungan dengan sering mengunjungi Dubai sejak kontrak kerja sama mereka disepakati. Pada 2012, PSG beruji coba melawan Milan, sedangkan dalam tiga tahun terakhir Hamburg menggelar pemusatan latihan tengah musim. Apakah mungkin Emirates Cup digelar di UEA? Kenapa tidak?

Dubai baru saja menggelar Pakistan Super League, sebuah turnamen kriket Twenty20 yang diikuti lima tim franchise dan para pemain terbaik dunia. Setiap tim bertanding delapan kali dan hanya butuh tiga pekan untuk berkompetisi. Jika Sheikh Mohammed memutuskan untuk menempuh opsi Liga Super, bisa dibayangkan akan ada turnamen super serupa di saat jeda musim dingin atau selama musim panas tanpa Piala Dunia atau Euro.

Musim gugur nanti ancaman ECA bakal melunak dan UEFA akan mengabulkan dengan memberikan uang hadiah lebih besar. Tiga tahun kemudian, semua ancaman akan dimulai lagi.