Regresi Sejarah Dengan Beban Timnas Indonesia Di Piala AFF U-19

Timnas Indonesia U-19 tak bisa berbuat banyak di Piala AFF U-19 2016. Tentu ini amat berbeda dengan raihan tim Garuda Muda tiga tahun lalu.

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah atau disingkat dengan Jas Merah merupakan kata-kata yang diucapkan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Dr. Ir. H. Soekarno pada Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia di tahun 1966. Kalimat tersebut terus hidup hingga kini, dan selalu saja dipakai oleh sebagian besar orang agar tidak melupakan sejarah.

Hal inilah yang terkadang membuat orang terlena bersama nostalgia indah yang sempat terjadi, sehingga terbuai dengan sejarah itu. Kekhawatiran tersebut yang perlu segera dilupakan supaya tidak terjebak dalam bayangan masa lalu akan sesuatu yang pernah ada.

Sebab, sejarah merupakan hal yang sudah terjadi di masa lampau. Oleh karenanya, biarkanlah itu menjadi bagian yang pernah ada tanpa harus membandingkan dengan kejadian yang belum terjadi saat ini. Banyak faktor yang membuat sejarah tersebut tidak bisa terulang kembali.

Ada pepatah bijak yang menyatakan bahwa mengukir sejarah baik itu sulit, tetapi mengukir sejarah buruk tidak lebih mudah dari mengukir sejarah yang baik tersebut. Adanya pernyataan itu membuktikan kalau sejarah bukanlah sesuatu yang indah saja.

Bahkan, Winston Churchill yang merupakan salah satu pemimpin paling penting dalam sejarah dunia modern lebih ekstrem lagi menjelaskan tentang sejarah. Pria yang sempat menjadi Perdana Menteri Britania Raya sewaktu perang dunia kedua itu menyatakan kalau sejarah ditulis oleh para pemenang.

Tentu sebagai manusia normal berkeinginan membuat sejarah manis yang layak untuk dikenang. Ini karena, hal buruk atau kelam seperti mencoreng arang di muka sendiri, meski sama-sama bakal tetap diingat oleh semua orang sebagai sejarah yang pernah ada.

Adagium itu rasanya mesti dilupakan oleh timnas Indonesia U-19 yang berlaga di Piala AFF U-19 pada 11-24 September di Vietnam. Sebab, bila skuat asuhan Eduward Tjong ini masih terpatri dengan catatan fenomemal yang dicetak oleh timnas U-19 era Evan Dimas dan kawan-kawan, mereka akan kesulitan tampil lepas di ajang tersebut.

Ya, masih terekam jelas diingatan para pecinta sepakbola Tanah Air, tim Garuda Muda yang dilatih Indra Sjafri pada tiga tahun lalu berhasil menjadi juara di Piala AFF U-19. Raihan tersebut sebagai pelepas dahaga publik Indonesia yang sudah lama rindu akan gelar.

Bisa juara di ajang sepakbola terbesar untuk kelompok umur di kawasan Asia Tenggara tersebut tidaklah mudah. Timnas Indonesia U-19 mesti mangalahkan kontestan lainnya, dan memainkan pertandingan hingga adu penalti ketika melawan Vietnam pada partai puncak di Stadion Gelora Delta Sidoarjo yang berakhir dengan skor 7-6.

Tentunya prestasi tersebut bisa menjadi beban tersendiri bagi para pemain timnas Indonesia U-19 edisi sekarang. Pasalnya, raihan yang didapatkan mereka pada Piala AFF nanti, pasti akan dibandingkan dengan hasil yang sudah diukir oleh timnas U-19 pada 2013 lalu.

Terlebih bila melihat persiapan yang dilakukan Dimas Drajad cs untuk mengikuti Piala AFF U-19 2016, amat berbeda sekali dengan skuat arahan Indra Sjafri lalu. Banyak kendala yang terjadi selama timnas U-19 melangsungkan persiapan.

Mulai dari mepetnya waktu yang lebih kurang hanya dua bulan saja, pemain yang tidak dilepas oleh klub. Sampai sejumlah pilar timnas Indonesia U-19 yang terserang penyakit cacar beberapa pekan menjelang keberangkatan mereka ke Vietnam.

Sementara tim Garuda Muda generasi Evan Dimas disiapkan selama bertahun-tahun. Selain itu, Indra juga diberikan keleluasaan untuk melakukan blusukan ke daerah-daerah mencari pemain yang sesuai dengan strategi yang bakal diterapkannya.

Sehingga amat tidak relevan jika membanding-bandingkan kedua timnas tersebut. Sebab, sejumlah faktor yang sudah dijabarkan di atas membuktikan kalau adanya perbedaan yang signifikan antara timnas Indonesia sekarang dengan tiga tahun lalu.

Terbukti, sekelumit masalah yang dihadapi timnas Indonesia U-19 memengaruhi kesiapan mereka saat menjalani pertandingan pertama di Piala AFF 2016. Tim yang diarsiteki Eduward Tjong tersebut terpaksa menelan pil pahit setelah takluk 3-2 dari Myanmar di Vietnam Youth Training Centre, Hanoi, Senin (12/9).

Hasil negatif yang diraih timnas Indonesia U-19 di laga perdana tersebut bukan berarti akhir dari segalanya. Pasalnya, mereka masih dapat memetik pelajaran berharga untuk menyambut laga berikutnya agar dapat meraih hasil yang lebih baik.

Namun, bukannya belajar dari kegagalan di laga pertama lalu. Timnas Indonesia U-19 kembali gagal mempersembahkan kemenangan di partai keduanya. Mereka kalah dengan skor serupa dari Thailand di Vietnam Youth Training Centre, Hanoi, Rabu (14/9).

Padahal, di laga tersebut timnas Indonesia U-19 sempat unggul dua gol lebih dulu dari Thailand lewat titik putih. Sayangnya keunggulan tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara baik oleh tim Garuda Muda, hingga akhirnya mereka harus menelan kekalahan kedua.

Dua kekalahan tersebut menyebabkan kans timnas Indonesia U-19 untuk maju ke babak berikutnya di Piala AFF U-19 semakin berat. Mungkin hanya keajaiban yang bisa membuat mereka bisa lolos dari penyisihan grup. Meski secara matematis timnas Indonesia masih mempunyai kesempatan, asal dapat memenangi semua laga yang tersisa.

Meski begitu publik Tanah Air tidak boleh mengecilkan, ataupun mencemooh perjuangan yang sudah dilakukan skuat timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-19. Karena mereka telah berusaha untuk mengharumkan nama negara ini di kancah internasional.