Renato Sanches, Gelandang Gimbal Yang Hiperaktif

Gelandang gimbal ini baru melakoni debut tim utama Oktober lalu, tetapi ia sudah mengundang ketertarikan Man United dan Real Madrid. Apa hebatnya?

Dalam dua laga uji coba internasional, Portugal mengutus seorang pemain muda untuk melakoni debutnya. Ia turun sebagai pemain pengganti di babak kedua, baik dalam laga melawan Bulgaria maupun Belgia. Performanya mungkin tidak menonjol karena ia hanya bermain sebentar. Namun, siapa saja yang melihat pasti paham, gelandang muda berambut gimbal itu punya masa depan cerah.

Nama lengkapnya adalah Renato Júnior Luz Sanches, dikenal dengan Renato Sanches di Benfica. Usianya baru 18 tahun, tetapi sudah menjadi gelandang utama Benfica. Tak heran, beberapa klub besar dikabarkan tertarik padanya, termasuk Manchester United dan Real Madrid. Kedua raksasa itu bahkan sudah menyiapkan £60 juta untuk memboyongnya. Pantaskah ia menyandang banderol itu?

Jauh sebelum menjadi buruan dua klub terkaya Eropa, Sanches hanyalah bocah ingusan yang besar di Lisbon. Ia bermain bagi klub kecil Águias da Musgueira, tapi di usia sembilan tahun, Benfica merekrutnya. Ia berhasil menembus tim B dan melakoni debutnya pada 30 Oktober 2015 silam. Sebulan kemudian, Sanches mendapat kesempatan untuk turun sebagai starter melawan Astana di fase grup Liga Champions.

Berkat kesan menggoda dalam laga tersebut, pelatih Rui Vitoria kini rajin memainkan Sanches di lini tengah Benfica. “Renato benar-benar luar biasa. Penampilan pertama di Estadio da Luz bagi pemain muda adalah idaman semua orang. Ini adalah debut yang hebat. Sudah pasti ia takkan melupakannya,” ungkap Vitoria tentang Sanches setelah penampilan penuh pertamanya di kandang Benfica.

Si Gimbal yang Hiperaktif

Hal pertama yang menarik Vitoria untuk terus memainkan Sanches adalah determinasinya. Gelandang gimbal itu mampu berlari selama 90 menit penuh tanpa mengurangi intensitas. Ditambah dengan energi dan kekuatan fisik yang unggul, ia mampu mengambil peran di lini belakang, tengah, bahkan depan. Peran box-to-box yang diberikan Vitoria benar-benar pas dengan gaya hiperaktif Sanches.

Ketika bertahan, Sanches punya energi besar untuk melakukan pressing dan merebut bola. Tinggi badannya memang tidak mencapai 180 cm, tetapi ia punya determinasi untuk berduel dengan pemain yang lebih besar. Belum lagi, pergerakan tanpa bolanya selalu membuat lawan kerepotan dan gagal menemukan ruang.

Dalam konstruksi serangan, Sanches memiliki kebiasaan untuk menjemput bola dan melakukan umpan-umpan pendek mendatar. Gelandang ini cenderung main aman kalau soal operan. Ketenangan dan distribusinya cukup apik untuk mempertahankan penguasaan bola, tetapi ia jarang menghasilkan umpan pembunuh.

Di sisi lain, Sanches yang penuh energi ini selalu ikut serta meramaikan kotak penalti ketika dibutuhkan. Ia mencari peluang untuk mencetak gol bagi dirinya sendiri. Ketika memang semua ruang tertutup, gelandang gimbal ini takkan ragu untuk melepaskan sepakan kencang andalannya. Sudah lima gol ia ciptakan dari total 18 penampilan yang dicatatkan di Liga Portugal.

Kelebihan ini jelas mengundang decak kagum beberapa pihak dan Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid, mengaku kagum dengan sang gelandang. “Ia memiliki tembakan yang kuat dan visi yang bagus untuk seseorang yang bermain di tengah. Selalu senang menonton pemain muda berbakat,” ungkap Simeone sebelum menghadapi Benfica pada Desember lalu.

Baik saat bertahan atau menyerang, Sanches punya perang penting di Benfica. Stamina tak terbatas dan determinasi membuatnya disegani oleh Rui Vitoria. Namun tiada gading yang tak retak, gelandang keturunan Cape Verde juga masih menuai kritik dari penampilannya. Kelemahan yang perlu digarisbawahi dari Sanches ialah kedewasaan dan ketepatan pengambilan keputusan.

Sanches masih sering melakukan pelanggaran-pelanggaran tidak penting di tempat yang bisa membahayakan gawangnya sendiri. Karena terlalu banyak energi, ia kadang terlalu agresif dan ceroboh dalam melakukan tekel. Saat menyerang, Sanches juga terlalu sering memaksakan tembakan jarak jauh sehingga dalam beberapa kesempatan, peluang emas menguap begitu saja.

Ke Mana Harus Berlabuh?

Sebagai gelandang muda yang energik, tentu saja wajar kalau Sanches diburu. Gaya bermain yang ngotot dan bertenaga pun kiranya cocok ditempatkan di United maupun Madrid. Namun untuk mengikis kelemahannya, Sanches masih memerlukan menit bermain yang rutin di Benfica.

United dan Madrid bakal jadi destinasi yang menari ke depannya, tetapi yang dibutuhkan Sanches sekarang adalah pengalaman. Dengan bersabar sedikit di Benfica, gelandang rambut gimbal akan mendapatkan yang ia butuhkan. Dan bukan tidak mungkin, Sanches bakal menjadi pemain utama timnas Portugal sehingga peminatnya di Eropa bakal membeludak.