REVIEW: Performa Tottenham Hotspur Musim 2013/14

Topics

Hilangnya Bale ternyata tak mampu digantikan oleh pemain-pemain baru seharga €118 juta. Alhasil, Spurs menyajikan musim yang mengecewakan.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitterTotal sekitar €118 juta digelontorkan oleh Daniel Levy untuk berbelanja di awal musim 2013/14. Harapan para fan pun melambung tinggi, setidaknya mereka berharap hengkangnya Gareth Bale bisa terobati. Nama-nama bintang seperti Christian Eriksen, Erik Lamela, dan Roberto Soldado diprediksi bisa menutup lubang yang ditinggalkan oleh Bale.Sayang, fakta berbicara sebaliknya. Hilangnya Gareth Bale seumpama kehilangan taring bagi Tottenham Hotspur. Mereka kehilangan daya gedor yang utama, sementara pemain-pemain baru masih butuh waktu untuk beradaptasi.Memang, awal musim mereka terasa indah karena kemenangan demi kemenangan mereka kantongi di bawah besutan Andre Villas-Boas. Namun, perlahan kelemahan mereka mulai terkuak. Puncaknya adalah kekalahan 6-0 dari Manchester City dan kurang dari sebulan kemudian, mereka kalah 5-0 dari Liverpool di White Hart Lane, berakibat pada hengkangnya Villas-Boas.Pindah tangan ke Tim Sherwood, Tottenham sempat membaik, namun kiranya sudah terlambat karena empat besar sudah terlalu jauh. Finis keenam pun jadi yang paling realistis bagi mereka.

Mengecewakan. Mungkin satu kata tersebut cukup untuk merangkum keseluruhan musim yang dijalani Tottenham Hotspur. Bagaimana tidak, €118 juta telah digelontorkan dan mereka hanya menghasilkan tiket ke Liga Europa. Padahal Manchester City dengan dana sekitar €116 juta mampu menjadi kampiun Liga Primer.

Di laga-laga awal musim, sebenarnya mereka sudah merasakan hilangnya seorang Gareth Bale. Mereka memang meraih kemenangan, tapi hanya lewat kemenangan tipis, bahkan Roberto Soldado yang mencetak gol pun kerap kali melakukannya lewat titik putih. Dengan kata lain, produktivitas mereka ikut hengkang bersama Gareth Bale.Kepemimpinan Villas-Boas juga terbukti tak mampu mengatasi krisis ini. Sang eks manajer tak mampu menyatukan pemain-pemain anyar dari berbagai liga yang baru saja didatangkan. Nama-nama bintang seperti Erik Lamela yang dibanderol €30 juta pun terasa mubazir. Villas Boas masih terlalu bergantung pada Bale.Kekalahan besar dari klub-klub empat besar menjadi salah satu faktor lain yang membuat mereka kehilangan spot ke Liga Champions. Kalah 6-0 dan 5-1 dari Manchester City, ditambah 4-0 dari Chelsea, serta kalah 5-0 dan 4-0 dari Liverpool membuat mereka tak mampu bersaing di papan atas. Delegasi kekuasaan ke tangan Tim Sherwood tak bisa memberikan dampak besar, walau ia mencatatkan kemenangan 59% di Liga Primer, lebih besar dari manajer-manajer sebelumnya. Sang manajer dengan terpaksa harus hengkang juga di akhir musim.Ya, ini adalah musim yang mengecewakan bagi Tottenham, terlebih karena besarnya uang transfer yang mereka gelontorkan.

Datang dari Ajax dengan nilai transfer €12 juta, Eriksen menjadi pembelian paling efektif dari Tottenham Hotspur. Dalam 25 laga yang ia lakoni, mampu mencatatkan tujuh gol dan delapan assist. Sebuah pencapaian yang hebat bagi orang baru di White Hart Lante tentunya, walau masih kalah dibandingkan pemain kunci di klub-klub empat besar.Kontribusinya di lapangan tengah pun tak main-main. Ia ikut serta menciptakan 68 umpan kunci. Eriksen juga jadi produsen umpan yang cukup moncer dengan akurasi umpan 81,9%.Gelandang Denmark ini jadi sumber kreativitas Spurs saat mereka menghadapi jalan buntu. Pergerakan, akurasi, dan teknik yang ia miliki ada di atas rata-rata walau usianya baru 22 tahun.Sejak Villas-Boas hingga Sherwood, Eriksen selalu jadi andalan untuk membongkar pertahanan lawan, sekaligus mendominasi lini tengah dengan visi yang ia miliki. Sumbangsih besar ini kiranya pantas diberikan untuk sang gelandang.

Kemenangan atas Manchester United di Old Trafford kiranya menjadi satu momen yang penting sekaligus indah bagi Tottenham Hotspur. Tiga poin yang mereka raih jadi peran penting bagi mereka, setidaknya untuk mengamankan tiket ke Liga Europa.Emmanuel Adebayor membuka keran gol setelah menanduk umpan silang dari Christian Eriksen. Kemudian, sang arsitek gol pertama mencetak gol dengan tandukannya dan membawa Spurs unggul dua gol. Danny Welbeck mampu memperkecil ketinggalan dua gol mereka, tapi tetap gagal mengantongi satu poin.Tak hanya itu, dalam laga yang (seharusnya) menjadi big match ini, Spurs menunjukkan permainan yang efektif. Nyaris tak banyak kesalahan yang mereka lakukan. Konsentrasi pun tetap terjaga sembari mereka menciptakan peluang demi peluang. Setidaknya, Tottenham tau, laga mana yang bisa mereka tonton saat mereka bingung mencari patokan performa.

Banyak PR yang harus dikerjakan oleh Spurs, baik oleh pelatih, petinggi, maupun para pemainnya. Pembelian besar-besaran yang tidak efektif tentu perlu dihindari, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Sebagaimana telah diketahui, Spurs mendatangkan banyak pemain mahal, tapi hanya Paulinho dan Eriksen yang kontribusinya paling nyata. Pemain sekelas Erik Lamela pun kesulitan adaptasi.Manajer yang menggantikan Sherwood harus menemukan formula tepat untuk skuat Spurs. Banyak pemain bintang, tapi minim produktivitas. Koneksi antar pemain pun kurang terjalin dengan baik, sebagaimana dalam laga-laga besar sempat terjadi blunder yang bermula dari salah oper.Konsentrasi lini belakang juga perlu dibenahi. Jan Vertonghen tentu bukan bek kelas bawah yang rawan blunder. Namun, musim ini ia beberapa kali melakukan blunder, termasuk dalam laga besar kontra Chelsea. Fokus perlu dijaga agar serangan balik lawan tak mampu menjebol dengan mudah.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics