ROAD TO LISABON: Kejutan Demi Kejutan Dari Si Kuda Hitam, Atletico Madrid

Tak terkalahkan di Liga Champions musim ini, Atletico hadir sebagai kuda hitam yang tak mau berhenti memberikan kejutan.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Kejutan! Ya, Atletico Madrid hadir sebagai tim penuh kejutan di Liga Champions 2013/14. Tampil sebagai satu-satunya klub yang tak terkalahkan di turnamen ini, Atletico akan menantang rival sekotanya, Real Madrid, di Lisabon, Minggu (25/5) dini hari WIB.Tentu tak banyak orang yang meramalkan kesuksesan Atleti musim ini. Perjalanan Rojiblancos hingga final pun, pada kenyataannya terbilang lancar untuk tim 'sekaliber' mereka. Di luar prediksi, mengejutkan, bahkan ada yang menyebutnya beruntung. Namun, perjuangan mereka musim ini sekaligus menyajikan romantisisme sepakbola yang kiranya sudah lama absen.Laskar Diego Simeone keluar sebagai juara Grup G tanpa kalah. Mengantongi 16 poin, mereka sukses mengalahkan Zenit St Petersburg, Austria Wien, dan Porto. Catatan mereka batal sempurna hanya karena ditahan imbang 1-1 oleh Zenit di Petrovsky Stadium.Masuk ke babak gugur, mereka dijodohkan dengan AC Milan yang tengah pincang. Atleti mampu lolos tanpa hambatan, dua kemenangan di dua leg. Perjalanan pun berlanjut, giliran Barcelona yang menghadang, namun lagi-lagi mereka lolos secara mengejutkan. Di semi-final, Chelsea jadi korban selanjutnya dari kejutan mereka.Berikut perjalanan Atletico Madrid ke final Liga Champions 2013/14:

Undian Grup G sepertinya sedikit berpihak pada Atletico Madrid. Di atas kertas, Atletico mungkin jadi unggulan saat harus beradu dengan FC Porto, Zenit, dan Austria Wien. Benar saja, Atleti mampu merajai Grup G tanpa menelan satu pun kekalahan.Mereka membuka Grup G dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Zenit. Lalu, langkah mereka berlanjut dengan kemenangan tandang 2-1 atas Porto. Siapa sangka, dua pertandingan kontra Austria Wien selanjutnya jadi pesta gol bagi Atleti, yang menang dengan skor 3-0 (tandang) dan 4-0 (kandang).Rentetan kemenangan mereka baru terhenti di pertandingan kelima. Di Petrovsky Stadium, Zenit sukses menahan imbang 1-1 klub ibukota Spanyol ini. Adapun, gol Adrian dalam laga ini disamakan oleh Alderweireld yang melakukan gol bunuh diri.Laga pamungkas grup ditutup dengan manis oleh Diego Costa dkk. Mereka menang 2-0 di Vicente Calderon saat melawan Porto dan keluar sebagai raja Grup G. Predikat kuda hitam pun otomatis melekat di punggung mereka.

Lolos sebagai juara Grup G tidak menjadi jaminan sukses bagi Rojiblancos. Milan pun hadir sebagai pengganjal mereka selanjutnya. Kendati begitu, performa Milan musim ini tidaklah impresif, sehingga Atletico tak kesulitan saat harus menyingkirkan mereka.Di leg pertama, Atletico harus menghadapi permainan terbuka Milan. Bukannya terkejut, Atleti malah mampu memegang kendali pertandingan di San Siro tersebut. Diego Costa dkk akhirnya keluar sebagai pemenang setelah sang penyerang mencetak gol semata wayang di menit 83.Rossoneri malah bisa memberikan sedikit perlawanan di leg kedua. Memang, Atleti mampu mencetak gol lebih dulu lewat aksi Diego Costa. Namun, Kaka hadir memberikan harapan saat ia mencetak gol penyama kedudukan. Alur pertandingan pun jadi milik Milan untuk waktu singkat. Ya, singkat saja karena Atleti mampu membalasnya dengan tiga gol susulan.Kemenangan besar ini sekaligus jadi bekal Atletico, lolos dengan agregat 5-1 melawan klub yang pernah juara Liga Champions tujuh kali.

Atletico menghadapi lawan yang sangat berat di perempat-final: Barcelona. Bisa dibilang, ini merupakan lawan yang tak ingin dihadapi pasukan Diego Simeone di perempat-final karena kedua klub sudah lama kenal, tak ada rahasia, dan pamor Barcelona masih ada di papan atas saat ini.Leg pertama digelar di Camp Nou. Stadion klub Catalan tersebut sontak jadi saksi ketatnya pertandingan antara kedua klub. Barcelona memainkan sepakbola indah dan pengusaan bolanya, sementara Atletico bertahan dengan disiplin, sembari mencuri-curi kesempatan untuk menyerang balik.Suporter tim tamu tentu langsung bersorak saat Diego Ribas mencetak gol spektakulernya. Baru masuk menggantikan Costa, ia langsung beraksi dan membawa Atletico unggul di menit 56. Namun, giliran tuan rumah yang bersorak saat Neymar mencetak gol penyama kedudukan lewat kerjasama ciamik khas Blaugrana.Di leg kedua, drama yang sama nyaris terulang. Barcelona asuhan Tata Martino coba menyerang sejak awal, tak peduli walau mereka sedang bertamu di Vicente Calderon. Kendati begitu, mereka malah kecolongan lewat gol cepat dari Koke. Gelandang muda berbakat itu mencetak gol saat laga baru berjalan lima menit.Barcelona kembali memainkan tiki-taka, tapi Atletico yang bersinar malam itu, seiring tiga sepakan mereka membentur mistar. Permainan efektif disajikan dan Barcelona dipaksa angkat koper dari pagelaran akbar benua Eropa musim ini.

Usai menyingkirkan Milan dan Barcelona, Atletico dihadapkan dengan klub dengan tipe mirip, yakni Chelsea. Saat itu, kedua klub memegang predikat pertahanan terbaik di masing-masing Liga. Permainannya juga mirip, bertahan dengan disiplin sembari mencari kesempatan untuk serangan balik dan mencetak gol. Tak heran, kedua klub dipimpin oleh arsitek handal dengan pola pikir nyaris serupa, Simeone dan Jose Mourinho.Pertandingan antar sepakbola negatif jadi bahan pergunjingan. Benar saja, leg pertama terasa seperti perang urat syaraf. Kedua pelatih dipaksa untuk putar otak sepanjang laga, saling meredam serangan satu sama lain. Di Vicente Calderon kala itu, Atletico-lah yang dipaksa untuk menyerang oleh Chelsea, sebab Mourinho menerapkan strategi parkir bus-nya yang brilian. Tak terbiasa untuk menguasai bola, Atletico jarang menghasilkan peluang emas.Membosankan, minim peluang, dan tidak impresif, namun di balik kejemuan laga leg pertama itu, ada dua orang cerdas yang bermain. Hasil imbang tanpa gol menutup leg pertama di Madrid, tapi Chelsea harus membayar mahal karena Petr Cech dan John Terry mengalami cedera.Di Stamford Bridge, Chelsea unggul lebih dulu lewat aksi Fernando Torres. El Nino secara bijak tidak melakukan selebrasi atas gol ke gawang mantan klubnya. Chelsea berada di atas angin, mereka langsung parkir bus setelah unggul satu gol.Malang bagi Chelsea, Atletico mampu menyamakan kedudukan tepat sebelum jeda, waktu yang tepat bagi tim tamu. Chelsea pun kehilangan tempo permainan mereka dan aliran laga ganti berpihak kepada Rojiblancos. Masuk babak kedua, mereka sukses mencetak gol lewat penalti Diego Costa, disusul gol tandukan Arda Turan. Atletico keluar sebagai pemenang dengan agregat 3-1.Pasukan Diego Simeone langsung saja mengamankan tiket ke final, walau masih banyak yang meragukan performa mereka hingga saat ini. Apapun itu, romantisisme Atletico berlanjut dan Lisabon akan menjadi saksi.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics