Saat Ruang Ganti Semen Padang Sunyi Senyap Usai Laga Final

Kekalahan di partai final PJS membuat para pemain tim Kabau Sirah terpukul.

Kekalahan menyakitkan pada laga final Piala Jenderal Sudirman di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (24/1) malam, memang membuat kubu Semen Padang cukup terpukul. Walau terlihat cukup tegar saat penyerahan medali, namun ruang ganti Semen Padang sempat sunyi senyap beberapa saat. 

Selain Yu Hyun-koo, kiper Jandia Eka Putra pun juga nampak terpukul dengan kekalahan timnya. Kiper yang tampil cemerlang sepanjang turnamen itu, nampak menyendiri di pojok ruang ganti. Begitu juga pemain-pemain lain yang diam seribu bahasa, atau tenggelam dengan gadget masing-masing. 

Tim pelatih dan jajaran manajemen pun juga kehabisan kata-kata, baik itu CEO Daconi, manajer tim Suranto, dan jajaran manajemen lainnya. Suasana mulai mencair ketika Pejabat Gubernur Sumatera Barat, Roydonnyzar Moenek masuk ke ruang ganti dan memberi wejangan kepada Hengki Ardiles dan kawan-kawan.  

"Ini bukan akhir segalanya, Semen Padang tetap kebanggaan Sumbar. Dan hari ini ribuan penonton membuktikan cintanya. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Sumbar hanya untuk mendukung tim ke Jakarta," ujar orang nomor satu Sumbar itu. 

Sementara itu, Senin (25/1) siang, tim Kabau Sirah langsung pulang ke Padang. Rombongan pun terpecah, karena pemain yang berasal dari luar Sumbar memilih pulang ke tempat masing-masing. 

Pelatih Nilmaizar juga memutuskan pulang ke Bandung bersama keluarganya yang memang sekarang menetap di Bandung. "Belum rezeki kita juara, bagaimana lagi. Sekarang saya pulang dulu ke Bandung, kumpul dengan keluarga," ucapnya. 

Nil juga belum bersedia berbicara tentang rencana tim ke depan, setelah PJS ini. Nil menyerahkan sepenuhnya kebijakan kepada manajemen tim. 

Di lain pihak, para suporter Semen Padang juga cukup berbesar hati, walau tim kesayangan mereka kalah di partai puncak. Bersatunya para pendukung, warga Sumbar yang datang berduyun-duyun ke SUGBK memberi dukungan terasa lebih membanggakan.  

"Saya tak begitu peduli hasil akhir final ini, karena tim ini telah membangkitkan rasa cinta publik melalui bahasa sepakbola. Melihat mereka berjuang dan berusaha memberikan hasil maksimal, kami sangat menaruh hormat, walau gelar juara belum di dapat," ujar Ferdi Ferdian, pentolan Spartacks dari Bandung.(gk-33)

Topics