Saatnya Diego Simeone Tunjukkan Keniscayaan Dalam Sepakbola

Diego Simeone kembali mendapati kesempatan terbaik untuk tunjukkan keniscayaan dalam sepakbola pada dunia.

Dalam sepekabola ada dua hal yang mutlak, yakni menang dan kalah. Justifikasinya didasarkan pada nilia-nilai kuantitatif. Siapa mampu mencetak gol lebih banyak dari lawannya dalam sebuah laga, merekalah yang layak disebut sebagai pemenang. Tak peduli bagaimana caranya, selama itu masih dalam lingkup legalitas yang sudah disepakati.

Terkecuali penghargan individual, sepakbola tak perlu nilai-nilai kualitatif untuk menentukan hasil. Sepakbola tak bisa disamakan dengan renang indah, yang penilaiannya menyertakan begitu banyak aspek. Sepakbola tak bisa disamakan dengan tinju, yang pemenangnya bisa ditentukan lewat perolehan poin jika tak ada pihak yang KO. Sepakbola juga tak bisa disamakan dengan permainan catur, di mana akan ada kesepakatan bila pemainan tampak berakhir remis.

Tapi belakangan para moralis sepakbola indah kembali booming, dengan lagi-lagi membawa nilai-nilai kualitatif untuk menyinggung sendi mutlak olahraga terpopuler di dunia ini. Bagi mereka, tim yang bermain ofensif selalu lebih layak menang ketimbang tim yang mengusung sepakbola defensif.

Ketika hasil akhir mengatakan sebaliknya, secara ‘kurang ajar’ para moralis lantas menyebut tim yang bermain defensif itu jelek, hanya beruntung, hingga yang paling menyakitkan dianggap bermain curang. Mereka seakan lupa bahwa apa yang diperjuangkan oleh tim-tim pragmatis ini sama sekali tak mencederai legalitas sepakbola.

Tim yang bermain defensif kerap disebut jelek, hanya beruntung, dan curang

Celakanya, seiring sepakbola berkembang menjadi salah satu industri terbesar di dunia, semakin banyak khalayak sepakbola yang mengukuhkan diri sebagai moralis sepakbola indah. Menjadi juara dengan permainan yang menyerang nan indah, adalah kesempurnaan.

Hal itu pun dibuktikan dengan dominasi tim-tim adidaya seperti Barcelona, Real Madrid, serta Bayern Munich di kancah domestik dan Eropa.

Deretan klub konglomerat macam Paris Saint-Germain dan Manchester City pun berlomba-lomba menirunya, dengan memborong pemain mahal yang bisa mendukung cara menang dengan indah.

Untungnya sebelum para moralis makin memonopoli sepakbola hingga hadirkan kemonotonan, muncul sosok yang menegaskan bahwa kuantitas merupakan hal yang mutlak dalam sepakbola. Dan orang itu adalah pelatih kepala Atletico Madrid, Diego Simeone.

Simeone tidak munafik, selayaknya jutaan pecinta sepakbola, dirinya sejatinya juga mendambakan sepakbola indah. Ia pernah mengaku selalu ingin menggabungkan kuantitas dan kualitas, untuk membawa timnya jadi yang terbaik.

Namun Simeone sadar tak semua tim bisa melakukan dua hal itu sekaligus. Terlebih di Atletico yang tak punya kekuatan finansial kuat, mustahil baginya mewujudkan hal tersebut. Ia pun kembali pada keniscayaan dalam sepakbola, yakni kuantitas atau hasil akhir.

Simeone tunjukkan bahwa hasil akhir adalah hal yang mutlak di sepakbola

Dengan sumber daya seadanya segala cara pun Simeone lakukan, termasuk menerapkan taktik sepakbola defensif yang pragmatis dan keras pada Los Rojiblancos, hingga membuat para moralis murka. Namun ia tak peduli karena segalanya masih dalam koridor legal dan hasil akhir adalah satu-satunya syarat yang jadi penilaian.

Melalui cara tak populer tersebut, perlahan namun pasti, Atletico yang tadinya merupakan klub medioker dibentuknya menjadi salah satu tim paling kuat di Eropa saat ini. Sejak tiba pada akhir 2011, Simeone telah sukses menyumbangkan lima gelar bergengsi baik di kancah domestik maupun Eropa.

Sayangnya apa yang dilakukan pelatih berjuluk El Cholo itu belum sampai di titik tertinggi. Simeone belum mampu mempersembahkan gelar paling bergengsi seantero klub Eropa, yakni Liga Champions. Ia pernah nyaris melakukannya pada 2014 lalu, tapi urung diwujudkan.

Kini kesempatan kedua hadir. Simeone yang semakin matang kembali membawa Atletico ke final liga Champions, melalui perjalanan hebat dengan menumbangkan deretan tim jagoan para moralis sepakbola.

Karenanya dengan apa yang sudah dilakukannya sejauh ini, tak ada momen yang lebih baik dari sekarang untuk Simeone menegaskan pada dunia bahwa dalam sepakbola hasil adalah keniscayaan, bahwa hanya sang juara yang akan dikenang.