Secercah Harapan AC Milan Pada Talenta Muda Mario Palasic

Usianya masih sangat belia, 21, tapi ia membuat loyalis Milan kembali bergairah menatap masa depan.

Anggaran belanja yang pas-pasan memaksa allenatore Vincenzo Montella putar otak untuk mendatangkan pemain baru di bursa transfer. Yang bikin deg-degan, di tengah minimnya pagu, sang arsitek anyar dituntut memberikan prestasi buat AC Milan. 

I Rossoneri memang butuh perombakan besar-besaran menyusul tren negatif dalam beberapa tahun terakhir. Sejak menyabet Scudetto pada 2011, grafik Setan Merah terus merosot bahkan mereka terlempar dari sepakbola Eropa. Belum lagi soal hengkangnya sejumlah bintang termasuk Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva yang bikin fans murka, dan lebih dari itu membuat Milan kian merana. 

Ibarat sebuah keluarga yang sedang berantakan, Milan kini mencoba menyusun kembali puing-puing yang telah hancur demi menatap periode emas yang sudah cukup lama ditinggalkan. 

Seiring dengan penjualan klub dari Fininvest, perusahaan milik Silvio Berlusconi, ke konsorsium Tiongkok, I Rossoneri mendatangkan sejumlah pemain anyar, yang boleh dibilang jauh dari status bintang. Selain Giankuca Lapadula yang direkrut dengan banderol tertinggi, €9 juta, ada Mario Pasalic - pinjaman dari Chelsea - yang paling mencuri perhatian. 

Pasalic, lahir di Mainz pada 9 Februari 1995, adalah gelandang modern yang bisa bermain dengan beberapa peran berbeda. Talentanya sudah tampak saat ia memulai kariernya dengan Hadjuk Split sejak level junior. Di musim debut bersama tim senior, ia mencatat dua penampilan dan menyabet Piala Kroasia. 

Pada musim berikutnya nama Pasalic makin tenar. Melahap 36 pertandingan dan mencetak 11 gol dalam prosesnya membuat Pasalic jadi perhatian para pencari bakat klub-klub papan atas Eropa, hingga akhirnya mendarat di Chelsea pada 2014. Tapi demi mendapat kesempatan tampil reguler, pemain dengan tinggi 186 cm ini dipinjamkan ke Elche dan AS Monaco dua musim beruntun. 

“Adalah hal besar di usia 20 bermain di La Liga dan kemudian di Ligue 1, dua dari lima liga top Eropa. Itu membantu pemain muda mana pun untuk berkembang di dunia sepakbola,” kata Pasalic kepada laman resmi the Blues, Maret tahun ini. 

Bagi Milan, kehadiran Pasalic membuat Montella lebih leluasa dalam memilih pemain di lini tengah. Di usia yang masih belia, tentu banyak hal yang perlu ditingkatkan Pasalic, namun melihat skill-nya sejauh ini, ia bisa diandalkan coach Montella. Pengalaman Pasalic di dua klub sebelumnya menjadi bukti kemampuan pemain yang akan memakai nomor punggung 80 ini. 

“Di Elche saya lebih defensif, sementara di Monaco saya bermain lebih ke depan. Sebagai gelandang saya punya banyak ruang untuk bekerja. Saya tipe pemain box-to-box, jadi saya tahu harus membantu pertahanan, tapi juga jika kami menyerang saya harus berada di area untuk mencetak gol atau menendang dari luar kotak penalti,,” ucap Pasalic.

Pasalic memang belum melakoni pertandingan bersama Setan Merah, karena ia tiba sebelum kompetisi libur internasional menyusul laga uji coba dan kualifikasi Piala Dunia. Toh, Montella punya keyakinan terhadap pemain yang mengidolakan kompatriotnya, Zvonimir Boban ini. 

“Ia pemain berkualitas, dengan mental yang sangat ofensif. Selama bertahun-tahun ia diyakini bakal menjadi bakat masa depan,” kata Montella, saat menanti kedatangan Pasalic di San Siro. 

“Pasalic bisa menjadi pemain besar. Kita akan lihat posisi apa yang dapat ia lakukan bersama kami.” 

Sementara itu, Pasalic sendiri menyatakan kesiapannya memberikan kontribusi maksimal untuk I Diavolo Rosso. “Karakteristik saya sebagai pemain? Saya pemain nomor 8. Jadi suka main di setiap posisi di lapangan, jadi saya akan main di mana pun pelatih menginginkannya.” 

Pasalic berpeluang melakoni debut setelah international break, ketika Milan menjamu Udinese di San Siro pada 11 September. Menarik disimak apakah Pasalic bakal unjuk kemampuan terbaiknya andai diberi kesempatan tampil oleh Montella. Tapi bolehlah loyalis Milan menaruh harapan kepada talenta muda Kroasia ini untuk turut membantu membawa kembali I Rossoneri ke era keemasan. 

Topics