Sejarah Hari Ini (19 Agustus): Class Of '92 - Sebuah Awal

Awal kemunculan generasi muda Manchester United seperti David Beckham, Ryan Giggs dan Paul Scholes sempat mendapat cibiran sebelum mereka berkembang jadi tulang punggung kesuksesan tim.

Manchester United merupakan klub yang terkenal akan kepopuleran mereka dengan mengorbitkan sejumlah pemain hebat dari akademi sepakbola mereka sendiri. Namun bisa jadi, yang terhebat di antaranya adalah ‘Class of '92′.

Julukan 'Class of '92' sendiri merujuk pada sekumpulan pemain muda berbakat spesial lulusan akademi Red Devils, yang sempat meraih gelar juara FA Youth Cup di saat usia rata-rata mereka masih menginjak 18 tahun.

Karema kesuksesan mereka di level usia muda, sejumlah nama direkomendasikan oleh manajer saat itu, Sir Alex Ferguson untuk menjadi pemain inti United di level senior kendati masih belia. Sejumlah nama yang dipromosikan ke tim utama, antara lain David Beckham, Gary Neville, Phillip Neville, Ryan Giggs, Paul Scholes dan Nicky Butt, kelompok ini sering juga disebut dengan julukan Fergie Babes.

Ferguson sadar bahwa potensi sekelompok pemain mudanya tersebut adalah aset yang sangat berharga dan bakal menjadi senjata utama timnya. Awal musim Liga Primer Inggris 1994/95, manajer asal Skotlandia itu menilai pasukan mudanya sudah mulai matang dan berkembang dan di tengah krisis tim utama usai Eric Cantona dihukum delapan bulan karena menendang suporter dan Mark Hughes kerap dilanda cedera, Fergie mulai berani memanfaatkan jasa mereka.

Keputusan yang dibuat Fergie pada waktu itu rupanya datang pada waktu yang tepat. Memang pada musim tersebut, United gagal untuk mempertahankan gelar Liga Primer mereka, namun tidak untuk musim berikutnya. Sebelum memulai kampanye musim 1995/96, Fergie menjual berbagai pemain senior seperti Paul Ince, Mark Hughes, dan Andrei Kanchelskis dan alih-alih mendatangkan pengganti sepadan, ia justru menaruh kepercayaan lebih kepada penggawa mudanya, yang kala itu masih rata-rata berusia 20 tahun.

Seakan tak berjalan mulus, tindakan Fergie tersebut menuai banyak kritikan. Terlebih di awal musim itu, United langsung menelan kekalahan 3-1 dari Aston Villa yang kemudian lantas mendapat sorotan tajam dari Alan Hansen, mantan pemain Liverpool sekaligus pandit untuk BBC. "Anda tidak akan memenangkan apa-apa di musim 1995/95 jika hanya sebatas mengandalkan sekelompok anak-anak," demikian sindiran Hansen yang ditujukan kepada performa awal pasukan muda Fergie, selepas laga yang berlangsung pada 19 Agustus 1995 itu.

Namun Fergie tetap bersikeras bahwa ia paham akan keputusan yang telah diambilnya. "Sudah sangat jelas, bakat-bakat para pemain anggota Class of ’92 sangat luar biasa. Mereka sudah menunjukkan kemampuannya di kompetisi junior. Teknik dan gaya permainannya sangat spesial," tutur sang manajer menanggapi kritikan Hansen. Keyakinan Fergie pun terbayar lunas ketika United sukses menjawab keraguan publik dengan meraih gelar ganda di akhir musim tersebut, merengkuh Liga Primer dan Piala FA.

Nyaris semua penggawa 'Class of ’92' memberikan kontribusi mereka pada keberhasilan periode tersebut. Gary dan Phil Neville menjelma sebagai bek sayap berkualitas, Paul Scholes menjadi gelandang serang yang sangat aktif dan produktif, demikian pula dengan Nicky Butt yang terkenal akan kreativitasnya. David Beckham dan Ryan Giggs menjadi dua sayap paling sukses di ranah Britania Raya dengan keunggulan teknik individu berupa tendangan bebas dan kecepatan yang dimiliki kedua pemain itu.

Sejak saat itu, prestasi mereka seakan tak terbendung. Prestasi paling bersejarah tentu pada musim 1998/99, 'Class of ’92' menjadi tulang punggung United saat menyabet treble, menjadi klub Inggris pertama yang mampu menjuarai Liga Primer, Piala FA, dan Liga Champions.