Sejarah Hari Ini (19 Juni): Inspirasi Hat-Trick Michel Platini

Michel Platini mencetak hat-trick secara beruntun dalam mengawali sukses Prancis menggondol trofi juara Euro 1984.

Prancis menuai sukses dengan menjadi yang terbaik dalam Kejuaraan Eropa 1984 yang dipentaskan di kandang sendiri dan kapten Michel Platini bersinar sepanjang turnamen.

Platini selalu mencetak gol dalam setiap penampilan. Total sembilan gol dikumpulkannya sekaligus menjadi topskor turnamen. Tujuh di antaranya tercipta di fase grup dan dua kali ia mengemas hat-trick.

Prancis mengawali turnamen dengan kemenangan tipis atas Denmark, 1-0, di Stadion Parc des Princes, Paris. Perjalanan berjalan ketat dan diwarnai pula dengan cedera patah kaki pemain Denmark, Allan Simonsen. Pada laga kedua di Stade de la Beaujoire, Nantes, Prancis menggunduli Belgia. Platini mencetak hat-trick dan dua gol sisanya disumbangkan Alain Giresse serta Luis Fernandez.

Kemudian, pada 19 Juni 1984, Prancis kembali harus berterima kasih kepada sang kapten. Tertinggal lebih dahulu akibat gol Milos Sestic di babak pertama, Platini menjaringkan tiga gol dalam rentang waktu 18 menit di pertengahan babak kedua. Prancis pun sukses membekuk Yugoslavia, 3-2.

Yugoslavia saat itu sudah dipastikan tersisih, tetapi tetap memberikan perlawanan yang ketat. Prancis sendiri tengah berada dalam periode keemasan dengan kekuatan utama bertumpu pada lini tengah. Komposisi lini tengah itulah yang membuat Platini bebas bergerak mencetak gol di lini serang.

Gol pertama Platini ke gawang Yugoslavia tercipta setelah memanfaatkan umpan silang Jean-Marc Ferreri. Tiga menit kemudian, menit 62, Platini memberikan keunggulan bagi Les Bleus dengan memaksimalkan umpan Patrick Battiston. Gol ketiga Platini dalam pertandingan tersaji lewat ciri khasnya, eksekusi tendangan bebas ke pojok gawang.

Dua kali hat-trick beruntun ini tak pernah bisa disamai pemain mana pun dalam sejarah putaran final Kejuaraan Eropa atau Euro. Rekor sembilan gol Platini pun masih bertahan sampai sekarang. Belum ada bintang Eropa lain yang mampu melampaui atau bahkan sekadar menyamainya.

"Pada 1984, saya satu-satunya pemain Prancis yang bermain di luar negeri," cerita Platini kepada laman resmi UEFA.

"Gelar itu gelar resmi pertama yang dimenangkan Prancis di cabang olahraga tim, jadi itu menjadi momen besar bagi sepakbola Prancis dan bagi olahraga Prancis secara keseluruhan."

"Saya tidak merasa saat itu saya berada di puncak karier karena jika ingin bertahan di puncak, Anda harus bertahan lama. Tapi itu satu-satunya turnamen ketika saya tidak mengalami cedera. Piala Dunia 1982 saya cedera, ada masalah paha, dan pada 1986 saya juga cedera. Pada 1984 saya tidak cedera dan saya bisa tampil di puncak permainan."

Prancis kemudian melaju ke semi-final. Perlawanan Portugal memaksa pertandingan berjalan hingga perpanjangan waktu hingga akhirnya, lagi-lagi, Platini menjadi penentu lewat gol pada menit ke-119. Prancis menang 3-2.

Di laga puncak, Prancis mengalahkan Spanyol 2-0. Platini membuka gol pada menit ke-57 setelah tendangan bebasnya gagal dikuasai kiper Luis Arconada. Prancis pun juara dengan memenangi setiap pertandingan yang dijalani sepanjang putaran final.

Sukses 1984 menjadi tonggak keberhasilan Prancis menjadi juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.