Sejarah Hari Ini (19 Mei): Didier Drogba Permalukan Bayern Munich

Sundulan sang bomber Pantai Gading menjelang bubaran plus keberhasilannya menjadi eksekutor penentu di babak adu penalti memberikan kepedihan berlipat di kubu The Bavarians.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Ada dua kemungkinan yang terjadi jika Bayern Munich lolos ke final Liga Champions. Yang pertama, mereka menjadi juara – tentu saja. Dan yang kedua, mereka menjadi runner-up dengan bumbu tambahan: kalah secara nyesek alias pahit!
Sepanjang sejarah, raksasa Bundesliga Jerman itu sudah lolos sepuluh kali ke final Liga Champions dengan catatan berimbang, yakni menang lima kali dan kalah lima kali, atau hanya punya rasio 50 persen. Ini tidak terlalu bagus, tapi juga tidak buruk-buruk amat. Namun, yang membuat jelek adalah melihat bagaimana The Bavarians tersungkur dari lawan-lawannya di partai puncak kompetisi terelite Eropa itu.
Lihat saja, selepas merajai Eropa di medio 1970-an, Bayern lolos ke final 1981/82 dan 1986/87, berturut-turut menghadapi lawan yang kurang diunggulkan, Aston Villa dan Porto. Sayang, Bayern malah takluk. Yang paling menyesakkan terjadi di musim 1998/99 di mana mereka kebobolan dua gol injury time oleh Manchester United sehingga membuat skor berbalik 2-1. Kesialan berlanjut di musim 2009/10, kali ini Bayern yang tampil dominan harus mengakui keunggulan pragmatisme menawan dari Internazionale.

Namun, final tak kalah menyakitkan terhampar pada musim 2011/12. Ketika itu, Bayern berhasil melenggang mulus ke partai puncak yang menariknya digelar di kandang mereka sendiri, Allianz Arena. Bayern berhadapan dengan Chelsea dalam final yang digelar pada 19 Mei 2012, persis tiga tahun yang lalu.
Segalanya berlangsung lancar seiring Bayern besutan Jupp Heynckes mampu mengontrol jalannya pertandingan sejak kick-off. Kebuntuan baru terpecahkan di menit 83 ketika Thomas Muller menanduk umpan silang Toni Kroos. Akan tetapi, di saat publik tuan rumah siap berpesta, Didier Drogba sukses menanduk sepak pojok Juan Mata untuk menyamakan skor saat laga tinggal menyisakan dua menit.
Laga pun diteruskan dengan babak perpanjangan waktu seiring drama juga terus berlanjut. Drogba melanggar Franck Ribery di kotak terlarang dan Bayern memperoleh penalti. Sialnya, sepakan penalti Arjen Robben terlalu lemah sehingga Petr Cech dengan mudah mengantisipasinya. Mau tak mau, laga ketat ini harus berakhir dalam babak adu penalti.
Bayern mengawalinya dengan baik sebagaimana tiga eksekutor mereka mampu menceploskan bola ke gawang Chelsea. Adapun The Blues tertekan setelah tembakan Juan Mata berhasil ditepis Manuel Neuer. Akan tetapi, keadaan berbalik setelah penendang keempat dan kelima Bayern, Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger, gagal menunaikan tugasnya. Skor masih 3-3 dan tiba saatnya bagi Drogba, sang eksekutor terakhir.
Tanpa memedulikan siulan dari tribun penonton yang dipadati fans Die Roten, Drogba melaju percaya diri bagaikan seorang pemberontak tangguh yang siap merubuhkan sang raja otoriter yang sudah dalam posisi terpojok. Bidikannya tak meleset dan Neuer berhasil ia kelabui. Kubu The Blues bersorak gembira menyambut lesakan bersejarah dari sang striker Pantai Gading. Ini adalah titel Eropa pertama bagi Chelsea.
Sementara itu, muka merah pucat terlihat jelas di kubu seberang. Philipp Lahm dkk. jatuh kelimpungan di tengah lapangan. Beberapa pemain ada yang menangis. Para fans ikut terdiam dalam duka, mengetahui tim kesayangan mereka dipermalukan secara menyakitkan di kandang. Kendati demikian, tetap ada hikmah dari sebuah musibah. Musim berikutnya, The Bavarians berhasil membayar kesalahan mereka dengan menjuarai Liga Champions 2012/13 untuk menandai treble bersejarah.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.