Sejarah Hari Ini (21 Juni): Sepakbola Yes, Politik No!

Di tengah hubungan panas kedua negara, timnas AS dan Iran melakoni salah satu partai paling kental nuansa politisnya dalam sejarah sepakbola.

Olahraga dan politik adalah dua ranah yang berbeda. Keduanya memang tidak bisa sepenuhnya dipisahkan, namun jika dua dunia yang berlawanan itu menyatu terlalu erat maka hanya kekacauan yang didapat. Contoh terdekat ada pada sepakbola di negeri kita, Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir begitu chaos akibat konflik kepentingan kaum elite. Maka dari itu, FIFA sangat keras dalam melarang pemerintah ikut campur dalam urusan sepakbola negerinya.

Namun, hubungan antara olahraga dan politik dalam dunia sepakbola tidak pernah sepanas 17 tahun lalu ketika Amerika Serikat (AS) berhadapan dengan Iran di fase grup Piala Dunia 1998. Walau ini adalah laga sepakbola yang menjunjung tinggi semangat olahraga, tidak bisa dimungkiri semua orang ketika itu lebih banyak membicarakan hubungan politik kedua negara yang teramat tegang.

Semuanya bermula pada 19 tahun sebelumnya ketika muncul revolusi anti-AS di Iran. Hubungan diplomatik kedua negara terputus sejak saat itu. AS bahkan sempat melakukan serangan militer ke Iran pada 1988 sebelum presiden Bill Clinton menetapkan embargo bagi Iran dua tahun kemudian.

Oleh karena itu, ketika AS dan Iran terundi dalam satu grup Piala Dunia 1998 di Grup F, pihak penyelenggara sangat berhati-hati agar laga kedua tim di Stade Gerland, Lyon pada 21 Juni 1998 itu berlangsung tertib dan aman layaknya pertandingan kompetitif pada umumnya.

Rencana untuk melangsungkan laga secara normal tersebut berhasil. Walau begitu, pihak penyelenggara pertandingan harus melakukan tindakan kompromi dan pencegahan, misalnya menempatkan banyak polisi untuk mencegah invasi penonton ke lapangan, meminta juru kamera televisi agar tidak menyorot ke spanduk bermuatan politis di dalam stadion, dan lain sebagainya.  

Beruntung, para pemain kedua tim sama sekali tidak menunjukkan hubungan panas layaknya situasi politik kedua negara mereka. Malah, mereka berfoto bersama, merangkul satu sama lain, dan bertukar bunga. Sebuah adegan yang membuat banyak orang mungkin berteriak, “Sepakbola yes, politik no!”

Laga itu sendiri berjalan sesuai harapan bagi Iran setelah mereka mampu membuka keunggulan di menit 40 melalui Hamid Estili sebelum mampu memperbesar skor di menit 84 via Mehdi Mahdavikia. Brian McBride akhirnya mencetak gol hiburan bagi AS untuk membuat skor berakhir 2-1 untuk kemenangan Iran.

Itu adalah kemenangan perdana Iran di Piala Dunia yang meledakkan sukacita di negeri mereka. “Banyak orang berdansa di jalanan Teheran, meminum alkohol, dan para wanita melepas kerudung mereka. Rezim Iran lumayan takut melihat tindakan rakyatnya ini,” demikian yang dituturkan oleh Mehrdad Masoudi, media officer FIFA di laga tersebut.

Sayang, kedua tim harus kalah di laga selanjutnya sehingga terpaksa tersingkir dari fase grup. Namun laga di Lyon tersebut tetaplah menjadi laga bersejarah yang membuktikan bahwa sepakbola mampu meredam ketegangan politik antarnegara. “Kami hanya butuh 90 menit untuk bekerja lebih baik ketimbang para politisi dalam 20 tahun terakhir,” tutur bek AS, Jeff Agoos, ketika itu

 

Topics
, Iran,