Sejarah Hari Ini (21 September): Wasit Kontroversial Byron Moreno Kena Getahnya

Masih ingat dengan Byron Moreno? Lima tahun lalu wasit asal Ekuador ini menerima balasan atas kepemimpinannya yang lekat dengan nuansa kontroversial.

Nasib tim nasional Italia di Piala Dunia 2002 silam merupakan sebuah ironi. Bagaimana tidak, tim asuhan Giovanni Trapattoni datang dengan status sebagai tiga tim paling yang paling diunggulkan di turnamen.

Mereka memiliki liga terbaik di dunia kala itu dalam wujud Serie A Italia dan skuatnya dijejali bintang papan atas sepakbola, yang bahkan namanya tak ada yang tak diketahui publik. Namun apa yang kemudian terjadi sungguh di luar prediksi.

Italia melalui babak fase grup dengan susah payah. Padahal Paulo Maldini cs hanya harus bersaing dengan tiga kuda hitam, yakni Kroasia, Meksiko, dan tim debutan, Ekuador. Mereka kemudian tersisih begitu dini di babak perdelapan-final, oleh tim yang tak pernah diduga, yakni sang tuan rumah Korea Selatan!

Bukan, bukan lantaran Italia tampil buruk di turnamen tersebut atau kurang beruntung. Tapi keputusan kontroversial wasit-lah yang membuat mereka menderita di Korea/Jepang.

Mulus di partai perdana dengan menundukkan Ekuador 2-0, keanehan mulai terjadi di laga kedua hadapi Kroasia. Gol bersih Christian Vieri dan Filippo Inzaghi ke jala Stipe Pletikosa dianulir. Italia pun akhirnya kalah 2-1.

Italia bahkan nyaris tak lolos di laga hidup-mati kontra Meksiko, manakala kejadian serupa menimpa Vicenzo Montella dan Inzaghi kembali. Untungnya gol Alessandro Del Piero yang menyeimbangkan kedudukan 1-1, berhasil meloloskan Italia ke babak knock-out.

Namun justru di fase itulah segala kontroversi memuncak, dengan aktor utamanya adalah sang wasit laga, Byron Moreno, yang sekaligus mengakhiri harapan Italia mengukir gelar juara dunia keempat.

Moreno memimpin laga yang berjalan selama 117 menit dengan cara yang sangat buruk. Ia memulainya dengan menghadiahi Korea penalti mengherankan di menit kelima, kendati tak ada kontrak serius yang terjadi.

Moreno kemudian melanjutkannya dengan membiarkan Korea bermain kasar secara membabi buta. Inisden tendangan ke kepala Maldini oleh Sang-Chul Yoo, sikutan telak Jin-Cheul Choi pada wajah Del Piero, dan tekel keras dari arah belakang yang dilakukan Nam-Il-Kim terhadap Gianluca Zambrotta, tak satu pun dinilai sebagai pelanggaran oleh sang pengadil laga.

Pada babak perpanjangan waktu Morena konsisten menelurkan keputusan kontroversi. Ia menganulir gol on-side Damiano Tommasi dan melegenda adalah ketika dirinya menuduh Francesco Totti melakukan diving di kotak penalti, pada ment ke-103. Padahal tayangan ulang jelas-jelas memperlihatkan jika Er Pupone memang dilangar keras oleh Tae-Young Kim.

Pangeran Roma itu kemudian mendapat kartu kuning kedua dan Italia yang bermain dengan sepuluh orang akhirnya kalah 2-1 oleh golden goal Ahn Jung-Hwan, di menit 117.

Kabar awal yang setelahnya berkembang menyebut jika Moreno memang sengaja menyudutkan Italia, karena dendam timnas negaranya, Ekuador, dikalahkan Tim Biru Langit di turnamen tersebut hingga akhirnya tak lolos babak grup.

Empat bulan setelah tragedi tersebut, Moreno kembali menyita publik dunia dengan mencatatkan rekor injury time terlama. Dalam duel liga lokal Ekuador antara Liga de Quito dan Barcelona Guayaquil, ia membuat laga yang harusnya hanya memiliki injury time enam menit menjadi 13 menit!

Lamanya waktu injury time membuat Barcelona Guayaquil yang kala itu unggul 3-2 hingga menit ke-96, jadi kalah 4-3. Liga de Quito sukses membalikkan kedudukan menjadi berkat dua gol mereka yang lahir di menit 98 dan 101. Federasi sepakbola Ekuador lantas menghukum Moreno tak boleh memimpin pertandingan selama 20 kali.

Jadi hujatan publik sepakbola dunia dan publik negara sendiri, membuat Moreno semakin terpuruk. Dirinya pun akhirnya terjun ke dunia hitam, dengan berkecimpung dalam transaksi obat-obatan terlarang.

Hal itu diketahui setelah pada 21 September 2010 atau tepat lima tahun lalu di bandara JFK New York, Amerika Serikat. Moreno kedapatan membawa enam kilogram heroin yang terikat di badannya. Akibat ulahnya, ia kemudian dihukum selama dua setengah tahun penjara, yang diremisi menjadi dua tahun.

"Saya pikir Moreno sudah membawa heroin itu di tahun 2002, tidak di pakaiannya namun di dalam badannya. Soal itu saya cuma bercanda. Namun ketika dalam olahraga ada orang-orang yang terlibat dengan kasus obat-obatan terlarang maka itu adalah sesuatu terburuk," tutur Gianluigi Buffon, yang akhirnya kesampaian membawa Italia juara dunia pada edisi 2006.

 

Topics