Sejarah Hari Ini (24 Desember): Masih Ingat Marcelo Salas?

Topics

Tepat 40 tahun lalu lahir salah satu bakat terbaik dalam sejarah sepakbola Chili bernama Marcelo Salas.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR

Anda masih ingat Marcelo Salas? Ya, ketika beberapa di antara Anda selalu mengidentikan sepakbola Chili dengan Ivan Zamorano, maka sebagian lainnya akan menyebut nama Salas. Sosok striker dengan kecepatan dan tembakan luar biasa itu merupakan salah satu legenda terbesar Land of Poets.

Tak terasa karena kini sosok berjuluk El Matador itu genap merayakan hari jadinya yang ke-40 tahun. Deretan cerita pahit dan manis di dunia sepakbola yang mencuatkan namanya pun lekat mengiringi. Merintis karier di akademi sepakbola distrik kelahirannya, Temuco, karier gemilang Salas dimulai saat dirinya pindah ke ibu kota, Santiago, untuk bergabung dengan Universidad de Chile, pada usia 11 tahun. Melakoni debut profesional pada 4 Januari 1994, Salas kemudian jadi bintang di klub tersukses Chili itu dengan mempersembahkan sepasang gelar juara Liga Primer Chili.

Berkat kegemilangannya, nama Salas lantas terkenal di seantero Amerika Selatan. Klub legendaris asal Argentina, River Plate, kepincut dan memboyongnya pada 1996 dengan banderol €2,7 juta. Kepindahannya dikritisi karena River dinilai sudah memiliki sosok striker pembunuh dalam diri Julio Ricardo Cruz. Selain itu legenda Tango, Diego Maradona, juga mengecamnya karena lebih memilih sang rival ketimbang Boca Juniors, sebagai klub pertama yang melempar tawaran.

Namun Salas membungkam segala hujatan dengan prestasi. Dalam dua musim ia tampil 67 kali lewat torehan 31 gol. Catatan itu sudah cukup mengantarkan Los Millionarios mencomot gelar juara Clausura 1997, Arpetura 1997, dan Supercopa Sudamericana 1997.

Salas mencapai puncak karier bersama Lazio

Berkat torehannya, Salas pun jadi langganan timnas Chili sejak memulai debut pada 1994. Namanya lantas disertakan sang pelatih, Nelson Acosta, pada Piala Dunia 1998. Salas tampil sensasional dalam turnamen akbar tersebut. Ia sukses mengantarkan La Roja ke babak perdelapan-final dengan torehan empat gol dari jumlah partai yang identik.

Dunia kemudian mengenalnya, termasuk manajer Manchester United kala itu, Sir Alex Ferguson. Salas jadi sosok paling laris di lantai transfer musim panas 1998 dan terus dihubungkan dengan kubu Setan Merah. Namun jelang kepergiannya ke Old Trafford, Lazio datang lewat tawaran mencengangkan, sebesar €17,5 juta. Bisa ditebak, Shileno pun terbang ke Roma dan mencapai puncak kariernya.

Lebih dikenal sebagai sosok supersub, Salas panen gelar bersama Gli Aquilotti dengan enam gelar, meliputi Serie A Italia, Piala Italia, dua Piala Super Italia, Piala Winners, dan Piala Super Eropa. Khusus untuk gelar yang disebut terakhir, Salas jadi sosok paling dikenang seluruh Laziale berkat gol semata wayangnya ke gawang Manchester United.

Malang melintang di Lazio, pada musim panas 2001 Salas kemudian mencatatkan rekor sebagai pemain termahal Chili dengan kepindahannya ke Juventus, lewat banderol €25 juta. Namun justru di Turin-lah masa terburuk di sepanjang karier penyuka sepatu hitam itu hadir. Cedera ligamen merenggut tempatnya dari skuat utama. Bertahan selama dua musim, Salas hanya mampu tampil 26 kali dengan torehan empat gol. Kegagalannya saat mengeksekusi penalti dalam Derby della Mole di musim 2001/02, jadi momen paling dikenang Juventini ketika menyebut nama "Salas".

Salas kemudian kembali ke River Plate untuk mengulang masa jayanya. Sayang, ligamen kembali jadi hambatan utamanya. "Saya sungguh sedih karena kini jadi pemain yang rentan cedera. Mungkin masalah ini bisa membuat saya pensiun dini," ungkap Salas, sebelum memutuskan balik ke klub profesional pertamanya, Universidad de Chile, pada 2005.

Spekulasi terus berkembang akan keputusan Salas gantung sepatu, yang akhirnya jadi kenyataan pada 2008. Salas pensiun di usia yang relatif muda, 33 tahun. Ia memainkan laga eksebisinya di Chili pada 2 Juni 2009, dengan menghadiri eks rekannya di timnas Chili Piala Dunia 1998, Universidad de Chili, River Plate, Lazio, dan Juventus. Kebesaran El Matador tergambar nyata dengan kehadiran 50 ribu penonton dalam laga perpisahannya tersebut.